Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 22


__ADS_3

Arumi masuk ke dalam kelas dan melihat 3 temannya yang sudah memandangnya dengan tatapan penuh curiga.


Tapi dengan tenang Arumi berjalan ke bangkunya, melewati beberapa teman kelasnya yang lain, yang juga memandang Arumi dengan tatapan serupa.


Mungkin karena kejadian Rey yang menggandengnya tepat terjadi di depan kelas mereka, jadi bukan hanya teman-teman satu grupnya saja yang tahu. Tapi mungkin semua orang yang ada di kelas saat itu juga mengetahuinya.


"Lo ngatain gue sama si Bayu ada apa-apa. Sekarang gue mau tanya sama lo. Jangan-jangan yang ada apa-apa itu lo sama si Rey! Memangnya lo udah move on dari si Bim-"


Indah dan Bayu langsung menutup mulut Selen sebelum dia selesai menyebut sebuah nama terlarang yang bisa membuat mood Arumi langsung down pagi itu juga.


Tapi sepertinya usaha Indah dan Bayu sia-sia. Karena Selen yang sudah menyebut tipe huruf dari 4 komponen nama tersebut, ekspresi wajah Arumi langsung berubah drastis saat itu juga.


"Tuh kan. Lo sih Sel. Ada-ada aja mulut lo," celetuk Bayu, merasa sedikit marah karena Selen tidak berhati-hati saat berucap.


Selen yang tahu salah, langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Arumi.


Tapi sayangnya, teman perempuan yaitu memilih keluar dari kelas dan meninggalkan Selen yang sudah setengah jalan mendekatinya.


Dengan wajah bersalah dan setengah sedih, Selen menoleh ke arah dua temannya dengan tatapan memelas. "Bantuin gue. Arumi marah deh kayaknya. Gimana dong?" cicitnya, dengan suara yang sangat pelan.


Bayu dan Indah hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung. Karena mereka sama-sama tidak tahu menahu bagaimana caranya mereka menenangkan Arumi.


Bukan karena hal lain, melainkan karena Arumi lebih suka menyendiri saat moodnya sedang hancur seperti ini.


"Ya sudah, biarkan aja dia pergi. Mungkin Arumi lebih butuh udara segar daripada bacotan kita ya enggak pernah ada faedahnya hari ini. Biarkan aja, nanti kalau sudah enak hatinya pasti balik sendiri." Bayu menghela napas panjang beberapa kali. "Mangkanya, lain kali kalau ngomong pakai filter! Jangan seenak mulut lo sendiri aja," tegurnya.

__ADS_1


Tidak membuat Selen memprotes dirinya. "Iya, iya ... gue salah. Maaf, habisnya gue kesal-"


"Udah, jangan di terusin deh. Nanti kita bertiga malah bertengkar. Udah sekarang lebih baik kita siap-siap buat pelajaran pertama aja. Biarin masalah Arumi kita pikirin pas jam istirahat aja," putus Indah, di setujui oleh kedua temannya yang lain.


Sementara Arumi yang hari itu jadinya membolos dari sekolah karena perkataan Selen yang mengingatkannya pada seseorang yang benar-benar ingin dia kubur dalam-dalam seluruh kenangannya.


Arumi menatap hamparan air laut yang terasa dingin di kakinya. Saat ini dia sedang duduk di salah satu kursi kayu yang ada di pantai, dengan kedua kaki yang sengaja dia tenggelamkan ke dalam air laut.


Dengan begitu, Arumi sedikit berharap kalau pikirannya menjadi jernih jika kedua kakinya terasa sejuk.


Tapi sayangnya, pemikiran seperti itu sangat tidak masuk akal dan tidak berpengaruh apa pun kepada mood Arumi yang terlanjur jatuh terperosok hanya karena mengingat satu sosok lelaki.


Menghela napas kasar, Arumi mendongakkan kepalanya dan menatap langit biru yang membentang di atasnya.


Pemandangan pantai yang indah dan angin yang sejuk membuat kedua mata Arumi seperti dicuci. Sementara karena langit yang begitu cerah, lambat-laun perasaan Arumi yang dominan kesal dan marah, perlahan-lahan mulai tenang dan kosong.


Pipi Arumi terasa dingin saat sebuah botol minuman cola di tempelkan dengan sengaja di pipinya oleh seseorang.


Arumi menoleh cepat ke arah samping dan melihat kakak lelakinya sedang berdiri di sana dengan mendapatnya lekat.


"Akhirnya tiba waktunya adik perempuan gue bandel juga!" Nando mengambil sikap duduk di bangku yang ada di samping tempat duduk Arumi, dan keduanya sama-sama menangkap ke laut. "Kenapa bolos sekolah? Merasa gak nyaman di sana??" tanyanya, tanpa ada niat untuk memarahi Arumi yang sudah bolos sekolah hari ini.


Arumi hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan sang kakak dan terus berusaha menjernihkan pikirannya dengan menatap hamparan biru air laut.


"Semua orang punya fase pasang-surutnya sendiri. Dari awal gue yang tahu lo di sini, gak pernah terbesit buat marah." Nando menoleh ke arah adik perempuannya dengan tatapan lembut. "Lo cerita aja kalau mau cerita. Dulu gue juga pernah muda. Dulu gue juga sering bolos sekolah dengan berbagai macam alasan kehidupan rumah yang ke bawah ke sekolah! Gue maklum sama sikap lo hari ini."

__ADS_1


Arumi mengurutkan keningnya samar, begitu juga dengan kedua sudut matanya yang berkerut seraya air matanya mulai hadir pada pelupuk matanya.


Nando mengambil sebuah kotak tisu kecil dari dalam tasnya, dan memberikan benda itu kepada sang adik. "Nangis aja kalau mau nangis. Kalau lo mau sendirian, bilang aja! Gue bakalan pergi."


Arumi menggeleng pelan. "Enggak, di sini aja. Gue enggak mau di lihat orang-orang nangis sendirian di pantai. Nanti gue dikira gila! Mending lo aja yang jadi fitnah mereka," celetuknya, jujur.


Nando yang mendengar perkataan itu hanya bisa tersenyum datar dan segera menghaluskan pandangannya dari Arumi.


Walau Nando yang meminta adiknya untuk menangis. Dalam hati kecilnya, Nando tidak ingin melihat hal tersebut secara langsung. Terutama saat dia mengetahui alasan Arumi bersikap seperti ini.


Karena masih teringat dengan jelas di kepala Nando saat tadi perempuan yang menangis meraung-raung di malam itu.


Di malam saat Arumi mengetahui jika seseorang yang sangat dia harapkan kehadirannya, telah pergi selamanya tanpa salam ataupun sikap sopan pada hubungan terakhir mereka.


"Semua orang pasti akan pergi, Rum. Entah berapa banyak kenangan indah yang mereka ciptakan semasa hidupnya." Nando menghela napas lelah nan berat. "Tapi gak ada ending bahagia di dunia ini."


Arumi masih menangis. Tapi suaranya sudah menghilang, karena kini dia hanya menangis dalam diam sambil mendengarkan penuturan sang Kakak.


"Gue tahu. Tapi gak ada hati yang kuat sama yang namanya perpisahan, kan?!" Arumi menoleh pada Nando yang mengulas senyuman masam, menatap lautan dengan tatapan penuh kerinduan. "Sama seperti kekasih lo yang mati dalam kecelakaan pesawat itu. Gue yakin lo tahu bagaimana menderitanya gue saat ini."


Nando menoleh pada Arumi dengan menelan ludahnya susah. "Karena kita pernah menghadapi duka, luka, kenangan dan ingatan yang sama tentang seseorang. Mangkanya tadi gue bilang ke elo! Gue tahu sikap lo, karena gue pernah muda."


Arumi menatap wajah Nando yang tampak begitu tegar setelah berhasil melalui luka terbesarnya dalam kehidupan.


Setelah Nando dapat mengikhlaskan kepergian seseorang yang pernah dia ajal bicara tentang masa depan, di pikiran Arumi berdesir sebuah pertanyaan.

__ADS_1


"Apa gue bisa setegar itu setelah ikhlaskan semuanya tentang Bima?"


__ADS_2