
Ini adalah cerita ketiga, kali ini Aku rubah temanya jadi anak sekolahan lagi, tapi dalam sudut pandang orang pertama, dan tentunya masih anak orang kaya, i hope you enjoy it.
...✨✨🙆✨✨...
Natal tinggal seminggu lagi, namun setiap tahun Aku tak pernah merayakannya. Aku tidak tertarik dengan Natal. Itulah yang Kupikirkan sebelumnya, tapi semua itu berubah, semenjak Dia masuk ke kehidupan Ku.
...*****...
Sekolah - Kelas 2
^^^18 Desember 2021^^^
Teng teng teng." Bunyi bel menggema hingga ke seluruh penjuru sekolah.
"Pulang sekolah, Kita mampir dulu yuk." Ucap Putri.
Putri adalah teman sekelas ku, bisa dibilang Dia adalah sahabatku, karena dari banyaknya teman yang kupunya, hanya Dia yang paling dekat denganku.
"Hari ini Aku langsung pulang. Hari ini Cucu Bi Dewi mau datang." Jawabku sambil memasukan buku-buku yang berserakan di atas meja ke dalam tas.
"Ah! Bi Dewi Pembantu di Rumahmu mau jalan-jalan ya?"
"Iya, karena itu, selama Dia pergi, Cucunya akan menggantikannya. Sepertinya Dia seumuran denganku, Aku jadi nggak sabar, harus cepat pulang."
"Satu minggu lagi, di Rumah tidak ada orang tua yang akan memperlakukanku seperti anak kecil. Ah senangnya." Ucapku sambil menantikan hari nanti.
Tentu saja Aku sangat senang dengan hal itu, bukan berarti Aku ingin bebas atau apapun. Tapi Aku hanya sudah bosan saja, dianggap sebagai anak kecil, diumurku yang sudah lebih dari 16 tahun.
__ADS_1
"Tapi tanpa Pembantu, Kau nggak bisa ngapa-ngapain kan? Kau memang anak kecil." Ucap Putri dengan ejekannya.
"Biar saja, Aku kan Nona Muda. Aku nggak suka ucapanmu itu Put, Seperti Mamaku!" Jawabku kesal.
"Hohohoho... Aku suka waktu Kau menyebut dirimu sendiri Nona Muda lho." Ucapnya tertawa mengejek.
Memang terdengar sombong jika Aku menyebut diriku sendiri sebagai Nona Muda, tapi sejujurnya Aku tidak pernah berkata seperti ini selain kepada Putri, dan soal Rumahku juga, hanya Putri yang tahu.
"Walau Kau tinggal di mansion yang besar, Ayah, Ibumu dan juga Bi Dewi menginginkanmu tumbuh sebagai orang biasa."
"Tapi, anak perempuan yang kaku ini, nggak sesuai dengan harapan mereka. Ia nggak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali. Hiks Mama Sedih." Ejek Putri ditambah berpura-pura menangis.
Jujur itu membuatku kesal, tapi memang begitulah Dia, dan hal ini juga yang buat Aku menjadi nyaman berteman dengannya, memang the bestlah temanku yang satu ini.
"Kalau Kau tambahi lagi, Aku akan benar-benar membencimu, cuma Kau saja yang tahu sampai sejauh itu." Ancamku.
"Sampai jumpa besok." Teriak Reno kepada Putri, ya sebenarnya kepada semua orang sih, cuman Dia mengucapkannya sambil melihat satu persatu temannya.
"Hei awas, bye bye Reno!" Ucap Putri sambil menggeser tubuhku, lalu menjawab salam dari Reno.
"Padahal Aku mau jadi yang pertama pulang." Gumamku sambil melihat Reno yang pulang pertama kali.
"Dia selalu imut ya, Aku mau Dia jadi Adikku." Ucap Putri dengan ekspresi terpesona, setelah menjawab salam dari Reno.
"Memangnya bagus ya kalau imut? Itu kekanak-kanakkan. Aku lebih memilih orang yang dewasa."
Fuuuh.. "Kau mau pura-pura jadi orang dewasa?" Jawab Putri setelah menghela nafasnya.
__ADS_1
"Anak laki-laki imut itu, menggelitik hati Kakak! Aku ingin Cowot imut memanggilku Kakak. Dengan wajah seperti itu, Aku jadi ingin memperhatikannya terus! Kau paham? Dia seperti Idola." Halu Putri.
"Yah... Reno bisa melakukan apa saja, Aku jadi kagum padanya." Tambah Putri seperti tidak akan habisnya jika membicarakan tentang orang yang disukainya.
"Aku nggak ngerti, itu sih hobimu sendiri Put. Aku mau pulang, jadi telat deh, karena obrolan nggak penting." Gerutuku sambil mengaitkan tas selendang rajut bermotif bunga di bahuku.
"Benarkah? Tapi Kau yakin bisa akrab dengan Cucunya Bi Dewi?" Tanya Putri.
"Tentu saja. Dah Aku duluan.." Jawabku sambil melenggang pergi.
"Hati-hati, Kalau ada apa-apa kabarin ya!!" Teriak Putri.
Aku hanya melambaikan tanganku sambil membelakangi Putri, lalu berjalan santai ke arah pintu keluar.
O iya, Aku belum memperkenalkan diriku dengan baik. Namaku adalah Miri, Aku bersekolah di Sma Pertama, Sekolah Swasta yang cukup bergengsi, Aku pilih Sekolah ini karena cukup dekat dengan Rumahku.
Aku berasal dari Keluarga yang berkecukupan, dan karena hal itu, semua orang memanjakanku, tapi seperti kata Putri tadi, kedua orang tuaku menginginkan Aku menjadi orang biasa.
Maksudnya agar Aku dapat memilih kehidupanku sendiri, tapi sayangnya Aku belum bisa hidup mandiri hingga sekarang, entah kenapa Aku payah dalam urusan pekerjaan rumah tangga.
Padahal sedari kecil Aku selalu berlatih dengan bantuan Bi Dewi, tapi semua pekerjaanku selalu berantakan....
Haaahh..."
...°°°°°°°°°...
Hari ini cukup sekian dulu bab perkenalannya, sampai jumpa besok di episode selanjutnya.
__ADS_1