Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Cinderella #4


__ADS_3

Jejejeng...!" Sebuah Taksi, dengan gambar Kereta Kuda menempel di jendela belakangnya.


"Gambarnya... Jelek sekali Sugi." Ucap Lita mengeluh, setelah melihat gambar buatan Sugi yang jelek.


"Taksi ya." Ujar Luki ikut kecewa.


"Ini penyamaran." Jawab Sugi dengan bangga.


Lita dan Luki masih terdiam, Mereka sedikit kecewa dengan kendaraan yang di siapkan Sugi.


"Tapi, kalau di dalam Mobil, nggak keliatan gambarnya." Lanjut Lita Murung.


Luki yang melihat Lita sedang murung, langsung menarik tangan Lita mendekat ke Taksi itu.


"Bayangkan saja sedang naik Kereta Kuda, semua akan sesuai perasaanmu, nggak selamanya yang asli itu yang terbaik." Ucap Luki membujuk.


"...Luki juga mau membayangkan naik Kereta Kuda?" Tanya Lita.


Ia bilang seperti itu untukku..." Batin Lita masih terpesona.


"Naiklah." Jawab Luki simpel.


"Yahh, karena Cinderella bilang begitu, Aku nurut." Ucap Lita sambil tersenyum, lalu masuk kedalam Taksi.


Aku gak bermaksud bilang begitu, tapi.. gak apa-apalah." Batin Luki.


Setelah Lita masuk duluan ke dalam Taksi, kemudian Luki ikut masuk ke dalam Taksi itu. Sementara Sugi, Ia duduk di depan, bersama dengan Supir Taksi itu.


Bruum...." Taksi pun berangkat.


"Kau lagi membayangkan Naik Kereta Kuda?" Ujar Luki ketika melihat Lita, yang sedang asyik memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia.


"Tentu saja, Aku sedang naik Kereta Kuda bersama Cinderella." Jawab Lita berbinar-binar.


"Sayang sekali, bukan Aku Cinderella nya." Lanjut Lita.


"Memangnya Kau pernah seperti Cinderella yang bekerja membanting tulang?" Ucap Luki.


Set.." Lita membuka matanya, lalu melirik ke arah Luki.


"Benar.. Kalau memikirkannya, Aku jadi senang, Luki hebat. Sepertinya hari ini akan menyenangkan." Jawab Lita dengan ekspresi kagum dan ceria.


"Kau pasti kaget, karena Aku berbeda dengan kabar itu." Ujar Luki sambil melihat ke arah jendela sampingnya.


"Sudahlah.." Jawab Lita tidak ingin meneruskan topik itu.


"Barusan Kau kan menyuruhku membayangkan? Akupun bisa memwujudkan mimpiku. Luki orang yang baik." Ucap Lita ikut melihat ke arah jendela sampingnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kasih Aku uang." Ucap Luki lurus.


"Ternyata orang yang nyebelin. Barusan dipuji." Ujar Lita geram.


Haha, "Jadi yang mana?" Ucap Luki sambil tertawa lepas.


Dia tertawa lepas.." Melihat Luki yang sedang tertawa itu, Lita seketika menjadi terpesona dibuatnya, seakan pemandangan itu baru Dia lihat pertama kali.


Khu khu khu. "Yang mana jadinya?" Ucap Luki sekali lagi.


Mendengar itu, Lita menjadi salah tingkah. "I.. Itu...." Jawab Maria dengan wajah yang memerah.


Ini salah! Dia mengerjaiku, tapi Dia malah tertawa." Batin Lita gelisah.


Padahal Dia mengerjaiku... Dia mengerjaiku... Tapi Dia juga mengatakan hal yang baik, Aku jadi bingung.. Ukh jangan lihat Aku.." Batin Lita masih gelisah, apalagi saat Luki berhenti tertawa, lalu melihat Lita dengan senyumannya itu.


******


Rumah Lita - Lorong Belakang


Drap, drap, drap.. "Kelihatannya sibuk." Ucap Luki sambil melihat para pelayan berlalu lalang dengan cepat.


"Aku tunggu di belakang?" Tanya Luki penasaran.


"Disana, Cinderella datang terlambat, jangan keluar dulu." Jawab Lita, sambil menunjuk ke arah ruangan, di samping Sugi yang sedang melambai.


.


Setelah Mereka masuk ke dalam Ruangan itu, kedatangan Mereka di sambut hangat oleh Ria, Pengasuh Lita.


"Anda pasti Tuan Luki, selamat datang. Saya Ria Pengasuh Nona Lita." Ucapnya memperkenalkan diri dengan sopan.


"Ria, Luki nggak sama dengan desas-desusnya." Saut Lita kepada Ria yang sedang memperkenalkan diri.


"Suatu kehormatan Saya bisa diundang kesini." Jawab Luki dengan sangat sopan kepada Ria.


Ehhh? Saya..?" Kompak Sugi dan Lita terkejut dalam hatinya.


"Saya berterima kasih kepada Putri." Lanjut Luki dengan lancar.


"Nona Lita, Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya bukan?" Ujar Luki kepada Lita.


Eh?..apa-apaan sikapnya beda sekali dengan yang tadi. Dia juga bicara sopan padaku?" Batin Maria masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Rencananya Kita akan Jatuh Cinta bukan?" Tambah Luki.


Cinta? Ah benar, sudah di rencanakan sebelumnya, semua ini hanya pura-pura. Benar." Dalam hati Lita menjadi kecewa.

__ADS_1


Kejadian itu berlangsung beberapa saat saja. Kini, Luki dan Lita sedang membicarakan Rencana Mereka lebih detail lagi.


"Saat itu Aku muncul dari sini?" Tanya Luki sambil menunjuk ke arah Peta di atas meja.


"Ya, nanti Aku akan memberi petunjuk." Jawab Sugi.


"Setelah itu, Luki bicara kepada Nona Lita..." Lanjutnya, namun di potong oleh Luki.


"Tuan Putri, bersediakah Anda berdansa denganku." Ucap Luki, sambil mengulurkan tangannya kepada Lita.


Eh?!.." Lita terperanjat kaget oleh aksi Luki itu.


Suasana mendadak hening sebentar...


Waa! Aku pasti dimarahi, padahal Dia sudah berusaha." Batin Lita.


"Ada apa, Nona Lita?" Tanya Luki khawatir.


Tap! "Tidak apa-apa, begitu sudah bagus, nanti tolong ya." Ucap Lita sambil berdiri, lalu berjalan ke arah pintu keluar.


"Aku mau ganti baju, sampai nanti." Blam!..


Lita langsung lari dengan cepat setelah menutup pintu itu, bahkan Ia tidak menghiraukan Ria yang mengejarnya dari belakang.


"Tunggu Nona Lita.." Saut Ria cemas.


Perasaan apa ini? Padahal Luki sudah melakukannya seperti Cinderella. Tapi itu, bukan Luki.... Benar, Aku memintanya untuk melakukan sesuai impianku. Inilah yang kurindukan, sudah terwujud, pasanganku Luki, si Cinderella. Tapi kenapa, Aku tidak bahagia." Batin Lita bertanya-tanya.


.


Sementara itu, di dalam ruangan...


"Kenapa Dia, Lita jadi aneh ya.." Ucap Luki, kembali menjadi dirinya yang sebelumnya.


Waaa... Luki yang asli," Sugi terkejut melihat Luki yang berubah kembali.


"Ternyata Kau memang Luki, Aku kaget, tiba-tiba Kau jadi seperti Bangsawan Muda." Ucap Sugi jelas.


"Itu ya? Dua-duanya itu Aku. Malah Aku selalu bersikap seperti itu." Jawab Luki santai, sambil menyandarkan tangannya di atas penahan kursi.


"Sebenarnya, ini harapan Dia sendirikan? Tapi apa yang membuat Dia jadi nggak suka?" Tanya Luki kepada Sugi.


Huh.."Padahal waktu tiba disini, Dia masih terlihat senang." Lanjut Luki sambil menghela nafas.


"Apa ini akan jadi hari yang menyenangkan baginya? Apa Dia benar-benar bahagia dengan ini?" Tambah Luki, sambil memasang wajah cemas.


"Luki..." Ucap Sugi pelan.

__ADS_1


°°°°°°°°


__ADS_2