Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 32


__ADS_3

"Gue tahu, gue ngeselin. Tapi lo percaya gak, kalau gue bilang, gue suka sama lo?"


***


Perkataan Rey masih terbayang-bayang di kepala Arumi. Bisa-bisanya lelaki itu menyatakan perasaan saat dia hendak meninggalkan kota ini.


"Ughh ... buat kepala gue sakit aja!" pekik Arumi, menggelengkan kepalanya ampun dan membuat Ayah, Ibu dan Adik lelakinya menatapnya dengan tatapan aneh.


Mereka sedang ada di dalam mobil yang menuju ke kota baru. Tapi sikap Arumi dari pagi sampai sekarang tidak kunjung membaik. Dia terus menunjukkan kelakar aneh, yang membuat ketiga keluar banyak khawatir.


"Rum, lo enggak mau banget pindah kota?" tanya Bagas, membuat sang kakak perempuan menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Hah? Lo ngomong apa barusan, Gas?!" celetuk Arumi, tiba-tiba kena penyakit tuli.


Bagas menatap kedua orang tuanya dengan menggelengkan kepalanya pelan. Lantas ekspresi ayah dan ibunya seketika menjadi buruk dan terkesan khawatir.


"Rum, kamu benar-benar enggak mau pindah dari kota ini ya?" tanya Hamdan, khawatir pada kesehatan mental putrinya.


Arumi mengangguk pelan. Memang benar dia tidak ingin pindah dari kota ini. Tapi kalau harus memilih tinggal dengan keluarga atau di tinggal di kota ini sendirian? Tentu saja Arumi tetap memilih tinggal bersama keluarganya, walau nanti mereka harus tetap berpindah tempat karena pekerjaan sang Ayah.


"Maafkan Ayah, anak-anak. Seharusnya ayah tidak memaksa kalian untuk ikut dan menawarkan alternatif yang lain. Mungkin, seperti tinggal di rumah saudara ayah yang masih tinggal ibu kota ini. Tapi ayah takut kalau abang kalian berdua, melakukan hal aneh kalau ayah meninggalkan kalian di sini." Hamdan menunjukkan kepalanya sejenak, menunjukkan reaksi sedih. "Karena itu, ayah sedikit memaksa kalian untuk ikut."


Mendengar alasan tersebut, dan perilaku Nando pada Arumi untuk terakhir kali, memang tindakan ayahnya yang cukup ekstrem bisa dimaafkan. Karena bagaimanapun juga, kakak lelakinya sedang nekat-nekatnya karena dia di usir dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.


"Tidak, Ayah. Arumi baik-baik saja. Arumi lebih suka tinggal bersama dengan keluarga sendiri daripada menumpang di tempat lain. Walau nanti kita harus terus berpindah-pindah tempat, karena pekerjaan ayah," Jelas arumi, tampak ikhlas.


Hamdan dan Ika tersenyum lembut ketika mendengar jawaban putrinya. "Terima kasih anak-anak."

__ADS_1


***


Sampai di kota baru, Arumi dan keluarga kecilnya tiba di sebuah perumahan yang cukup besar dengan tetangga yang padat.


Di kompleks mereka yang sekarang, cukup banyak anak kecil yang bermain-main dan pergi mengaji di masjid dengan ramai-ramai.


Sangat jauh berbeda dengan kompleks mereka yang ada di kota B. Kompleks mereka di kota D sangat ramah dan hangat. Para tetangga yang baik hati dan tidak terlalu suka julid pada tetangga yang lain, anak-anak yang sopan, dan teman sebaya yang saling mengerti satu sama lain tentang masalah pribadi dan sering membantu sesama.


Suasana lingkungan mereka di kota D adalah suasana yang sangat aman dan nyaman. Arumi dan Bagas tidak membutuhkan waktu lama untuk betah di kota baru ini. Dalam tiga hari, mereka sudah memiliki banyak teman dan sahabat baru.


Bahkan para tetangga yang memiliki anak seusia mereka, sangat senang bermain di rumah mereka karena Hamdan menyediakan taman kecil untuk mengopi bagi teman-teman Bagas, dan rumah pohon yang sengaja dibangun di taman belakang, untuk anak-anak perempuan, para teman Arumi yang sering bermain di rumah mereka.


Setidaknya mereka tidak lagi menjadi orang anti sosial seperti di kota B. Mereka nyaman bergaul karena orang-orang yang baik, dan nyaman juga bermain.


Karena tidak ada ancaman dari pihak external. Bisa di bilang, kejahatan di kota D sangat minim karena para polisinya bekerja sangat baik dalam memberantas kejahatan.


Sampai akhirnya dua tahun berlalu, pendaftaran masuk kuliah Arumi telah sukses untuk masuk ke kampus impiannya di kota tersebut tercapai, hari ini! Tempat setelah mereka melewati masa MOS. Arumi bertemu dengan seseorang yang tidak di sangka-sangka.


Seorang lelaki berdiri di barisan terdepan, membelakangi tiga orang yang memiliki penampilan cukup berbeda dari saat mereka SMA. Bahkan awalnya, Arumi tidak mengenali mereka sampai mereka berempatnya memperkenalkan diri kepada Arumi.


"Hehehe ... karena kayaknya lo enggak bakalan balik ke kota itu dan kita jadi agak kesepian. Jadi kita yang bakalan ke sini!" Bayu tersenyum tengil sambil terus menggandeng tangan Selen yang sudah memiliki hubungan spesial dengannya selama Arumi tidak ada di kota B. "Gimana lo senang nggak kita ke sini?"


Pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut Bayu, menghadirkan air mata Arumi. Air mata terharu karena melihat tiga orang sahabatnya yang nekat datang ke sini dan kuliah di tempat ini karena dirinya, serta seorang lelaki yang terakhir kali menyatakan perasaan padanya dengan sedikit menyedihkan.


Rey sudah glow up. Dia bahkan dinobatkan sebagai sesuatu pangeran kampus. Dia yang sudah meraih banyak penghargaan tentang catur, sepertinya sudah berubah drastis kecuali tentang satu hal.


Hatinya yang menyukai Arumi dan tidak pernah meninggalkan gadis itu di masa lalunya.

__ADS_1


Entah bagaimana Rey mempertahankan perasaan tabu itu selama Arumi tidak ada di tempat. Padahal mereka tidak pernah berkomunikasi selama 2 tahun terakhir, tapi melihat Rey yang berdiri dengan membawa seikat bunga di depan Arumi sekarang, sepertinya lelaki itu benar-benar serius kepadanya.


Indah, Bayu dan Selen mengulas senyuman bahagia, saat melihat perjuangan Rey datang ke kota ini bersama dengan mereka hanya demi menjemput Arumi.


"Nih ...." Rey memberikan seikat bunga itu kepada Arumi dan membiarkan gadis itu memeluknya. "Lo gak lupa tentang pernyataan gue terakhir kali, kan?" tanya Rey, sedikit canggung tapi tetap berusaha memberanikan diri untuk mengatakan niatnya.


Arumi tidak bisa menahan senyumannya untuk tidak keluar. Dia terus tersenyum malu sandal mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Rey.


"Ya, kue masih ingat sih. Tapi tentang jawabannya, gimana ya? Gue kira lo yang dulu cuman main-main. Dan sekarang gue gak sangka kalau lo udah sampai di sini buat jemput gue." Arumi mengulas senyuman masam. "Bisa kasih waktu buat gue beradaptasi?'


Rey mengangguk singkat. "Kalau gitu, gue boleh ubah pernyataan gue juga enggak?" tanyanya, sedikit gugup saat hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya.


Arumi melihat sebuah kotak merah kecil yang keluar dari sana dengan tatapan terkejut.


Seakan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya, Rey berlutut di depan Arumi dan membuat orang-orang di sekelilingnya tampak terkejut dengan lamaran mendadak itu.


"Alih-alih lo jawab gue tentang masalah pacaran. Gimana kalau lo jawab gue tentang lamaran?" Rey mengulurkan kotak cincin itu ke arah Arumi dengan senyuman malu. "Gimana? Lo mau mempertimbangkan yang ini?!"


“Nah, kalau itu ... kagak tolak!” celetuk Arumi, membuat senyuman Rey mengembang.


Lelaki itu langsung bangun dari posisinya, memasangkan cincin di jari Arumi dan menahan diri untuk memeluknya. “Pengen peluk, bukan muhrim. Duh ... bentar lagi, Rey ... sabar!” batinnya, gemas sendiri.


Selena, Bayu dan Indah menang cie-cie sama ucapan selamat saja. Karena mereka pun tak menduga kalau Rey datang untuk melamar Arumi. Ini mah, benar-benar definisi menjemput hahaha ....


Arumi mendongak, menatap langit sambil tersenyum lembut. “Maaf Bim, gue ambil keputusan ini karena gue dan Rey tetap harus melanjutkan hidup kita.” Arumi menatap Rey yang full senyum walau teman-teman Arumi mulai resek. “Gue sengaja pilih rekan yang sama-sama sakit karena lo, biar dia pun paham kalau gue tetap gak akan tinggalkan masa lalu kita, di atas segalanya. Walau lo sampai di sana aja.”


Arumi mulai mengulas senyuman masam. “Gue memang mulai licik. Tapi ini satu-satunya cara gue bertahan hidup. Maaf, Bim. Tapi, selamat tinggal.”

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2