
Zaaasshh...." Suara Hujan bergema menyelimuti malam.
"Bagimana ini Miri? Sepertinya hari ini Tuan dan Nyonya nggak pulang, cuma Kita berdua di rumah ini." Ucap Ueno dengan riang gembira.
".... Benar Ueno, hanya ada dua anak perempuan, dan itu sedikit menyeramkan." Ucapku tanpa sadar memanggilnya Ueno, karena sedang fokus membaca buku.
"Kau memanggilku Ueno?" Ucap Reno bahagia.
Saat Reno bilang begitu, Aku langsung sadar seketika, karena secara tidak langsung, Aku mengakuinya sebagai perempuan, dan Aku sedikit malu karenanya.
"Aku mau mandi lalu tidur." Ucapku beranjak dari kursi, sambil berusaha tidak menunjukan raut wajahku.
"Kau boleh istirahat, Aku mandi di bawah, Kau bisa pakai yang di atas. Sudah ya, selamat malam." Lanjutku sambil berjalan ke arah pintu.
Blam!" Aku menutup pintu cepat.
Jujur, entah kenapa saat Dia bilang berdua denganku di rumah, Aku merasa tidak keberatan, seolah sudah tidak masalah dengannya. Dan apa tadi, baru kali ini Aku memanggilnya Ueno.
Tidak apa-apa kan? Toh Dia disini sebagai perempuan. Benar, Dia itu perempuan, perempuan!
...*******...
(Sehabis mandi)
Haahh... Untung Rumahku besar. Kalau di pikirkan terus, rasanya Aku makin malu pada Reno. Entah apa sebenarnya maksud pikiranku, semakin di pikir, semakin abstrak jawabannya.
Tep.." Tiba-tiba mati lampu saat Aku baru sedang berjalan di tangga.
Pada saat lampu tiba-tiba mati, Aku sangat terkejut, Aku kira bakal di bawa melintasi ke dimensi lain.
"Miri, Kau nggak apa-apa? Ukh... Apa nggak ada senter?" Mendengar teriak Ueno, Aku langsung merasa lega. Berarti Aku masih ada di dunia ini.
Brak brak.." Suara kegaduhan di kamar mandi.
"Apa yang Kau lakukan? Kau nggak apa-apa?" Sautku sambil merayap ke disisi tangga.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Aku baru keluar dari kamar mandi."
"Ada lilin di kamarku, akan Ku ambilkan." Apa boleh buat, karena Aku juga sedang menuju kamarku, untung saja kamarku dekat dengan ujung tangga, jadi mudah untuk di capai dalam keadaan seperti ini.
Klek!" Baru saja Aku membuka pintu..
Slashhh!!" Sambaran kilat terlihat jelas sampai menerangi seluruh sudut kamarku.
Kyaaaa...." Aku sangat terkejut dan takut setengah mati.
Setelah melihat gumpalan cahaya itu, Aku secara refleks langsung berlari ke arah samping kamarku.
"Eh, miri?" Aku sedikit mendengar suara kecil Reno, dan tanpa sadar, Aku berlari ke arah suara itu.
Drap drap drap." Aku terus menambah kecepatanku.
Dengan sedikit cahaya, akhirnya Aku menemukan Reno, lalu memeluknya dengan cepat, tanpa memperlambat kecepatan berlariku. Dugh!"
"Cahaya itu!" Gumamku di pelukan Reno.
Darrh!!" Ledakan guntur terdengar keras.
"Tirai, tutup tirainya!" Ucapku penuh ketakutan, bahkan sampai terengah-engah, dan menarik erat baju Reno.
Namun, karena Aku tidak kunjung mendengar jawaban Reno, tiba-tiba Aku menjadi sadar, dan merasa malu sendiri, bahkan Aku merasa bahwa sekarang pipiku sedang memerah.
Pasti Dia akan menertawaiku, apalagi Aku melompat ketakutan kepadanya. Hahhh.. Ditambah keheningan ini, pikiranku benar-benar campur aduk. Lalu, saat Aku akan melepas pelukan ini.
Tep..." Reno membalas pelukanku, bahkan apa ini? Dia sampai mengelus rambutku.
"Kau nggak apa-apa?" Ucapnya terdengar lembut.
"Aku tutup tirai kamarmu dulu ya.." Lanjutnya.
"Iya..." Jawabku pelan, Aku merasa semakin malu.
__ADS_1
Lalu Reno pun melepas pelukannya, dan menuntunku ke arah kamarku. Sesampainya disana, Aku menunggu Reno di luar kamar, saat Dia pergi, jantungku serasa mau copot.
Detak jantungku berdetak cepat layaknya pemain drum musik rock, sampai-sampai, kakiku lemas tidak kuat untuk berdiri. Sebenarnya apa itu barusan...!?
Sraaaak..." Suara tirai yang di geser.
"Lilinnya dimana?" Teriak Reno.
"Ada di atas meja pendek, ada korek api juga." Jawabku.
beberapa saat kemudian...
"Sudah kunyalakan." Saut Reno.
Mendengar hal itu, Aku langsung bangkit berdiri, dan berlari ke dalam kamarku, lalu langsung melompat ke kasurku begitu saja. Dash...
"Sudah nggak apa-apa?" Tanya Reno.
Lagi-lagi Aku membuat hal sembrono, kenapa Aku harus langsung melompat ke atas kasurku. Tidak ingin wajahku terlihat sedang memerah, Aku langsung menarik selimutku, sampai menutupi sekujur tubuhku tentunya.
"Iya.. Terima kasih." Ucapku di dalam selimut.
Hahh.. Aku malu, untung saja ada selimut ini, Aku tertolong.
"Kalau begitu, Aku minta satu lilinnya ya. Selamat tidur." Ucap Reno sambil berjalan ke luar kamarku.
Jgeerrr!!""
Kyaaa...." Teriakku setelah mendengar suara ledakan guntur itu.
Aku langsung mengeluarkan kepalaku dari dalam selimut. Dengan ekspresi ketakutan, Aku melirik ke arah Reno yang sudah sampai di pintu kamar.
"Mau ngobrol denganku? Sampai petirnya reda." Ucap Reno menyarankan.
...°°°°°°°...
__ADS_1