
"Jangan lupa kerja kelompoknya nanti di rumah gue! Jangan pulang-pulang langsung salaman sama bantal lu," celetuk Selen, memperingatkan Bayu dan Arumi yang pergi ke arah yang berlawanan dengan dirinya dan Indah.
"Iya bawel!" balas Bayu, sedikit kesal melihat Selen yang tak berhenti meledeknya dari tadi.
Arumi hanya tersenyum, menertawakan Bayu dengan sopan. Tapi hak itu malah membuat Bayu semakin kesal di buatnya.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja kali Rum! Gak pakek ada acara sok jaim. Lo malah buat gue dendam sama lo," pekik Bayu, kesal.
Setelah mendengar wejangan seperti itu, Arumi langsung tertawa terbahak-bahak dan membuat beberapa orang memandangnya dengan tatapan ampun.
"Nah, gitu aja sekalian! Sekalian gue tinggal maksudnya," celetuk Bayu, membuat tawa Arumi menghilang seketika.
"Dih, giru amat lo Bay. Gue kan canda aja. Gak usah serius gitu dong. Entar ganteng lo hilang loh," pekik Arumi, kembali membuat Bayu jengkel.
"Astaga, lama-lama gue tinggal benaran lo!" pekik Bayu, menyalakan motor dan hendak meninggalkan Arumi di sana.
Arumi menarik serangan Bayu bagian lengan, membuat lelaki itu berhenti dan menoleh padanya dengan tatapan kesal.
"Jangan ngambek, Bay. Gue bercanda aja!" ucap Arumi, naik ke atas boncengan Bayu.
Lantas saat mereka berdua hendak berhenti, kedua tatapan Arumi dan Bayu jatuh pada beberapa lelaki yang seangkatan mereka, tengah ribut di parkiran.
"Kenapa lagi tuh si Rey?!" celetuk Bayu, mematikan mesin motornya dan malah turun dari motor untuk menghampiri Rey dan kawan-kawannya di sana.
Alhasil, Arumi pun ikut bersama dengan Bayu pergi ke sana. Melihat apa yang tengah di ributkan 4 orang remaja itu.
"Kenapa lo Rey?" tanya si Bayu, melihat keadaan kaki Rey yang tampaknya masih belum mendapatkan pengobatan.
"Ini Bay, kaki Rey masih belum baikkan. Lah, gue sama yang lainnya lagi kagak bisa anterin karena ada agenda dadakan. Jafi kita pada bingung minta Rey pulangnya gimana," jelas Adam, salah satu teman dekat Rey.
"Naik ojek aja kenapa? Motornya tinggal di sini," celetuk Arumi, memberikan solusi yang masuk akal.
"Kagak bisa, Rum. Motornya mau di pakek sama Emak gue. Mangkanya, dari tadi gue kagak pulang-pulang," jelas Rey, menghela napas kasar beberapa kali.
__ADS_1
Arumi menghela napas kasar dan mendongak, memandang ke arah langit yang mulai sedikit mendung dan tercium aroma hujan.
"Bentar lagi hujan nih," gumam Arumi, sebelum memandang pada teman-temannya yang masih kesulitan.
"Gini deh, lo kuat tahan sakit gak Rey?!" tanya Arumi, membuat perhatian Rey tersita padanya.
"Lumayan mau ngapain lo?" tanya Rey, tiba-tiba melihat Arumi mendekatinya dan berjongkok tepat di depan kakinya yang terkilir.
"Duduk lo Rey!" celetuk Bayu, mendorong Rey agar duduk di jok motornya, karena dia mulai paham dengan apa yang akan di lakukan Arumi sekarang.
"Eh ... eh ... lo mau ngapain, Rum?!" pekik Rey, melihat Arumi yang mulai menggenggam kakinya yang terkilir dengan kedua tangannya.
"Dah, diam aja lu. Pokoknya tahan sakit ya!" celetuk Arumi, mulai sedikit memutar pergelangan kaki Rey perlahan-lahan sebelum-
KRAK!
"Anjirrr!!!" teriak Rey, dengan sekuat tenaga sambil memegang kaki kanannya, yang baru saja diputar oleh Arumi.
"Aduh Rum ... sadis banget lo sama teman sendiri! Bisa-bisa nyala jahat banget sama gue. Padahal gue lagi polos dan tidak berdosa apa-apa sama lo hari ini," celetuk Rey, masih setia dengan rengekkannya.
"Jangan bawel! Coba lo gerakin kaki lo. Pasti udah sembuh tuh," celetuk Arumi, dengan suara sedikit keras agar Rey yang sudah memiliki jarak cukup jauh darinya, bisa mendengar suaranya.
Rey memutar pergelangan kakinya yang sakit, dan ternyata benar. Kakinya sudah tidak kenapa-napa. Sembuh begitu saja setelah Arumi melakukan hal gila padanya.
"Alhamdullilah udah keluar juga masalah lo. Kalau gitu, gue sama yang lain pergi dulu ya? Gue takut ketua kelompok gue marah gara-gara gue telat," ucap Adam, buru-buru mengajak Adrian pergi meninggalkan Rey dan Hafiz.
"Yoi, hati-hati di jalan!" ucap Hafiz, sambil memperhatikan keduanya berlari meninggalkan gedung sekolah mereka.
"Nah, sekarang lo udah bisa gua mau tersendiri kan? Kalau gitu gue juga mau cabut. Udah di tungguin Mama nih, tadi dia minta di anterin ke pasar," ucap Hafiz, pergi ke arah motornya yang terparkir tepat di sebelah motor Rey.
Rey mengangguk paham dan naik ke atas motornya juga. "Gue juga mau cabut nih. Tadi Emak gue minta dibelikan tepung terigu."
Alhasil, Hafiz dan Rey berpisah jalan dan mereka semua pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
***
Arumi sedang berusaha menghafalkan rumus matematika yang tidak pernah bisa masuk ke dalam otaknya.
Entah kenapa dia selalu pandai menghitung ataupun menghafal orang-orang yang sering berhutang padanya. Tapi kenapa dia tidak pandai menghitung ataupun menghafal rumus dalam matematika? Kenyataan yang aneh untuk 2 hal yang sebenarnya sama-sama bersangkutan dengan angka, bukan?!
Arumi mendengus kesal dan menoleh ke arah Nando, kakak lelakinya yang tidak sengaja lewat di depan kamar dengan membaca buku novel.
"Bang!" teriak Arumi, membuat lelaki itu menghentikan langkah tepat di depan ambang pintu kamar Arumi.
"Napa??" tanya Nando, membuka pintu kamar adik perempuannya dan masuk ke dalam sana.
"Kenapa?" tanya Nando, berdiri di samping Arumi dan sama-sama memandang ke arah meja belajar Arumi. "Kagak bisa ngerjain ini?" tanyanya.
Arumi mengangguk mantap dan mengulas senyuman masam. "Kerjakan dong, Bang. Gue kagak paham sama sekali, hehe. Mata gue juga udah kantuk banget. Kerjakan dong, ya?!" pintanya, dengan menunjukkan ekspresi wajah sok imut.
Nando memutar bola matanya malas dan hendak pergi meninggalkan kamar adik perempuannya.
"Ehhhh ... iya, iya enggak usah di kerjakan. Ajarin gue aja, ajarin!" teriak Arumi, menghentikan langkah kakak lelakinya tepat di saat Nando hampir melewati pintu.
Nando memutar balik langkahnya dan kembali masuk untuk mendekati Arumi. "Nah ... gitu dong. Minta diajarin! Bukan minta di kerjakan. Lo kira gue babu lo apa?!" pekiknya.
Nando mengambil sebuah pulpen dan mulai memberikan beberapa arahan kepada Arumi, agar gadis itu bisa mengerjakan soal-soal di buku tersebut.
Setelah beberapa saat menjelaskan. Nando meletakkan bolpoinnya, dan menoleh ke arah adik perempuannya yang sudah tertidur dengan posisi duduk tegak.
Nando menghela napas kasar dan mengguncang tubuh Arumi sampai gak di situ terbangun dengan cara terkejut.
"Waaahhh ... apaan?!" teriak Arumi, menoleh ke samping dan melihat wajah Nando yang sudah menunjukkan ekspresi datar.
Melihat itu, tentu saja Arumi langsung mengulas senyuman masam dan meminta maaf pada sang kakak. "Hehehe ... maaf, Bang. Habisnya gue capek sih, hehehe ...."
Nando kembali mendengus kasar dan mengambil bolpoinnya. "Lihat ke sini! Awas aja gue tahu lo tidur lagi. Gue siram pakai air es lo!" pekiknya, tampak serius.
__ADS_1
"Tega banget," cibir Arumi, bergumam kesal.
Arumi tak bisa melakukan apa pun dengan sang Kakak yang mulai menjelaskan kembali dan kin Arumi mulai menyimaknya dengan serius walaupun tetap tidak paham dengan apa yang jabarkan dan di terangkan oleh Nando.