
"Kaki lo udah sembuh, Rey?" tanya Abyan, salah satu anak kelas Arumi yang sering main ke kelasnya.
"Udah, di tolong pahlawan kesiangan kemarin pas mau pulang. Tapi hari ini gue enggak lihat dia sama sekali. Dia ke mana? Si Arumi!" tanya Rey, mengundang teka-teki di kepala Abyan.
"Tiba-tiba sangat lo tanya Arumi. Ada apa lo sama dia? Jangan-jangan gosip tentang kalian berdua itu benaran, ya?" celetuk Abyan, menggoda.
Rey memutar bola matanya malas dan beri jalan pergi meninggalkan kelasnya, di ikuti Hafiz dan Adam. Sementara Adrian sudah pergi lebih dulu dengan teman-teman kelasnya yang lain, untuk bermain basket di lapangan belakang.
"Lo mau ke mana? Kantin aja lah. Lapar nih," celetuk Abyan, mengusap perutnya beberapa kali.
"Ya memang gue mau ke sana. Ngapain juga gue keluar kelas kalau enggak ke kantin?!" celetuk Rey, memberitahukan ke mana tempat tujuannya pergi.
Abyan terkekeh sambil mengacungkan kedua ibu jarinya pada Rey. "Bagus-bagus. Gue kira lo mau mampir ke kelas setelah buat tanya keberadaan si Arumi. Ternyata kagak," celetuknya.
Spontan membuat langkah Rey terdiam kaku. Rey menunjukkan kelakar yang mencurigakan. Membuat dua temannya mengerutkan kening dalam dan memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kenapa lo?" tanya Abyan, sambil melambaikan tangannya di depan wajah Rey.
Rey yang tiba-tiba melamun karena memikirkan Arumi, segera menyadarkan diri dan lanjut berjalan pergi ke arah kantin.
"Wahhh Arumi masuk rumah sakit? Kok bisa sih? Perasaan kemarin dia masih baik-baik aja deh," ucap beberapa teman kelas Arumi, sambil berjalan ke arah kantin.
Rey yang mendengar berita itu langsung terdiam untuk ke sekian kalinya. "Arumi masuk ke rumah sakit gara-gara apa?!" tanyanya, pada dua anak perempuan yang bersisipan jalan dengan mereka.
Dua perempuan itu adalah Gigi dan Nanda. Rey juga cukup mengenal mereka dengan baik.
Jadi saat pertanyaan itu terlontar dari dalam mulut Rey, kedua wanita itu langsung memandangnya dengan tatapan penuh curiga yang terkesan menggoda.
__ADS_1
"Hayooo ... si Rey, tanya mulu keadaan Arumi dari kemarin. Jangan bilang kalau lo benaran ada apa-apa sama dia! Ngaku lo!" celetuk Gigi, berjalan mendekati Rey dengan kedua mata yang sudah menyipit dalam, dengan senyuman mencurigakan.
Rey berdeham dan memalingkan wajahnya yang sempat memanas karena godaan tersebut. "Apaan sih lo pada! Gue tanya bukan gara-gara khawatir ya. Gue tanya karena-"
Rey terdiam, dia tidak bisa mencari sebuah alasan yang pasti untuk menghindari prasangka Gigi tentangnya, yang mengkhawatirkan keadaan Arumi.
Gigi langsung terbahak-bahak melihat ekspresi bodoh yang ditunjukkan Rey saat dia mati kutu di buatnya.
"Wahahaha ... Nan, coba lo lihat muka si Rey! Ngakak gak lo?! Konyol banget sumpah. Bisa-bisanya dia mau ngeles padahal enggak punya alasan yang jelas. Aduh begonya teman gue!" umpat Gigi, terus terbahak dengan suara yang lantang.
Abyan menyumpal mulut Gigi dengan menggunakan roti bulat yang baru saja dia beli di sela-sela Rey dan kedua wanita itu ribut di depan kantin.
"Mulut lo lebar banget kalau ketawa! Tersedak lalat mati lo," pekik Abyan, mendapat sambutan tawa dari Hafiz dan Nanda.
Sementara Rey hanya bisa menghela napas sekolah melihat kedua temannya yang mulai bertengkar dan menyita perhatian para murid yang sedang berada di kantin.
***
Arumi terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan menatap langit-langit di atasnya, dengan tatapan kosong.
Baru kemarin dia melihat Selen, sahabatnya yang berharga, tertidur di ranjang ini. Dan kenapa minggu ini, giliran dia yang merasakannya?
Arumi mendengus kasar beberapa kali dan melihat ke arah Nando yang sedang menjaganya. Karena kakak lelakinya itu masuk siang, jadi dia akan pergi saat ibunya, Ika, datang untuk menggantikannya nanti.
"Kenapa? Lo mau makan apa? Buah? Atau mau minum?" tanya Nando, melihat beberapa makanan yang tersedia di atas nakas samping ranjang Arumi.
Arumi menggelengkan kepalanya pelan dan mendengus kasar beberapa kali untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1
Nando pun ikut menghela napas panjang melihat sikap adiknya yang tidak henti-hentinya mengeluh dengan cara seperti itu.
"Kenapa? Mau protes apa? Siapa suruh ambil layangan di atas pohon padahal bisa beli di warung?! Kebanyakan gaya sih lo! Jatuh, patah kaki kan!" omel Nando, membuat bibir Arumi mengerucut panjang ke depan.
'Udah dong. Dari kemarin gue kan udah di marahi Ayah sama Mama. Masalah sekarang lo juga ikut-ikutan mereka sih? Kagak kasihan gue apa? Udah sakit, kagak bisa gerak, diomeli mulu!" celetuk Arumi, kembali mengeluh untuk ke sekian kalinya.
Nando memutar bola matanya malas dan menoleh ke arah pintu. Tepat di saat tiga orang remaja masuk ke dalam kamar Arumi, dengan menggunakan seragam sekolah mereka.
"Loh? Kok udah pada balik?" tanya Nando, menyambut kedatangan tiga orang teman adik perempuannya terkasih.
"Iya, Bang. Kalau hari Sabtu pulangnya agak siang. Mangkanya kita langsung bisa ke sini," jelas Selen, memberikan buah tangan yang mereka bawa kepada Nando dan membiarkan lelaki itu menyimpan barang bawaan mereka ke tempat yang aman
Selen, bayu dan Indah mendekat ke arah ranjang dan melihat sejarah langsung keadaan Arumi, yang katanya sakit gara-gara jatuh dari pohon pas mau ambil layangan.
"Astaga Arumi, ada-ada aja kelakuan lo!" Indah menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat kaki kiri Arumi yang di gips sampai bawah lutut. "Gue tahu lo enggak punya teman di kompleks. Tapi ya kali main sama bocah? Main layangan pula. Kagak malu lo? Udah SMA tapi mainnya masih sama anak SD," celetuknya, memang berniat mengejek dan mengomel.
Arumi menghela napas lelah untuk ke sekian kalinya. Dan Nando yang melihat adiknya seperti itu, hanya bisa menahan tawa dan membiarkan keempat orang remaja itu melakukan reuni sementara dirinya bergegas keluar untuk bermain game di depan kamar.
Yah, setidaknya Nando sadar diri kalau dia harus pergi saat para remaja itu datang. Agar mereka bisa bermain atau berbicara dengan leluasa tanpa sungkan dengan kehadirannya.
Benar saja, setelah Nando pergi meninggalkan ruangan. Pembahasan dari keempat remaja itu langsung berbeda.
"Dih ... lo tahu enggak sih, Rum? Dari tadi Rey terus berusaha cari kabar tentang lo kenapa sampai bisa masuk rumah sakit." Indah mulai bercerita. Tapi pembahasan itu tampaknya tidak ingin di dengar oleh Arumi.
"Astaga, harus banget lo bahas dia? Gue malas banget dengar namanya, Ndah. Bisa gak bahasa yang lain aja?" omel Arumi, tampak enggan.
Lantas Indah menjawabnya dengan mudah, gamblang, dan mengundang emosi. "Kagak. Udah enak bahasa ini aja. Bahasa si ganteng dari kelas sebelah yang kayaknya mulai suka sama lo!"
__ADS_1
"Sembarangan aja mulut lo kalau ngomong, Indah ... sumpah buat kesal aja loh! Datang-datang bukan malah menghibur gue, ini malah buat tekanan darah gue naik! Keluar aja lo!" usir Arumi, di sambut gelak tawa teman-temannya.