
Arumi berjalan keluar dari kelas dan langsung menuju gerbang. Dia tidak ditemani oleh siapa pun, karena kedua temannya sudah ada janji dengan kelas lain untuk mengerjakan tugas ekstrakurikuler mereka, sementara Arumi berencana langsung pulang ke rumah untuk istirahat, karena dia merasa sangat lelah hari ini.
Pada pelajaran berlangsung seperti biasanya. Tapi Arumi benar-benar merasa lebih lelah dari biasanya.
Apa ini efek habis sakit? Atau karena dia memang tidak bersemangat sejak pagi? Mangkanya, dia merasa kalau hari ini sangat berat?!
Baru keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba dia melihat sekelompok anak kuliah yang tampaknya tidak asing untuk dirinya.
Alih-alih menyapa mereka, Arumi malah menghindari mereka dan membaur dengan para siswa untuk bersembunyi dari mata teman-teman kuliah Nando itu, agar dia bisa pergi dengan aman.
Syut!
Tangan kiri Arumi di tarik ke samping oleh seseorang dan dia di bawa pergi dengan cepat dari tempat tersebut.
Arumi menatap Rey yang menariknya untuk mengikuti langkahnya pergi ke arah parkiran sepeda motor.
"Rey, pelan-pelan. Gue capek sumpah!" ucap Arumi, membuat langkah Rey tiba-tiba melambat dan menyesuaikan ritme langkah Arumi.
"Lo, kenapa kabur dari abang lo? Jangan-jangan yang gue bilang di rumah sakit itu benar, ya? Kalau Bang Nando ada apa-apa sama cewek itu," ucap Rey, memberikan sebuah helm kepada Arumi dan membuat gadis itu merasa aneh dengan sikapnya yang semakin lama semakin baik kepadanya.
Walau mereka sudah memutuskan untuk tidak bertengkar atau saling menyalahkan tentang Bima, tapi sikap baik seperti ini sudah keterlaluan, kan?
Apa jangan-jangan Rey sengaja membuat mereka semakin dekat agar orang-orang menyebarkan gosip yang tidak hanya sekedar gosip?
Akhir-akhir ini saja Arumi sering melihat anak kelas lain berbisik-bisik saat dia lewat di depan mereka karena kedekatannya dengan si Rey ini.
"Bentar! Tunggu sebentar." Arumi menghentikan segala pergerakan Rey. "Ini!" Arumi mengangkat helm yang di berikan Rey kepadanya. "Kenapa lo kasih gue ini? Lo minta gue ikut sama lo pergi??" tanya Arumi, to the point.
Dan lawan bicaranya juga melakukan hal yang sama. Rey mengangguk mantap dan menatap Arumi dengan tatapan lurus yang terkesan serius.
__ADS_1
"Iya, gue minta lo ikut sama gue." Rey melihat ke arah belakang dan memandang beberapa kerumunan anak kuliah yang tadi sempat menunggu di depan sekolah, ini mulai memasuki area parkiran sambil mencari-cari seseorang.
"Mau ikut gue, atau ketahuan sama anak-anak itu?" tanya Rey, memberikan ponsel yang kameranya sudah di nyalakan agar Arumi bisa melihat apa yang ada di belakang sana tanpa mengharuskan dia menoleh.
Arumi membulatkan matanya dengan sempurna. "Ihh ... ayo pergi. Kenapa gue jadi merasa kayak buronan gini sih?! Padahal gue enggak salah apa-apa loh. Sebenarnya apa maunya Nando? Gue gak menyangka kalo dia merencanakan rencana seperti ini."
Arumi segera naik ke atas boncengan Rey agar mereka berdua bisa segera pergi dari sana. Dan menghindari anak-anak kuliah itu.
"Weh ... itu bukannya adiknya Nando?! Yang dibonceng keluar itu," ucap salah satu teman di antara beberapa anak itu, menunjuk ke arah Rey dan Arumi yang melenggang pergi dengan motor secepat mungkin.
Di sana, jantung anak remaja itu benar-benar berdebar karena saking takutnya dikejar oleh anak-anak kuliahan tersebut.
Tapi untungnya, Rey berhasil meloloskan diri karena dia langsung menerobos jalan tikus yang tidak diketahui banyak orang.
Rey melaju dengan kecepatan pelan karena kondisi mereka sudah aman. "Kita mau ke mana nih? Mau langsung pulang atau mampir dulu? Kalau langsung pulang, gue takutnya ada kakak lo yang tunggu di depan gang masuk perumahan. Jadi gimana?" tanyanya, menulis ke arah belakang dan melihat Arumi yang terlihat sangat gelisah.
Arumi menghela napas kasar dan segera mencari tempat tujuan agar mereka bisa berhenti. "Kita makanan aja deh. Bagaimana kalau tempat ini? Gue belum pernah ke sini, tapi kayaknya tempatnya bagus banget," ucapnya, menunjukkan sebuah foto rumah makan kepada Rey.
"Gak kurang jauh lo kasih saran? Ini jauh banget, Rum. Lo benaran mau ke sini?" Rey menatap lawan bicaranya yang tampak serius dan polos. "Sama gue? Ini kayak tempat orang pacaran loh, Rum. Lo yakin mau ke sini sama gue? Benar-benar yakin??" tanyanya, seakan sangat tidak mempercayai pilihan Arumi.
Arumi mengangguk dan kepalanya antusias. "Iya ... gue mau ke sana! Udah ayo buruan. Kalau jauh, ya udah cepetan jalan biar enggak kemalaman. Lo udah tahu jauh, tapi malah di tunda-tunda sama pertanyaan gak jelas lo! Udah ayo, buruan perangkat ah!" celetuknya, terkesan memaksa.
Alhasil, mereka berdua berangkat menuju tempat yang di minta Arumi. Dan benar saja, tempatnya memang sangat banyak orang pacaran dan sangat ramai.
Rey memarkirkan motornya dan langsung melihat ke jam tangan yang di kenakan. "Ini udah jam 05.00 sore. Kita bahkan baru sampai! Belum pesan makanan belum antre juga. Lo yakin mau makan di sini? Mau pulang jam berapa??" tanyanya, sudah menginterogasi.
Arumi yang ditanya seperti itu malah mengangkat bahunya acuh dan segera masuk ke dalam untuk mengantre.
Rey mengusap rambutnya kasar ke belakang dan segera mengikuti langkah Arumi yang sudah meninggalkannya.
__ADS_1
"Cewek kayak gini yang lo suka ya, Bim?! Bawel banget sumpah," celetuk Rey, mendengus kasar beberapa kali.
***
Pukul 10.00 ....
Arumi baru pulang dan langsung di antar Rey ke rumah, di tunggu juga masuknya ke dalam rumah.
Rey benar-benar menunggu Arumi di depan gerbang sampai 5 menit setelah gadis itu masuk ke rumah, baru dia pergi.
Yah, sikap itu hanya karena Rey ingin memastikan Arumi tidak mendapatkan masalah saja.
Dan setelah di rasa aman, Rey pun pergi dari rumah tersebut dan pulang ke rumahnya.
Sementara di dalam rumah Arumi, dia terlihat syok dengan perabotan yang berserakan di mana-mana dan beberapa vas bunga juga ada yang pecah dan pecahan kacanya berhamburan di lantai.
Bagas kelihatannya masih baru pulang sekolah. Dia yang masih menggunakan seragam, langsung membantu Mama mereka untuk membersihkan rumah.
Sementara Arumi tidak melihat keberadaan sang Ayah di dalam sana.
"Gas, ini kenapa?" tanya Arumi, menangkup wajah Bagas yang terdapat beberapa luka lebam di wajahnya. Seperti luka yang di dapat dari perkelahian.
Bagas menepis tangan Arumi lembut dan menghela napas panjang. "Besok lo juga bakal tahu," jawabnya, penuh dengan teka-teki.
Arumi menoleh pada sang Ibu dengan tatapan bingung.
Tapi Mama Ika malah tersenyum lembut padanya. "Ganti baju terus bantu kita beres-beres ya, Nak."
Arumi hanya bisa mengangguk, menurut dengan permintaan Ibunya dan berjalan masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya, Ma."