
Indira memandang kosong ke arah depan toko. Tak ada pelanggan hari ini. Jalanan juga terlihat lenggang, padahal bisanya sangat ramai orang berlalu-lalang.
Rey yang melihat sang Ibu seperti itu, langsung mengerutkan keningnya samar dan mendekat padanya.
"Mama kenapa?" tanya Rey, memandang wajah Indira dengan lekat.
Indira menggeleng pelan dan melihat Niken, anak perempuannya yang datang dengan sergerombol orang tak di kenal.
Tapi mereka bukan orang aneh, melainkan para ibu-ibu yang sepertinya datang berwisata di kota mereka, tapi kenapa di bawa ke sini?
"Owh ... benar, toko ini yang kami maksud. Makasih ya, Nak!" ucap seorang perempuan paruh baya, mengusap beberapa kali pundak Niken dengan senyuman mengembang.
"Sama-sama, Bu. Silakan berbelanja!" ucap Niken, semangat. Karena dia berhasil membawa banyak pelanggan untuk toko ibunya.
Indira yang tadinya terlihat murung, kini langsung senang dan giat melayani pembeli mereka dengan telaten.
Rey juga membantu. Namun tidak dengan Niken yang fokus berdiri di depan toko dengan senyuman yang tak turun dari bibirnya.
"Niken!" panggil Arumi, membuat Niken menoleh dan melambaikan tangannya pada teman sekelasnya ini.
"Mau beli roti??" tanya Niken, membiarkan Arumi berdiri di sampingnya dan kedua tatapan mereka jatuh ke dalam toko.
"Niatnya sih gitu. Tapi kayaknya ramai banget ya. Apa besok aja ya?" gumam Arumi, membuat senyuman masam Niken terpampang.
"Lo mau beli apa? Biar gue yang masuk. Lagian di dalam ada Mama sama Bang Rey. Gue takut lo di anterin pulang lagi kayak kemarin," celetuk Niken, bermaksud baik walau wajahnya terlihat menyebalkan.
Arumi hanya mendengus kasar dan memberikan selembar uang berwarna biru pada Niken. "Roti tawarnya dua ya, Nik!"
Niken mengangguk paham dan membuatkan Arumi menunggu di depan toko sambil menyapa beberapa pelanggan yang mulai ramai memasuki toko keluarga Niken.
Tok ... tok ....
Arumi menoleh saat seseorang mengetuk dinding kaca Bakery dan membuatnya bertatapan dengan Rey di belakang sana.
__ADS_1
"Rum, ngapin lo di sana?!" tanya Rey, dengan gerakan bibir.
Arumi menoleh pada Niken yang keluar dengan membawa pesanannya. "Makasih, Nik. Gue langsung ya. Masih ada PR yang belum gue kerjain nih!"
Niken mengangguk dan melambaikan tangannya. "Hati-hati. Besok gue contek!" teriaknya, pada Arumi yang berjalan menjauh.
Arumi mengacungkan jari tengahnya pada Niken dan mengalihkan pandangannya pada Rey yang masih setia di tempatnya, sambil memandang ke arahnya.
Arumi mengangkat tas keresek berisikan belanjaannya sambil menunjuknya. Seakan mengatakan "gue beli ini" dengan tindakannya.
Rey mengangguk paham dan melambaikan tangannya pada Arumi. Menatap gadis mungil itu pergi meninggalkan Bakery-nya dengan tatapan lekat.
Bukan karena suka, tapi dia mengingat punggung perempuan itu saat bersanding dengan punggung Bima.
Suara tawa dan kenangan Rey saat menjadi nyamuk hubungan Bima dan Arumi masih membekas dengan kuat di ingatannya.
"Gue kangen Bima," gumam Rey, sangat lirih, seakan berbisik pada angin untuk menyampaikan pesan ini pada sahabatnya yang telah bepergian sangat jauh sampai tak bisa dia jemput..
Rey mendongak, menatap langit biru yang begitu cerah padahal banyak manusia yang merasa hatinya di penuhi mendung sampai terasa sesak.
***
Ditemani sepeda motor baru yang beberapa hari yang lalu dibelikan oleh ayahnya, Arumi tanpa sangat senang pergi ke sekolah hari ini.
Walaupun semalaman dia begadang karena banyak tugas, tapi karena tadi pagi di berikan kejutan oleh sang ayah, seluruh rasa lelahnya tiba-tiba menghilang bagaikan buih di lautan.
"Ndah!!" teriak Arumi, memanggil temannya Indah yang baru turun dari motor kakak lelakinya, Diky.
Diky dan Indah yang mendengar teriakan Arumi, spontan menoleh ke belakang dan melihat Arumi tengah mengendarai motornya dengan lihai.
Tapi kedua di kakak itu berbeda tanggapan. Indah yang terlihat senang karena motor baru Arumi, sementara Diky yang langsung turun dari motornya dan mencegah Arumi untuk melewati mereka.
Arumi yang melihat tindakan itu, langsung berhenti di tempat dengan wajah tegang. Dia lupa pekerjaan Diky!
__ADS_1
Dan sekarang Arumi yang belum memiliki SIM tentu saja langsung gemetaran melihat anggota kepolisian menghentikan jalannya.
"Ampun, Bang!!" seru Arumi, langsung memohon-mohon di depan Diky.
Indah yang melihat itu langsung bingung dengan sikap Arumi. Padahal kakak lelakinya belum mengatakan atau melakukan apa pun. Tapi Arumi sudah keburu negatif thinking
"Rum, apaan sih lo? Buat malu aja! Di lihat orang-orang nih," celetuk Indah, memukul pundak Arumi dan membuat teman perempuannya itu langsung diam.
Arumi mengeluh sakit sambil mengusap pundaknya yang baru dipukul Indah dengan sekuat tenaga. "Aduh, Ndah! Sakit tahu. Gak pake yang pukul kenapa?!" ucapnya, cemberut.
"Bodo amat, biar sekalian tahu rasa. Udah gede tapi kok enggak punya malu! Abang gue kan belum ngapa-ngapain, kenapa lo udah teriak-teriak gak jelas?!" pekik Indah, memarahi Arumi.
Arumi hanya diam sambil terus mengusap pundaknya yang masih terasa panas karena pukulan Indah.
Sementara Diky sudah mengelilingi Arumi sambil memandang motor barunya dengan saksama.
"Motornya baru banget nih. Keluaran baru loh!" seru Diky, dengan semangat. "Udah selamatan belum? Yang di mandiin pakai air kembang sama uang recehan! Kalau belum, ajak-ajak lah. Lumayan tulang recehan kalau dikumpulin pada dapet 20.000! Sarapan nasi pecel buat dua hari," celetuknya tak tahu malu.
Indah menepuk keningnya ampun dan menyeret Diky untuk kembali ke motornya. "Udah, sana buruan berangkat. Katanya tadi telat! Sekarang malah sibuk resek," celetuknya, tidak senang.
"Yee ... apaan sih lu, Ndah! Abang kan cuman mau bercanda sedikit sebelum berubah jadi momok di kantor nanti! Gitu aja kok boleh. Pelit banget sih," celetuk Diky, sambil menyerahkan mesin motornya dan membiarkan adik perempuan dan Arumi menyelami tangannya.
"Hati-hati," ucap Indah, melambaikan tangan ke arah Diky yang sudah pergi cukup jauh dari mereka.
Kini tinggal Indah dan Arumi yang masih ada di depan sana.
Indah menatap wajah Arumi yang terlihat kembali bahagia melihat motor barunya.
"Mau gue bonceng kagak? Skuy masuk ke sekolah," ucap Arumi, dengan semangat menarik tangan Indah untuk pergi ke motornya.
Alhasil, kedua gadis itu naik motor dan pergi memasuki sekolah. Di depan gerbang sekolah mereka bertemu dengan Bayu dan Selen yang langsung meneriaki mereka berdua dengan sangat heboh sampai membuat seluruh perhatian anak-anak di sana tertuju pada keduanya.
"Woiii ... motor baru ni ye!! Gue juga mau di boncengin!!" teriak Selen, berlari mengejar Indah dan Arumi masuk ke area parkir bagian samping.
__ADS_1
Bayu melihat ketiga teman perempuannya bertingkah, hanya menggelengkan kepalanya pelan walau kedua kakinya tetap pergi ke arah mereka.