Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Cinderella? #5


__ADS_3

Kamar Lita


Lita sedang bersiap untuk pesta nya nanti, dan sekarang, Ia sedang melamun di hadapan cermin, mengamati pantulan dirinya, yang terlihat murung.


"Tuan Luki itu hebat ya." Saut Ria, berhasil memecahkan lamunan Lita.


"Kelihatannya saja begitu, Dia hanya pura-pura. Sebenarnya Dia itu menyebalkan, suka menindas, dan licik." Jawab Lita tegas.


"Dia menyebalkan?" Ucap Ria tidak percaya.


"Ah.. Nggak juga, ada juga sisi baiknya, Dia mau mendengarkan ceritaku." Ucap Lita merasa tidak enak.


"Waktu kubilang mau pakai uang, Dia melarang ku melakukan hal yang nggak berguna, orang yang aneh ya? Haha...." Lanjut Maria sedikit gelagapan.


"Sepertinya anda suka pada Tuan Luki." Ucap Ria menyimpulkan, sambil memasang ekspresi sangat yakin.


Blusssh..." Pipi Lita memerah.


Eh.. "Suka!? Bukan! Nggak kok..." Lita memasang tingkah aneh.


"He... kalau begitu..."


"Apa?" Lita kesal dengan nada bicara Ria.


"Cinta." Ucap Ria dengan jelas.


Mendengar kata itu, Lita menjadi terdiam sejenak, pipinya yang masih merah tadi, sekarang menjadi makin merah.


"Nggak. Luki itu sama sekali nggak seperti Pangeran. Nggak sesuai idamanku. Malahan Dia itu Penjahat!" Jawab Lita kesal.


Hm? "Tapi Dia baik kan? Anda senang dengan penyamarannya yang awal?"


"Ya..." Jawab Lita singkat.


...******...


Singgasana Lita - Ruang Pesta


Aku ini bodoh, kalau melakukan pertemuan impianku sesuai skenario, itu sih sudah bukan mimpi lagi. Aku bingung.. Bagaimana dengan kenyataannya?" Batin Lita murung.


"Nona Lita, silahkan turun." Saut Sugi memanggil Lita.


Syut.. tap tap.." Lita turun dari singgasananya, dan berjalan ke altar pesta.


Benar, Aku senang kalau bisa bertemu dengannya tanpa pura-pura. Maafkan Aku, Luki.." Lanjut Lita dalam hatinya yang goyah.


Was wes wos was weos..." Suara ramai dari obrolan para pengunjung pesta.


Sekarang Lita berada di tengah-tengah kerumunan itu, Ia merasa bingung setelah melihat sekitarnya.


Banyak orang! Dan Aku kecil.. kalau orang-orangnya tinggi semua begini, Aku nggak akan tahu kalau Luki sudah datang." Pikir Lita, sambil berjalan pelan menuju ke sisi altar.


... Aku benar-benar tidak bisa melihat kenyataan. Sudahlah... Mau bagaimanapun juga, ini sudah gagal." Lita makin murung setelah sampai di pinggir.


"Lita.." Teriak seseorang memanggil namanya.


Ternyata yang memanggilnya itu adalah Erik, Dia perlahan mendekat kepada Lita yang sedang murung.


"Nggak apa-apa kamu di pinggir? Kau harus mencari orang untuk dansa, sudah menentukan pasanganmu?" Tanya Erik kepada Lita.


Ah... Erik, Aku sudah lupa tentangnya." Ucap Lita lemas dalam hatinya.


"Kau nggak semangat ya, ke tengah lagi sama Aku yuk. Ayo tangannya.."


"Ah.. baik.." Jawab Lita tanpa melihat Erik, lalu mengulurkan tangannya.


Drap drap drap..." Suara langkah Sepatu yang terdengar sampai ke telinga Lita.


Semua pandangan teralih kan ke arah pintu masuk. Suasana tiba-tiba menjadi hening, dan membuat Erik dan Lita penasaran dengan keadaan ini.


"Ada apa?" Ucap Lita merasa bingung dan memberhentikan tangannya saat akan menggenggam tangan Erik, begitu juga dengan Erik, Dia penasaran kepada para tamu pesta yang sedang mengalihkan pandangannya.


Drap drap drap..." Orang itu sudah sampai di tengah altar, lalu mendekat ke arah Lita berada.


Eh.." Lita terkejut setelah melihat penampilan orang itu.


Orang itu ternyata Luki, Dia berjalan menggunakan Sepatu Kaca, sambil memakai pakaian seperti pangeran buatan Lita. Sambil tersenyum, Ia berjalan perlahan ke arah Lita.


Lita masih tidak percaya dengan kehadirannya yang mencolok itu, dengan raut wajah kaget, Lita membatu melihat Luki.


Dia mau pakai baju itu? Tersenyum menawan!?" Batin Lita terkejut, Dia tidak menduga Luki akan berpakaian seperti itu.


"Siapa Dia?" Erik bingung, melihat orang yang berpakaian mencolok sedang mendekat ke arahnya.


Dengan senyumannya yang menawan itu, Luki sampai di hadapan Lita, dan tanpa menunggu lama, Ia langsung bertekuk lutut di hadapannya.


"Tuan Putri, bersedia kah anda berdansa denganku?" Tanya Luki sambil mengulurkan tangannya.


Lita tidak merespon ucapan Luki itu, Ia masih dalam keadaan membatu tidak percaya.

__ADS_1


3 detik kemudian..


"Ayo cepat pegang tanganku!" Ucap Luki pelan dengan raut wajah yang kesal.


Bagaimana tidak, karena Lita hanya diam saja melihatnya, sementara Luki sudah mengulurkan tangannya dengan mencolok. Dan karena ucapannya itu, berhasil membuat Lita tersentak dari lamunannya.


Lalu dengan cepat, Lita mengulurkan tangannya juga kepada Luki.


Ini Luki..?" Batin Lita bertanya.


"... Bukannya Luki nggak mau pakai itu?" Tanya Lita sambil berjalan perlahan menuju ke tengah altar bersama Luki.


"Kan Kau yang menyuruhku pakai ini..." Jawab Luki.


"Tadinya ini kelihatan nggak menarik kan, rasanya ada yang kurang. Lalu Sugi menyarankan sesuatu, dan akhirnya seperti ini." Ucap Luki menjelaskan.


"Jadi... Apa Kau nggak malu?" Tanya Lita polos.


"Ya malu!" Jawab Luki kesal.


"Sudahlah, ayo senyum, jangan malu-malu, nanti malah jadi memalukan." Ucap Luki memotong pembicaraan itu.


"Ayo, pede aja biar nggak kelihatan malu."


"hahaha... Ini hebat." Ucap Lita tersenyum bahagia.


"Kau disuruh pura-pura sama pasanganmu? Harusnya nggak usah.." lanjut Lita sambil tertawa kecil.


"..oi!?" Ucap Luki.


"....Terima kasih Luki." Ucap Lita sambil mengeluarkan butiran air mata di sudut matanya.


"Kau sampai nangis, sepertinya usahaku berhasil." Ucap Luki dan ikut tersenyum tulus.


Teng teng teng teng..." Suara bunyi lonceng terdengar keras menandakan sekarang sudah tepat tengah malam.


"Ah... Jam 12!" Maria terengah mendengar suara lonceng itu.


"Berarti Aku harus pulang ya? Saatnya sihirnya hilang." Ujar Luki yang ikut terengah setelah mendengar suara lonceng itu.


"Eh? Sihir!? Kau mau pulang?!" Ucap Lita tidak ingin Luki pergi.


"Mau sampai kapan pakai baju ini? Aku mau ganti baju."


"Tapi, Kau belum sempat membuat kontak."


"Begini saja Aku sudah jelek dan mencolok. Hari ini sudah cukup." Jawab Luki biasa


"Nggak apa-apa. Selamat Ulang Tahun, Putri Lita." Ucap Luki seraya mengelus pucuk kepala Lita.


"Sehat selalu ya." Lanjutnya sambil tersenyum hangat kepada Lita.


Plok plok plok plok.." Suara tepuk tangan yang meriah datang berhamburan dari pengunjung pesta.


Selamat ulang tahun, Nona Lita."


Nona Lita.."


Selamat..." Semua orang mendekat ke arah Lita, menyalaminya, dan memblokade Lita agar tidak bisa kabur, Luki yang berada di dalam kerumunan itu, langsung pergi tanpa pamit kepada Lita.


"Tung..tunggu!" Saut Lita yang tidak terdengar oleh Luki, yang perlahan sudah menjauh dari pintu keluar.


Setelah kerumunan itu sedikit mereda, Erik datang menghampiri Lita yang sedang cemas.


Tap!" Erik menangkap tangan Lita yang hendak menyusul Luki.


"Selamat ya, Lita." Ujar Erik.


"Erik."


"Apa-apaan sih? Dia bukan orang yang Kau pilih kan? Biarpun ada yang menyuruh, tapi kalau memakai pakaian seperti itu, pasti orang itu punya maksud tersembunyi." Ucap Erik tidak jelas.


"Lepaskan! Aku suka Luki!" Teriak Lita sambil melepaskan tangannya dari Erik.


"Walaupun permintaanku mustahil, Dia tetap datang mewujudkannya. Dia nggak suka, tapi Dia tetap memakai pakaian itu. Jangan berkata jahat tentang Dia!!" Pungkas Lita marah.


Drap drap drap..." Lita langsung berlari meninggalkan Erik sendirian.


"Wah wah. Erik, ini mengagetkan... Bagus, sepertinya ada manfaatnya ya." Ujar Ayah Lita yang menghampiri Erik.


"Wa... Lita juga imut waktu nangis." Ucap Erik terpesona.


"...! Kau juga cepat cari gadis yang lain." Ucap Ayah kepada Erik.


...*****...


Aula menuju pintu keluar...


Tap tap tap tap tap..." Lita berlari kencang ke arah pintu.

__ADS_1


"Tunggu Luki!!!" Teriak Lita yang masih berlari.


Luki yang sedang berjalan perlahan menyusuri tangga, berhenti tanpa menoleh ke arah suara Lita yang berada di belakangnya.


"Ada apa?" Tanya Luki.


"Itu... Apa Kau akan datang Ke Istana lagi?" Jawab Lita dengan pertanyaan.


"Aku bukan orang berstatus yang bisa gampang datang ke sini." Jawabnya.


"Buat alasan saja."


"Aku nggak punya uang untuk sampai kesini, ini lumayan jauh."


"Oh iya, bekerja di Istana saja." Ucap Lita yang masih berusaha agar Luki tidak pergi.


"Bagaimana hubungan dengan Tuan Putri? Hubungan kita akan di curigai kan? Sepertinya ada juga dongeng yang seperti itu."


"Terserah bagaimana caranya, Aku ingin bertemu Luki...!" Teriak Lita, sambil memejamkan matanya yang hampir menangis.


Mendengar itu, Luki terdiam sejenak, lalu membalikkannya kepalanya, menengok ke arah Lita. Dia sedikit terkejut, karena melihat air mata yang sudah di tahan Lita, sekarang berhamburan membasahi pipinya.


"Kau mengejar sambil menangis? Memalukan." Ucap Luki sambil mendekat ke arah Lita.


"Huu... Habisnya..." Jawab Lita masih menangis.


"Apa boleh buat, sebenarnya Aku nggak mau melakukan ini." Ucap Luki lalu mengeluarkan Sepatu Kaca dari dalam sakunya.


Swusshh,..bruuk!" Luki melempar Sepatu itu ke dekat pintu.


"Apa yang Kau lempar? Sepatu!?" Tanya Lita setelah melihat aksi yang di lakukan Luki.


"Benar, bawa dan pulanglah. Cinderella menjatuhkan Sepatunya dan pulang. Setelah itu Pangeran datang menjemputnya." Jelas Luki.


"Eh. Jadi kalau dijemput, Cinderella akan datang Ke Istana?"


"Memang begitukan ceritanya?"


Cara bicaranya... Hiks..." Lita mengeluarkan air matanya lagi.


"Nangis lagi?"


"Aku nggak nangis, kelenjar air mataku rusak."


"Sudah, jangan nangis..." Luki mendekatkan tubuhnya kepada Lita, lalu...


Cupp.." Luki mencium kening Lita dengan lembut.


"Aku akan datang lagi." Ucap Luki setelah mengecup kening Lita.


Eh... Bruk!" Lita membatu sampai terjatuh ke lantai.


Ini dongeng atau kenyataan?" Batin Lita.


Pipinya merah, matanya tidak menutup, dan hanya menatap kekosongan, Lita masih terkejut dengan aksi yang di lakukan Luki tadi.


******


Di lain hari - Rumah Luki...


Tok tok tok..." Sugi mengetuk pintu Rumah Luki.


"Kami datang menemuimu, Luki." Ucap Sugi setelah masuk ke dalam Rumah Luki.


"Eh.. jadi Cinderellanya itu Luki? / Kau jadi pengantin laki-lakinya?" Ucap Kakak-kakaknya Luki secara bersamaan.


"Bukan begitu." Luki berusaha menjelaskan kepada Kakak-kakaknya.


"Itu tidak menutup kemungkinan." Potong Sugi ikut pembicaraan.


"Sebelum berhubungan dengan Putri di Istana, Kau harus punya profesi dulu. Kau sukanya seperti itu kan? Nona Lita bilang begitu." Ucap Sugi sambil menunjukan kartu di tangannya.


"Ini kartu profesi, mau yang mana?"


"Oh... Aku mengerti." Ucap Luki dengan wajah serius.


...*****...


Sementara itu di Rumah Lita....


Tuan Putri Miltonia sedang menunggu seseorang, seperti kisah dongeng pada umumnya, Lita sedang duduk di samping jendela yang terbuka, sambil tersenyum, Ia memikirkan banyak harapan indah di benaknya.


Inilah awal kisah cinta Putri dengan Pangeran yang berjanji akan datang menemuinya.


.


Cinderella? Selesai...


...°°°°°°°°°°°°...

__ADS_1


Terima kasih sudah baca ceritaku yang terkesan abstrak ini, next bakal ada cerita menarik lainnya, terima kasih.


Jangan lupa untuk tersenyum ~dhalp


__ADS_2