
Arumi terkejut melihat siapa yang berdiri di depan kelasnya, tanpa sadar dia berteriak dan mengagetkan teman-teman sekelasnya.
"Lo ke mana aja?!" Arumi berteriak di depan wajah Bima. "Gue khawatir banget sama lo! Gue udah tanya teman sekelas lo, tanya ke guru di mana alamat rumah lo juga. Tapi nihil! Lo gak ada di mana-mana!" marah Arumi bertanya sambil memukul dada Bima berulang kali
"Maafin gue, Rum. Gue gak bisa tepati janji gue ke elo. Lo pasti nunggu lama. Maaf," cicit Bima, menatap Arumi dengan tatapan cemas.
Arumi mendengus, memalingkan wajahnya sambil mengusap kasar air mata yang tak sengaja menampakkan diri.
"Bacot," pekik Arumi, terlalu kesal untuk tak mengumpat pada oknum gagal jantungnya.
Bima tersenyum, mengusap puncak kepala Arumi sayang dan menangkup wajahnya, lembut.
"Jawabannya?" celetuk Bima, menanti dengan tak sabaran.
Wajah Bima yang tersenyum tengil terlihat jelas untuk Arumi. Pergerakan dan sikap Bima yang membuat nge-fly, tentu saja tak membuat Arumi mengatakan hal mengecewakan.
"Terserah," celetuk Arumi, berusaha memalingkan wajahnya dati Bima.
Tapi Bima tak mengizinkannya dan terus menangkup wajah gadis itu dengan sedikit menggunakan tenaganya.
"Mana ada jawaban terserah, Rum. Jawab yang benar dong. Jantung dah gak aman nih, jangan sampai jawaban lo buat gue kecewa," ucap Bima, penuh percaya diri.
Arumi menurunkan kedua tangan Bima dari wajahnya, menggenggam tangan besar itu dengan erat.
Arumi tersenyum tipis. Wajahnya merona mengingat Bima yang sedang berdiri di depannya dengan menunggu jawaban Arumi tentang pernyataan cintanya kemarin.
Bima menunduk sedikit, berusaha memandang wajah Arumi yang terus menghindar darinya.
"Gak jawab?" Bima berbisik, membuat pipi Arumi memanas. "Kalau lo gak jawab, berarti lo gak–"
Cup ....
Sebuah kecupan hinggap di pipi Bima dengan singkat, membuat perkataan dan tubuh lelaki itu membeku seketika.
Seluruh anak kelas Arumi langsung bersorak. Bersorak karena tingkah jahanam Arumi di depan kaum jomblo ngenes yang tidak pernah di lirik perempuan sekali pun, selama 17 tahun mereka hidup.
"Woiii!!! Teman laknat, lo kate lagi syuting sinetron?! Kenapa ada adegan sweet-sweet segala nih?!" teriak salah seorang anak lelaki, tak senang.
Bukan tak senang karena benci. Tapi tak senang karena dia yang merasa malu, padahal bukan dia yang di sosor.
"Lo juga Bim, kenapa juga muka lo merah? Salting lo?!" Gitu aja salting, gue aja ikutan. Bagi juga dong, Rum. Mau juga," rengeknya, membuat Bima mendelik padanya.
__ADS_1
Semua anak tertawa saat melihat reaksi Bima. "Bucin baru abad ini!" serempak teman sekelas Arumi, membuat kedua pasangan sejoli itu malu.
Bima melirik pada Arumi dengan memegang pipinya yang baru saja di jadikan pelampiasan Arumi.
Dengan wajah memerah, Bima berusaha keras menahan deretan giginya agar tak terlihat.
"Ehem ... ini apa?" tanya Bima, stay cool walaupun jantung sudah tidak aman.
"Kita temenan aja," celetuk Arumi, membuat Bima membulatkan mata terkejut. "Tapi boong!"
Bima langsung tertawa dan membalas perlakuan Arumi yang bar-bar. Namun Bima tidak mengecup pipi Arumi, melainkan mengecup punggung tangan Arumi dengan lembut.
Arumi langsung speechless. Tersenyum girang tapi tetap berusaha menjaga imagenya mati-matian.
Namun tidak sama dengan anak di dalam kelas Arumi, lagi-lagi bersorak. Menggila melihat adegan bucin Bima dan Arumi dengan mata berkobar. Membara di tengah rasa marah, iri dan ngenes.
Kali ini mereka tak bisa mengampuni keduanya. Mereka langsung mengambil senjata dan melempar beberapa bola kertas pada keduanya.
Bima memutar posisi mereka, melindungi Arumi dengan punggungnya. Melindungi Arumi dari lemparan bola kertas dan berbagai macam benda lainnya.
"Pergi sono!"
"Buat buta mata gue aja lo!!!"
Bima tertawa terbahak-bahak, sebelum mengajak Arumi pergi meninggalkan kelasnya.
***
Bima dan Arumi resmi berpacaran hari ini. Dan Bima tak melewatkan kesempatan itu untuk mengajak kekasihnya menghabiskan waktu lebih lama dengannya.
Mereka berdua pergi menonton bioskop sepulang sekolah. Bima terlihat menikmati waktunya bersama Arumi. Dia sangat bahagia sampai melupakan penyakitnya.
Sesekali Bima merasa pusing dan sesak napas, tapi dia tak hiraukannya. Dia sangat senang melihat Arumi tertawa terbahak-bahak saat menonton film.
Dengan melihat senyuman Arumi dan bisa menggenggam tangan kekasihnya seperti ini, seperti membuat Bima memiliki tabung oksigen cadangan.
Ada semangat yang mendorongnya menjadi pribadi lebih kuat. Dan yang terpenting, Bima tak lagi merasakan sakitnya sendirian dengan tercekik realita.
"Bima, habis ini ke toko buku yuk. Gue mau cari novel terbaru penulis favorit gue nih," ajak Arumi, pada Bima.
Bima menoleh padanya dan mengangguk pelan. "Okey, nanti kita ke sana" jawabnya, mengiyakan Arumi.
__ADS_1
Setelah seharian jalan-jalan, tiba waktunya mereka berdua berpisah.
Bima mengantar Arumi pulang dengan selamat. Dan fakta baru di temukan olehnya.
Karena ternyata, rumah Arumi cukup dekat dengan rumah Rey. Sebuah kebetulan yang menguntungkan.
Arumi menatap rumahnya sesekali, memastikan apakah orang tuanya ada di rumah atau tidak.
Karena jika ada, Arumi tidak akan bisa menjamin keselamatan Bima di tangan sang Ayah.
"Makasih udah antar gue. Dan makasih juga buat hari ini. Gue senang, dan gue harap lo juga gitu," ucap Arumi, dengan nada se-kalem mungkin.
Arumi tersenyum dan melepaskan tangan Bima yang dari tadi menggenggam tangannya tanpa memedulikan keringat di tangan Arumi.
Bima menatap kaitan tangan mereka yang terlepas dengan wajah kecewa. Dan Arumi terlihat menyadarinya, terlihat dari senyuman Arumi yang terkesan menertawakan ekspresi Bima saat ini.
"Hati-hati di jalan, Bim. Sampai besok," ucap Arumi sambil melambaikan tangan pada Bima.
Bima mengangguk dan melambaikan tangannya sambil melihat Arumi masuk ke dalam rumah dengan senyuman manis.
Bima menghela napas panjang dan berjalan pergi dengan langkah pelan. Rasa bahagia masih membekas di dadanya.
Perutnya yang biasanya tak pernah terasa lapar, kini terasa seperti tong kosong. Dia lapar sampai bisa merasakan ususnya yang melilit karena minta di isi.
Akhirnya Bima memutuskan mampir sebentar ke rumah sahabatnya, si Rey!
Seperti biasa, Rey sedang bermain catur saat Bima datang.
Karena bagi Rey, catur adalah segalanya. Dengan catur dia bisa mengingat sosok Ayah yang sangat dia banggakan. Bukan sosok bajingan yang tega meninggalkan dia dan ibunya demi wanita lain dan meninggalkan mereka tanpa salam yang sopan.
Rey mengingat semua hal tentang Ayahnya dengan jelas. Ayahnya yang bertengkar hebat dengan Ibunya.
Sampai membuat Rey kecil meringkuk ketakutan di dalam lemari, untuk menghindari pertengkaran mereka.
Ayahnya berselingkuh dengan pramugari pesawat hubungannya sudah terjalin lama. Ibunya murka saat mengetahui hal tersebut, dan mengusir Ayahnya dari rumah.
Walaupun ada minusnya, tapi bagi Rey, Ayahnya adalah sosok yang sangat keren. Karena Ayah yang selalu dia banggakan di depan teman-temannya adalah seorang pilot hebat yang pernah menyusuri berbagai belahan dunia dengan terbang menembus awan tinggi itu.
Tapi di sisi lain, Rey juga sangat membenci Ayahnya, karena lelaki itu membuat Ibunya yang dulu sangat ceria, humoris dan sangat perhatian! Kini menjadi wanita pendiam dan murung.
Walaupun terkadang dia merindukan sosok sang Ayah, tapi Rey lebih mencintai Ibunya di atas segalanya.
__ADS_1
Bagi Rey, Ibunya adalah orang terkeren di dunia kecilnya. Walau tak bisa di banggakan di depan banyak orang karena kisah kelam keluarga mereka, tapi suatu saat Rey tetap menginginkan wanita yang sama kuat dan tabahnya dengan Ibunya.