Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Sweet Nightmare #3


__ADS_3

Grep!" Iyan langsung menarik tanganku.


"Jadi kalau dilihat baik-baik, Aku nggak membuatmu takut ya..." Ucap Iyan sambil berjalan menuntunku entah kemana.


Walau Aku senang karena bertemu orang tampan, tapi apa ini? Apa yang akan Iyan lakukan. Ah... Aku belum siap untuk mencoba nikmat dunia...


"Nah.. Tolong potongkan..." Sesampainya di sebuah ruangan, Ia langsung mengambil gunting, lalu menyodorkannya kepadaku.


"Eh!? A.. Aku yang...?" Ucapku gugup sambil melihat kilauan gunting itu.


Ya, Aku tahu maksudnya apa, tapi...


"Iya." Grep! Iyan langsung menarik tanganku, lalu menyerahkan gunting itu secara paksa.


"Se... Sekarang juga!?" Ucapku gugup gemetaran.


"Betul..." Jawab Iyan santai.


"Eh!?" Aku, masih dengan kegugupanku.


"Ayo potong..." Ucap Iyan santai, bahkan terlalu santai! Dia menarik tanganku yang sedang memegang gunting ke arah wajahnya!


"Uh..." Orang normal mana yang tidak kaget, jika ada, bawa cepat ke hadapanku!


Walaupun Aku ragu di campur takut, tapi entah kenapa rasanya... Aku nggak bisa melawannya...


"Iya..." Jawabku, lalu mulai memotong poni Iyan.


Ckrik, ckrik, crkrik.." Beberapa menit telah berlalu.


"Sudah Kau potong!?" Tanya Iyan dengan senyuman dewa iblisnya.


"I.. Iya.." Jawabku gugup melihat senyuman itu.


"Kau melakukannya dengan baik... Mulai sekarang, Kau bisa melihat mataku kapanpun Kau mau..." Ucap Iyan sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.


Kau tahu, momen seperti ini adalah hal yang di impikan setiap orang, bahkan Aku sampai lupa apa yang terjadi setelah itu, ingatanku seakan tersimpan agar Aku menjadi lebih penasaran.


...******...


Jika kalian bertanya, di Runah ini apa hanya kita berdua, jawabannya adalah iya, karena sekarang, orang tua Iyan sedang jalan-jalan, jadi Aku hanya berdua saja di Rumah dengannya.


"Tapi kalau Aku ubah sudut pandangku tentang Rumah ini, kesannya antik deh, manis juga ya." Ucapku sambil membaca buku di karpet Ruang Keluarga.


"Manis ya katamu, nanti keluar lho..." Jawab Iyan dengan nada memperingatkan.

__ADS_1


"Eh!?" Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada Iyan.


"Makhluk gaibnya..." Lanjut Iyan santai, bahkan Ia tidak melirik ke arahku, dan masih rebahan di sofa.


"Bohong ah!? Teriakku secara refleks.


"Sudah nggak bisa Kau tarik lagi kata-katamu, nanti mereka akan muncul.." Ucap Iyan masih menakut nakutiku.


Gimana ini!!" Batinku sekarang sangat ketakutan.


Mendengar kata hantu, siapapun pasti takut, kecuali memang orang itu pemberani, tapi hal itu berbeda, ini bukan tentang keberanian belaka.


"Aku nggak bisa pergi ke toilet sendirian malam-malam dong!!" Ucapku makin terkejut.


"Bareng Aku saja, nanti Aku temani." Jawab Iyan menyudahi membaca bukunya, lalu melirikku.


"Ehh!! Nggak mau! Malu dong!!" Jawabku spontan.


Malam hari...


Uhh.. Kenapa malam ini datang dengan cepat, kenapa tadi Aku harus mendengar cerita seram, kenapa Aku harus ke toilet malam-malam, kenapa Aku tidak tidur saja..


Aaaaaaaaaahh!!" Teriakku dalam hati.


Aku sebenarnya sudah bisa menebak keadaan seperti ini, tapi tidak kusangka, ternyata kenyataannya lebih parah.


Dan lagi, Aku nggak bisa minta tolong sama Dia, Aku malu. Uh... Tapi, sudah di ujung tanduk....


"I.. Iyan.. Ma.. Mau tidak, temani Aku ke toilet?!" Ucapku malu kepada Iyan yang sedang bersantai nonton tv.


Ya, pada akhirnya Aku menelan bulat-bulat kata malu itu, dan lebih memilih untuk meminta bantuannya.


"Boleh." Jawab Iyan langsung setuju.


Untunglah, Iyan langsung setuju tanpa banyak berkata-kata lagi, hatiku setidaknya bisa sedikit tenang untuk sekarang.


.


Di jalan menuju toilet....


"Waa.. Aku sudah nggak tahan lagi!!" Rengekku yang sekarang sedang berjalan sambil menggandeng tangan Iyan.


"Kalau Kau nggak lebih erat pegangan padaku, nanti hantunya muncul lho..." Ucap Iyan sambil fokus berjalan kedepan.


Gya...!!" Teriakku penuh rasa takut karena melihat sekelibatan di depanku.

__ADS_1


"Yang benar saja...!" Lirihku sambil menggenggam erat tangan Iyan.


"Tuhkan, lebih baik kalau dari awal Kau minta Aku temani..." Ucap Iyan, namun Aku tidak melihat bagaimana ekspresinya sekarang, Aku terlalu fokus pada kegelapan yang berada di sudut itu.


Aku tidak menanggapi ucapannya itu, bahkan sampai Aku tiba di kamar mandi.


.


Setelah selesai...


Blaamm!" Aku menutup pintu cepat.


"Barusan ada suara aneh di kamar mandi!!" Ucapku penuh ketakutan.


"Itu hantunya.." Jawab Iyan yang menunggu di depan pintu.


"Yang benar saja! Ayo cepat kembali." Ucapku lalu berjalan mendahului Iyan.


"Barusan, lukisan itu gerak ya." Aku berhenti di tengah jalan, dan tanpa sengaja melihat sekilas ke arah lukisan seorang wanita, entah kenapa mataku malah menangkap hal aneh itu.


"Itu pasti hantu." Jawab Iyan santai di belakangku.


Kamar


"Huuu, huuu, huu..." Rengekku sambil bersandar di punggung Iyan.


"Seki, sepertinya Kau nggak bisa apa-apa." Ucap Iyan membuka obrolan.


Ya, memang benar katanya, bahkan Aku tidak bisa membantah, Aku memang lemah kalo sudah di hadapkan dengan hal-hal seperi ini. Hiks'


"Hmmm, kalau nggak ada Aku, ya...."


"uhh... Bisa jadi..." Jawabku sambil membayangkan fantasi gelap di kepalaku.


Kalau Iyan nggak ada, Aku repot juga nih." Batinku.


"Kalau hantunya sebanyak ini, Aku jadi nggak bisa tidur." Keluhku.


"Kalau nggak bisa tidur... Ayo lakukan sesuatu yang menyenangkan, bersamaku..." Ucap Iyan sambil berbalik, lalu Ia menahan tubuhku yang akan jatuh, karena sandaranku hilang.


Deg!!" Seketika jantungku bergejolak, wajahnya seakan makin mendekat ke arahku.


Dalam posisi seperti ini, pikiranku tidak beraturan, imajinasiku berantakan, apa yang akan di lakukan Iyan, apa Ia akan...?


...°°°°°°°...

__ADS_1


__ADS_2