
Arumi memandang sebuah batu nisan yang ada di hadapannya dengan tatapan sedih.
Arumi kembali mengingat kenangan buruk satu tahun yang lalu. Sosok Bima yang terlihat mengenaskan terakhir kali, tak pernah bisa lepas dari kepala Arumi.
Dia masih merasa bersalah dan bertanggung jawab. Tanpa dia tahu kalau ini adalah keputusan Bima sendiri.
Bima yang ingin mengakhiri hidupnya, tak pernah memikirkan orang-orang yang dia tinggalkan. Bagaimana perasaan mereka, bagaimana tersiksanya mereka atas rasa kehilangannya.
Bima yang egois, selalu menampilkan sosok yang sama di mimpi Arumi, tiap kali Arumi merindukannya.
"Lo juga datang?" tanya seorang lelaki, datang dengan seragam yang sama dan benda yang sama dengan Arumi. Satu buket bunga aster yang paling di sukai Bima.
Arumi menghela napas kasar dan segera bangkit dari tempatnya duduk. Dia membersihkan seragam bagian belakangnya dan menatap Rey dengan tatapan acuh.
"Gue duluan," ucap Arumi, menarik tas yang sempat dia letakkan di samping makam Bima dan hendak pergi.
Greb ....
Rey menahan tangannya. Membuat langkah Arumi terhenti di tempat itu dengan baik. "Bareng aja. Gue cuma sebentar," ucapnya, tiba-tiba mau bersinggungan dengan Arumi.
Arumi menghempas tangan Rey dan menatapnya tajam. "Gue gak mau bareng sama lo!" tajamnya, membalik langkah dan hendak pergi.
"Yang buat Bima seperti ini itu lo! Dari pada gue, bukannya lo yang merupakan orang spesial dia yang terus di bayangkan Bima di akhir waktunya?" Rey menatap Arumi yang berhenti melangkah, tapi tetap memunggunginya. "Lo orang yang dia kirim pesan untuk terakhir kalinya. Lo, Rum! Bukan gue."
"Maksud lo ngomong gitu apa? Lo salahkan gue atas kematian dia?" Arumi menoleh pada Rey, tapi air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya.
Rey tak terkejut melihat Arumi menangis. Karena dia sering melihat Arumi menangis jika ada sesuatu hal yang bersinggungan dengan Bima.
Lebih aneh lagi kalau dia tidak menangis. Karena kini, hanya Rey yang paling tahu kalau Arumi benar-benar belum move on dari sahabatnya ini.
"Gue gak berniat salahkan lo. Tapi gue juga berharap, lo gak salahkan gue untuk kematian dia." Rey menatap makam Bima dengan tatapan sendu yang terasa dingin. "Karena Bima yang memilih jalan itu. Lo atau gue, gak bersalah atas kepergiannya."
Dada Arumi semakin sesak. Dia juga tahu kalau itu pilihan Bima. Tapi dia tak bisa tak menyalahkan Rey atas kematian Bima.
__ADS_1
Karena bagi Arumi, hanya dengan alasan itulah dia bisa sedikit melindungi perasaannya. Dan hanya dengan itulah dia bisa melampiaskan amarahnya.
Rey selesai menabur bunga dan menyiram air di makam Bima. Dia juga meletakkan bunga di samping buket bunga yang di tinggalkan Arumi.
"Kita berdua sama-sama sakit. Dan semakin gak seharusnya kita saling menyalahkan." Rey berjalan mendekati Arumi dan memandangnya lekat. "Kita berdua punya kenangan yang berharga sama Bima. Kita juga sama-sama terluka karena Bima. Lo atau gue gak ada bedanya. Luka kita sama."
Arumi menundukkan kepalanya. Merasa sedikit bersalah karena selama ini dia terus menyalahkan Rey atas kematian Bima di atas kesadaran diri.
Tapi kata maaf tak pernah bisa keluar dari mulut Arumi. Padahal dia sangat ingin meminta maaf pada Rey. Tapi lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan kata itu.
Rey terdengar menghela napas berat dan membuat kepala Arumi kembali mendongak, memandangnya.
"Jangan nangis." Rey mengusap air mata Arumi dengan sapu tangannya dan memberikan lembaran kain itu pada Arumi. "Bima di depan sana. Dia bakal sedih kalau lo nangis tiap ketemu dia. Hargai sedikit perasaan sahabat gue yang pernah berjuang buat kebahagiaan lo, basipun pada akhirnya dia gak mampu mewujudkan semuanya dan malah tinggalkan luka besar buat lo."
Rey mulai melangkah pergi. Arumi mengikutinya seperti anak ayam mengikuti induknya. Kedua orang itu meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Bima.
Dua orang yang sama-sama menanggung luka dan kenangan yang sama, melangkah pergi meninggalkan seseorang yang menjadi biang kerok takdir mengejutkan mereka.
Rey mengantar Arumi pulang dengan selamat.
Kini keduanya telah berada di rumah Arumi, yang ternyata tak jauh dari rumah Rey.
"Masuk sana. Jangan nangis lagi," ucap Rey, menerima helm yang dia pinjamkan pada Arumi.
Arumi mengangguk dan langsung masuk, tanpa mengucap terima kasih atau mengucapkan selamat tinggal pada Rey.
Rey kembali menghela napas panjang dan melihat Arumi sampai masuk ke dalam rumahnya. Baru setelah itulah Rey pergi dari sana dan pulang ke rumahnya.
"Baru pulang?" tanya seorang wanita paruh baya, menyaksikan putra pertamanya masuk ke dalam rumah dan mendekatinya untuk memberi salam.
"Iya, Ma." Rey menyalami tangan Indira dan melihat makanan di meja makan dengan menelan ludahnya kasar.
"Lapar lo, Bang?!" celetuk seorang wanita yang memiliki umur sama dengannya, melengos duduk di meja makan dan mengambil piring untuk dirinya.
__ADS_1
Rey tidak menjawab dan berjalan pergi ke kamarnya untuk mengganti baju dan meletakkan tas sekolahnya di sana.
Baru setelah itu dia duduk di meja makan dengan adik kembarannya, Niken, dan makan bersama dengannya.
"Mama sudah makan?" tanya Niken, melihat sang Ibu yang di sibukkan dengan pesanan bakery-nya.
Indira mengangguk dan tersenyum tipis. "Mama makan nanti saja. Kamu makan saja yang kenyang," sahutnya, dengan suara lembut.
Niken mengangguk dan menatap pergerakan Abangnya yang meninggalkan meja makan, lalu pergi ke arah dapur, mendekati oven.
"Ma, ini aku oper urutannya ya?! Baunya sudah harum. Kayaknya yang bawah udah mau matang," ucap Rey, sambil memasang sarung tangan di tangannya, dan membantu sang Ibu untuk melakukan pekerjaan remeh itu.
Indira menoleh pada Rey dan tersenyum. "Iya, makasih sayang."
Rey hanya tersenyum dan kembali duduk di meja makan, meneruskan acara makannya yang sempat tertunda karena itu.
"Lo gak ikut lomba kali ini?" tanya Indira, memandang Rey yang fokus makan tanda bicara apa pun.
Rey menoleh pada Niken, mengunyah makanannya dengan cepat dan menelannya. Baru setelah itu dia menjawab pertanyaan sang adik.
"Gak ada waktu. Gue udah di daftarkan buat ikut lomba internasional. Baru aja masuk babak satu, kayaknya sebentar lagu tanggal babak keduanya bakalan keluar," jawab Rey, menjelaskan.
Niken mengangguk paham dan memandang Ibunya yang di sibukkan dengan pekerjaan bakery-nya.
Niken mendekatkan wajahnya ke Rey, berbisik lirih tentang sesuatu yang sensitif, yang tak boleh terdengar di telinga Indira.
"Bang, lo dengar soal perceraiannya Om Edi sama Tante Helena, enggak?" celetuk Niken, membuat kedua bola mata Rey melebar sempurna.
"Lo yakin? Basipun bentukannya kayak gitu, tapi Om Edi benar-benar suka sama Tante Helena. Mana mungkin mereka cerai?!" pekik Rey, tak menjaga volume bicaranya dan membuat sang Ibunda mendengar.
"Rey, Niken! Sejak kapan kalian jadi kayak ibu-ibu kompleks yang suka gosipin tetangga?!" ketus Indira, menatap tajam kedua anaknya yang sudah ciut, melempem kayak kerupuk ke siram air.
"Hehehe ... ampun, Ma," ucap keduanya, kompak.
__ADS_1