
"Assalamualaikum, Bayu balik!" ucap Bayu, berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan sesekali menghela napas gusar.
Sang Ibu, Ayu, menatap putranya yang biasanya ceria tapi kini terlihat murung, langsung berdiri dan menghampirinya dengan tatapan cemas.
"Kamu kenapa, Bay?" tanya Ayu, membuat anak bungsunya menggelengkan kepalanya pelan.
Bayu melepas kedua sepatu dan meletakkannya di dalam raknya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menggubris sang Ibu.
"Bay, kamu kenapa?!" tanya Ayu, membuka pintu kamar Bayu dan melihat anak lelakinya duduk di tepi ranjang dengan tatapan serius. Seperti orang yang banyak pikiran.
"Gak papa, Ma. Mama keluar aja, Bayu mau ganti baju baru turun buat makan," jelas Bayu, menuntun Ibunya ke arah pintu dan memintanya keluar dengan cara lembut.
Ayu menghela napas panjang dan menatap putranya dengan lekat. "Kamu yakin?"
"Iya, Ma. Bayu gak papa. Tapi di ruang bawah gak ada orang, kan?" tanya Bayu, tiba-tiba.
Ayu menggeleng pelan. "Gak ada. Kamu mau latihan? Tumben gak tunggu di suruh Papa."
Bayu hanya tersenyum masam dan menutup pintu kamarnya dengan pelan. Klap ....
Ayu menoleh ke arah lelaki yang berjalan ke arahnya saat dia baru keluar dari kamar.
"Kenapa, Ma?" tanya Hamdan, suaminya.
Ayu menatap pintu kamar Bayu beberapa saat, membuat sang Suami peka jika anak bungsu mereka yang membuatnya khawatir.
"Kenapa si letoy?" tanya Hamdan, mendekati istrinya dan berdiri di depannya.
"Kalau Mama tahu, mana mungkin Mama cemas!" jawab Ayu, sedikit kesal.
Hamdan terkekeh dan menepuk pundak istrinya beberapa kali. "Nanti biar Papa yang ngomong sama Bayu. Sekarang Mama lanjutkan masak aja."
Ayu mengangguk paham dan pergi dari lantai itu, kembali melanjutkan rutinitas yang sempat tertunda karena kekhawatirannya.
Setelah selesai makan ....
Bayu turun ke lantai bawah tanah, pergi ke area latihan yang sengaja di bangun untuk latihan Ayah dan para kakaknya.
"Kamu mau latihan?" tanya Hamdan, menyambut kedatangan Bayu dengan tatapan bengis. Layaknya dia menatap para bawahan yang tak mau menurut saat di berikan perintah.
__ADS_1
Bayu hanya mengangguk dan berjalan naik ke atas ring tinju, pergi ke sudut bagian ring tersebut dan menemui samsak besar.
"Kamu gak pernah latihan pakai itu, mana bisa tiba-tiba mukul sam–"
DUAK! Buk ... buk ... buk ....
Hamdan terdiam, suara pukulan Bayu yang sangat keras membuat getaran kecil di ruangan itu.
Wajah marah dengan kedua mata yang memiliki emosi jelas. Membuat sosok Bayu terlihat asing bahkan di mata Ayahnya sendiri.
Hah ... hah ... hah ....
Bayu bernapas melalui mulut. Emosi yang sedari dia tahan terlihat jelas di mata sang Ayah.
Walau baru kali ini Hamdan melihat anak lelakinya semarah ini, tapi tak membuat Hamdan takut sedikit pun padanya.
"Bay." Hamdan memanggil sambil berdiri di balik jaring ring dengan kedua tangan di lipat di depan dada. "Kamu ada masalah apa sampai semarah ini?" tanyanya, tampak tegas.
Bayu melepaskan sarung tangan tinjunya yang terasa panas dan memandang tulang jemari tangannya yang membiru karena kerasnya dia memukul.
"Ada lah, Pa." Bayu berjalan turun dari ring tinju dan duduk di tepi ruang latihan dengan menyambar botol minum dari dalam kardus.
Bayu menghela napas lelah dan menyandarkan punggungnya di dinding.
"Bayu bisa selesaikan masalah Bayu sendiri. Bayu udah 17 tahun! Udah dewasa. Papa gak usah khawatir, Bayu akan selesaikan semuanya tanpa membuat nama Papa jatuh!" ucap Bayu, malah membuat Hamdan diam dengan perasaan tidak enak.
"Yakin? Kok jadi Papa yang gak yakin sama kamu, ya?" celetuk Hamdan, ragu.
Bayu memutar bola matanya malas dan bangkit dari tempatnya. "Papa mah mana pernah percaya sama Bayu? Panggil anak sendiri aja si letoy. Dih ... bapak mana yang tega ngatain anak perjakanya letoy?!"
"Ada nih, Pak Hamdan Nugroho. Bapak kamu!" sambar Hamdan, menepuk dadanya beberapa kali.
Bayu tak lagi memperhatikan sang Ayah dan pergi kembali ke lantai satu. "Bayu pergi dulu. Maaf soal samsaknya." Bayu menoleh pada Hamdan dengan tatapan mengerikan. "Bayu kira kuat! Ternyata kualitasnya rendahan ya?!"
Setelah mengucap itu, Bayu pergi. Sementara Hamdan menatap samsak yang sudah mengeluarkan isinya karena di robekkan oleh tinjau putranya.
"Hahh ... bukan samsaknya yang gak kuat! Kamu aja yang punya tenaga kayak Samson!" celetuk Hamdan, menggelengkan kepalanya ampun.
***
__ADS_1
Sampai di sekolah Bayu langsung duduk di tempatnya dan diam saja. Membuat dua orang teman perempuannya mendekatinya.
"Lo kenapa lagi, Bay?" tanya Arumi, mengawali percakapan di antara mereka dengan suara sumbang.
Bayu mendongak dan menatap kedua kantung mata Arumi yang menghitam dan bengkak. "Habis nangis lo?" tanyanya, sewot.
Arumi mengerutkan kening dan menoleh pada Indah yang terus diam seakan banyak pikiran, walaupun dia tetap ikut berkumpul dengan mereka.
Arumi menghela napas dan menatap teman sekelas mereka yang merasa canggung melihat geng Arumu yang biasanya ribut, kini tiba-tiba menjadi diam.
"Duh ... pada kenapa sih? Gue juga ada masalah, tapi gak kayak kalian juga. Ish ... jangan gini dong," rengek Arumi, menatap Bayu dan Indah bergantian.
Arumi yang terlihat sedih, membuat beberapa temannya ikut merasa tidak enak hati dan menjadi lebih diam.
"Rum, mau ikut beli minuman kaleng di mesin depan?" tanya Niken, menghampiri Arumi yang terlihat kurang sehat.
Arumi mengangguk dan meninggalkan Indah dan Bayu yang terus diam dengan tatapan bengong mereka.
Niken berjalan keluar di ikuti Arumi, membuat beberapa anak mengikuti mereka.
"Rum, katanya Selen sakit. Dia sakit apa? Gue dengar dari Emak gue, katanya dia di rawat ya?" tanya salah seirang teman kelas mereka, tampak cemas.
Arumi mengangguk pelan. "Iya. Gue udah jenguk dia kemarin. Keadaannya lumayan parah." Arumi menahan napas beberapa saat sebelum menghela napas panjang. "Kalau kalian ada rencana jenguk dia, sebaiknya jangan dulu deh. Kita jenguk rame-rame kalau dia balik sekolah aja. Mungkin itu bakal lebih aman," ucapnya, memberikan saran.
Mereka mengangguk setuju. Karena sepertinya masalah Selena cukup privasi, jadi saran Arumi sangat masuk akal untuk di lakukan.
"Tapi dia masih bisa jalan, kan?" tanya Niken, kembali membuat Arumi mengangguk.
"Gak papa sih. Dia cuma kena luka lebam sama ada baret di lehernya sih. Yang lainnya aman aja," jawab Arumi, menjabarkan.
Teman-temannya langsung diam. Apa lagi setelah mendengar detail keadaan Selena dari Arumi. Luka baret di leher?
Berarti Selen telah melewati insiden yang sangat mengerikan karena nyawanya hampir terancam.
"Ugh ... semoga Selen cepat balik deh. Kalau kayak gitu, kasihan juga gue sama dia walaupun di kelas selalu pencicilan."
"Iya ... ya."
"Pokoknya kita doakan aja."
__ADS_1