
Arumi keluar dari rumah dengan kedua mata yang masih belum terbuka lebar. Dia masih setengah mengantuk tapi sudah dipaksa oleh waktu untuk pergi ke sekolah.
Ya, karena kemarin lelah menangis! Arumi tidur cukup larut malam kemarin dan membuatnya bangun kesiangan.
Sialnya, ponsel Arumi tertinggal di rumah dan dia hanya bisa pasrah karena pergi ke sekolah tanpa belahan jiwanya itu.
Dengan langkah loyo, Arumi masuk ke dalam kelas dan langsung menuju ke bangkunya. Duduk di tempat itu dengan meletakkan kepalanya di atas meja sambil bertumpu dengan tangan sebagai bantalnya.
"Rum," panggil seorang lelaki, sambil mengetuk permukaan meja Arumi agar gadis itu bangun dan memperhatikannya.
Dengan wajah malas, Arumi mendongak dan melihat surya teman sekelasnya, sekaligus teman satu sanggar taekwondo, berdiri di depannya dengan membawa selebaran.
"Pelatih minta lo datang ke sini pas hari-H. Gue harap lo bisa datang," ucap surya, memberikan selebaran itu pada Arumi.
Arumi menerima selebaran itu dan membiarkan surya pergi. Dia cukup bingung karena tiba-tiba surya memberikan selebaran yang berkaitan dengan taekwondo kepadanya.
Padahal seharusnya surya atau gigi, dua orang yang paling tahu kalau Arumi berusaha keras melupakan taekwondo seperti diam lupakan Bima, mengerti kalau seharusnya mereka tidak menyinggung tentang taekwondo di depannya.
Menghela napas panjang, Arumi memasukkan selebaran itu ke dalam laci meja dan kembali duduk dengan posisi semula.
Tuk ....
Baru saja ingin memejamkan mata. Sekarang sudah ada pengganggu lain yang menyita waktu tidurnya di pagi hari.
"Apa lagi sih, Bay?! Sekarang gue cuman butuh tidur bukan sarapan!" celetuk Arumi, tanpa melihat lawan bicaranya.
"Siapa yang lu sebut sebagai si bencong?!" celetuk seorang lelaki yang suaranya cukup di kenali oleh Arumi.
__ADS_1
Arumi langsung bangun dari posisinya dan mendongak ke atas, menatap wajah lawan bicaranya yang tampak kesal karena dia harus di samakkan dengan si Bayu. Lelaki jadi-jadian yang suka bertingkah rempong di tetangga kelasnya.
Rey mendengus kasar dan meletakkan sebuah ponsel di atas kotak bekal Arumi.
"Tadi pagi gue ketemu sama adik lo. Dia udah lari-larian kejar lo! Tapi lo nya udah keburu naik angkot. Jadi gue yang bawakan itu buat lo," jelas Rey, pada Arumi sebelum gadis itu salah paham dan berpikir aneh-aneh tentangnya.
Arumi menatap sekeliling, melihat teman-teman yang memandangnya dengan curiga, bahkan tiga orang temannya sudah memandangnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Gue mencium aroma yang tidak sedap nih!" celetuk Bayu, menatap Arumi yang cukup besar mendengar perkataannya.
"Awas aja mulut lo, Bay! Gue pelintir juga kalau lo nggak berhenti ngomong!" celetuk Arumi, membuat Bayu menutup berdua sisi bibirnya rapat-rapat dan memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Arumi.
Menghela napas kasar, Arumi menatap Rey yang masih berdiri di depannya dengan menatapnya lekat.
"Oke, makasih udah bawakan ponsel gue. Tapi ini bekalnya? Buat gue juga? Perasaan tadi pagi gue udah sarapan deh, kenapa sekarang dibawakan bekal sama Mama?" tanya Arumi, cukup bingung melihat kotak bekal yang juga diberikan kepadanya.
"Kalau ini dari Emak gue. Lo tahu lah dia kenapa kayak gini ke elo!" Rey mendekatkan wajahnya dan berbisik di dekat telinga Arumi. "Lo itu udah dianggap kayak mampu sama Emak gue. Asal lu tahu aja sih!" celetuknya, sesuai fakta dari Emak Rey yang sering menanyakan kabar tentang Arumi saat mereka makan malam.
Rey menggidikkan bahunya tak tahu dan menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana sekolahnya. "Entah, mungkin karena dia senang aja sama lo. Lo kan sopan banget sama Emak gue. Gak kayak teman gue yang pada caper kalau udah tahu ada Emak gue!" celetuk Rey, sekedar memberikan info padanya.
Arumi menggelengkan kepalanya kuat. Seakan tak ingin menerima fakta itu, bagaimana pun yang terjadi ke depannya.
"Bodo amat dah. Ya udah, pokoknya ini gue terima. Sekarang lo balik ke kelas sono! Makasih udah di bawain!" ucap Arumi, segera mengusir Rey dari hadapannya.
Rey mengangguk paham dan pergi tanpa mengatakan salam perpisahan. Toh, mereka juga tidak terlalu dekat! Untuk apa Rey saling bertukar salam dengan Arumi? Kan 'gak' banget.
Baru saja Rey keluar dari kelas itu, tiba-tiba saja suara pukulan terdengar sangat nyaring di depan kelas Arumi.
__ADS_1
Bahkan membuat seluruh penghuni kelas itu dan dua kelas sebelahnya, langsung berlari keluar untuk melihat apa yang sudah terjadi di delan sana.
Ternyata oh ternyata, Rey kena pukul salah satu pentolan sekolah yang di buat kesal karena dia tidak dapat rangking di kelas, sebab Rey menyabet semua juara umum mata pelajaran sekolah mereka.
"Gila! Lo gak papa, Rey?!" tanya Hafiz, salah satu teman dekat Rey yang juga satu kelas dengan Arumi.
Rey langsung di bantu bangun oleh Hafiz. Beberapa orang juga tampak melerai Gaga yang baru saja memukul Rey tanpa sebab yang jelas.
"Lo kenapa sih, Ga? Kali ini ada masalah apa lagi sama Rey? Rey buat salah apa lagi sama lo?" tanya Hafiz, naik pitam.
Rey menahan Hafiz yang mendekati Gaga dengan wajah menantang. "Udah, Fiz. Paling juga gara-gara nilai semester ini. Kayak gak tahu si Gaga aja lo!" celetuknya, mengingatkan.
Hafiz mendengus kasar dan berjalan pergi dengan Rey yang dia bantu berjalan. Karena saat Gaga memukul Rey, sepertinya Rey yang tidak siap menerima pukulannya, sempat terkilir karena sempat menahan keseimbangan tubuhnya.
"Gila, Gaga itu selalu aja ajak ribut Rey! Sampai kapan sih dia berhenti kayak gitu?! Caper mulu," celetuk Indah, dengan suara sedikit keras sampai beberapa anak kelas mereka mendengar perkataannya dan menyahut.
"Tahu tuh, untung aja lo ganteng! Jadi hujatan netizen gak parah-parah amat ke dia,” sambar Zia, ketua kelas Arumi yang baru, di semester 2 ini.
"Hem? Memang mereka sering banget bertengkar ya? Kok gue gak pernah tahu sih?" Arumi menatap Indah dan Zia secara bergantian dengan memasang tampang polos yang minta di gampar.
"Lo sih, ngendon mulu di kelas. Sesekali keluar lihat cogan kek, sekolah setahun setengah tapi tempat yang pasti lo kunjungi cuman kantin, kelas, kantin, kelas, wc! Perpustakaan sono, sesekali! Biar jadi kutu buku sekalian. Habisnya, lurus amat hidup lo! Kesel gue lihatnya," panjang Zia, khotbah dadakan.
Arumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengulas senyuman masam. "Hehe, habisnya gue kan mau sekolah dengan tenang tanpa masalah. Senggaknya, jangan sampai ada drama kayak di kelas satu kemarin lah," celetuknya, spontan membuat Indah dan Zia langsung bungkam.
Kalau pembahasannya sudah soal masa lalu, semua anak kelas yang tahu tentang "Bima" pasti akan langsung diam dan tak meneruskan pembahasan ini dengan Arumi.
"Dah lah, balik ke tempat duduk aja. Pertunjukannya dah kelar!" ajak Indah, mengalihkan topik.
__ADS_1
Arumi hanya mengangguk dan menurut pada perkataan Indah tanpa menaruh prasangka buruk.
"Huff ... buat gue takut aja nih anak!" pekik Indah, dalam hati sambil melirik pada Arumi dengan tatapan waspada.