Fate Of Two People

Fate Of Two People
Chapter 7


__ADS_3

Flashback ON!


Di bawah pohon yang sejuk, di dekat tempat latihan taekwondo Bima menyatakan perasaannya.


"Rumi, gua sudah lama suka sama lo. Semenjak pertama kali gua lihat lu yang lincah dan energik mengikuti taekwondo, lu yang periang dan positif. Semua itu buat gua suka dan kagum sama lo. Kayak sinar matahari, kadang lu silau dan kadang buat kesal karena terlalu panas. Kalau gua bilang, lu mau enggak jadi seseorang yang gua butuhkan dan spesial buat gua. lu mau gak terima gua?" tanya Bima, pada seorang gadis yang jarang dia ajak berbicara dan bertegur sapa.


Arumi menatap aneh. Dia yang tak terlalu kenal dengan Bima, mendapat pernyataan cinta seperti ini membuatnya sedikit syok dan bingung.


"Bisa kasih gua waktu buat berpikir? Ini agak tiba-tiba buat gua," jelas Arumi, dengan nada sopan walau dia merasa aneh menerima pernyataan cinta dari orang asing seperti Bima.


"Iya, gua bakal tunggu lu siap kasih jawaban. Asal lu gak lupa aja," celetuk Bima, setengah melawak.


Arumi tersenyum dan mengangguk. Setelah dia itu pamit pergi. Membuat Bima memandang punggungnya yang tegas dengan tatapan sendu.


"Di terima kagak ya? Kok grogi?!" gumam Bima, mulai jantungan.


***


Sore itu juga, Bima memberi tahu sahabatnya, Rey pasal pernyataan cinta yang baru dia sampaikan pada sang pujangga.


Kala itu Rey sedang bermain catur di toko roti Ibunya. Saat Bima datang berkunjung, mata Rey sudah menatap kehadiran sohibnya itu dengan tatapan aneh.


Bima melangkah dengan riang. Langkah riang yang ringan dengan senyum tak pernah luntur dari wajahnya.


"Kenapa lo?!" tanya Rey, pada Bima yang telah sampai di depan dirinya.


Bima cengengesan. "Rey, gua udah bilang ke Arumi kalau gua suka sama dia! Sumpah, gua gugup banget. Gak pernah gua segugup ini." Bima menatap penuh semangat pada Rey. Sampai-sampai matanya berbinar-binar.

__ADS_1


Tidak pernah Rey melihat Bima sebahagia ini. Ini pertama kalinya. Apa Bima memang sesuka itu pada gadis bernama Arumi ini?


Rey menggelengkan kepalanya, menghalau segala pikiran tak penting yang hilir berganti mampir ke otaknya seperti iklan.


Rey mengulas senyum dan menatap Bima dengan sikap antusias yang di selaraskan. "Selamat bro, terus dia jawab apa? Mau dia sama vampir kek lo?!" pekiknya, meledek Bima.


"Justru muka pucat kek vampir gua ini yang buat cewek-cewek klepek-klepek sama gua. Memang elu?! Kulit kek sawo busuk, hahaha ... dasar lu jomblo abadi, syirik aja sama kebahagiaan gua!" pekik Bima, menjadi serius di akhir kalimatnya.


Rey memutar bola matanya malas. "Serah lu dah. Terus dia mau kagak jadi cewek lu?" tanya Rey, memastikan hal terpentingnya.


"Belum di kasih jawaban gua, dia masih butuh waktu," jawab Bima, dengan raut wajah yang berubah muram dalam seketika.


Rey memasang wajah jeleknya, mengejek dengan wajah masam. "Gua kira udah di terima. Ternyata belum! Ya udah, jangan kesenangan dulu lu, nanti kagak di terima, entar nangis. Jatuh nyungsep habis nge-fly, buat tawa gua makin gede entar, Bim. Kondisikan ke-GRan lu sebelum gua ngakak di atas penderitaan lu nanti, wkwkwk ...," ledek Rey, lagi, dengan tawa menggelegar.


Bima yang malas terus-menerus di ledek, akhirnya memutuskan untuk enyah dari tempat itu dengan segera.


"Males banget cerita ama lu. Sohib abal lu, dah lah ... gua cabut aja. Takut Mama gua kelaparan. Tadi pagi dia lempar makanannya ke lantai. Belum makan dia." Bima bangkit dari tempat duduknya dan memandang papan catur Rey beberapa saat. "Kagak usah kelamaan main catur lu, entar botak baru tahu rasa," pekiknya, sambil berjalan pergi.


"Iya, terakhir gua lihat dua hari yang lalu. Waktu berantem sama Mama. Ya udah, gua cabut yaa, bye calon orang botak!" ucap Bima, sambil berlari meninggalkan toko roti itu.


"Bocah gendeng! Hati-hati, entar ke tabrak bencong lagi kayak kemarin lo! Drama lagi entar


Jangan lupa ganti plester tangan lu juga!" teriak Rey, melonggokkan kepalanya keluar dari pintu dan melihat Bima yang pergi menjauh dari toko rotinya.


"Okey!" sahut Bima, sambil melambaikan tangan tanpa menghentikan langkah cepatnya meninggalkan wilayah itu


***

__ADS_1


Pyaaar ....


Belum sempat Bima memasuki area pekarangan rumahnya, di luar pagar pintu dia sudah terdengar suara pecahan kaca.


"Kamu yang udah menghancurkan masa depanku, Mas! Andai kamu gak datang di hidupku, sekarang aku bakal jadi artis sukses. Dan gara-gara kamu juga–" perkataan wanita itu terhenti saat melihat sosok putra semata wayang mereka masuk ke dalam rumah dengan wajah setengah gentar.


"Anak sialan...!!" Wanita itu berteriak sambil menunjuk Bima, yang masih sampai di depan ambang pintu rumah mereka. "Masih berani kamu nginjekin kaki di rumah ini! Pergi kamu anak sialan! Mati saja kamu!" Helena berteriak lantang. "Kamu tidak berhak bahagia! Kalian berdua telah menghancurkan masa depanku!!Arghh ... aku benci kalian!!" teriak Helena, terlihat sangat frustrasi.


Bima, selaku darah daging mereka sendiri, hanya bisa terdiam dan tidak menanggapi kata-kata kejam Ibunya.


Bahkan di saat itu, Ayahnya tidak membelanya. Malah hanya memandang Bima dengan tatapan kalut, seakan tahu jika dia bersalah pada putra mereka, tapi enggan melakukan sesuatu untuknya.


Bima menahan napasnya, memberanikan diri melangkah ke dalam rumah dan pergi ke arah dapur, mengambil sapu, lalu berusaha membersihkan pecahan kaca yang telah berhamburan di atas lantai, takut pecahan kaca itu mengenai kaki Ibunya.


Lelaki paruh baya itu memilih pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan keluarganya yang telah kacau balau itu, seakan tak memiliki tanggung jawab di dalamnya.


Padahal dia kepala keluarga, tapi dia adalah orang yang paling tidak ingin tahu keadaan rumahnya. Yang dia pikirkan hanya pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan. Sosok lelaki yang gila kerja! Lelaki dewasa yang keterlaluan. Bima tak akan ingin menjadi orang dewasa sepertinya.


Bagi Bima, kedua orang tuanya adalah contoh buruk dari seburuk-buruknya orang tua dalam memperlakukan anaknya.


Tapi walau begitu, Bima dengan lembut menyuapi Ibunya. Walaupun terkadang Ibunya mencakar lengan Bima sampai terluka, atau memukulnya sampai darah membanjiri pakaiannya, rasa sayang Bima tak pernah surut pada wanita ini.


"Makan yang benar, Ma. Habis itu minum obatnya, ya?" tutur Bima, dengan suara lembut sambil menyuapkan kembali makanan dengan lauk seadanya itu, pada sang ibu.


Helena hanya mendenguskan napas kasar tanpa mau memandang Bima yang selalu ada di sisinya, walau oun dia memperlakukannya dengan buruk.


"Pergi anak sialan! Aku tidak ingin melihatmu!" teriak Helena, mendorong Bima sampai hampir terjatuh.

__ADS_1


Bima menahan tubuhnya dan menghela napas pasrah. Dia kembali duduk di posisinya dan kembali menyuapi yang Ibu.


"Ya, Bima akan pergi setelah Mama habiskan ini. Tenang saja!" ucap Bima, bersungguh-sungguh.


__ADS_2