Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Dear My Guardy #3


__ADS_3

Lapangan Olahraga


Sekarang adalah mata pelajaran olahraga, mata pelajaran yang melelahkan dan cukup merepotkan, Aku harap cepat selesai.


"Hahh... Jadi menyusahkan begini." Keluhku sambil memeluk bola Voly di pinggir lapangan.


"Sebaiknya Kamu jangan cerita kalau kalian tinggal bersama." Ucap Sally menyarankan.


"Nggak akan." Jawabku pasti.


"Aku juga akan jaga rahasia, tapi nanti Aku boleh main ke rumahmu ya." Ujar Dea sambil tersenyum berharap.


Hmmm." Gumamku, Aku tidak berniat membalas ucapannya.


Karena sekarang pikiranku sedang di penuhi oleh Dia, jika harus di bandingkan dengan olahraga, keduanya sama-sama merepotkan.


Drap drap drap..."


Ciit.." Suara langkah kaki dan decitan di lantai.


Suara itu berasal dari lapangan basket pria, dan disana Sio sedang bermain. Dan tentu saja banyak yang menyorakinya, banyak cewek gabut disana, apa hebatnya sih Dia?


Syut.." Bolanya masuk ring.


Kyaaa...!!" Teriak cewek-cewek yang menonton Sio berhasil memasukan bola ke dalam ring.


"Lihat, Dia paling menonjolkan? Serba bisa sih." Ucap Dea terlihat bangga.


"Ah, anak kelas sebelah juga ramai disana." Ucapku melihat kumpulan anak cewek disana.

__ADS_1


Pluk.." Entah kenapa bola Voly yang kupeluk erat, tiba-tiba lepas dari genggaman tanganku, dan mulai bergelinding ke arah lapangan basket.


Seharusnya Aku tahu ini berbahaya, berjalan mengejar bola yang menggelinding ke arah lapangan basket, sama aja bunuh diri. Tapi otakku? Dia seakan tidak peduli tentang bahaya.


Tak tak tak..." Sisa beberapa senti lagi bola itu menyentuh garis tepi lapangan basket.


"Waduh, bahaya!" Teriak anak cowok yang telah memasing bola itu.


Swuushh.." Sambaran bola tepat menuju ke arahku.


Duuk!"


Waaaaa..." Teriakku.


Bruukk.." Aku terjatuh kebelakang, Aku teriak dan jatuh bukan karena bola itu mengenaiku, tapi Aku hanya terkejut saat seseorang berada tepat di depanku, menahan sambaran bola itu.


Untunglah ada seseorang yang menyelamatkanku, Aku tidak tahu siapa itu, karena tadi hingga saat ini, Aku sedang memejamkan mata, dan hanya melihat sekilas tubuhnya.


Ternyata oh ternyata, Dia adalah Sio, pada saat itu juga Aku langsung terkejut, Aku tidak menduga Sio yang telah melindungiku.


"Aku sering terluka ringan, jadi nggak perlu melindungiku." Ucapku, entah kenapa Dia hanya diam, daripada terus canggung, Aku harus memulai percakapan.


"Kan malah jadi tontonan, lagipula Kamu membenciku." Lanjutku, tapi Sio masih tidak merespon, sekarang Ia sedang beranjak berdiri.


"Aku hanya memenuhi janjiku pada Pak Rendi." Ucap Sio setelah berdiri.


Rendi? Ah. Papaku.." Batinku.


"Dia memintaku berjanji untuk selalu melindungimu, dan agar Kamu jangan terluka sedikitpun, Aku takkan melakukan hal di luar itu." Jelas Sio melanjutkan.

__ADS_1


Entah kenapa setiap kata yang Dia keluarkan penuh keseriusan, dan itu terlihat jelas dari tatapan matanya yang dingin menusuk itu, membuat siapapun yang melihat, pasti akan bergidik ngeri walau 1 detik.


"Kamu jangan menelan ucapannya bulat-bulat, Papa suka bercanda." Ucapku sambil berdiri, dan berusaha mengalihkan pandangan dari tatapannya.


"Aku sendiri yang bilang gak masalah. Jadi, biarkan Aku ya." Lanjutku.


Ahh.. Aku gak tahu setelah ini akan terjadi apa, sepertinya Dia akan marah besar.


"Kenapa Aku harus mendengarkanmu?" Ucapnya, dan itu berhasil membuatku terkejut seketika. Aku terkejut bukan dengan perkataannya saja, tapi dengan ekspresinya yang tidak berubah itu, ngeri...


"Asal tahu saja, bagiku, Kau sama sekali tidak penting." Lanjutnya.


"Euu..hey..?" Ucapku pelan, berniat menghentikannya bicara, tapi...


"Aku hanya ingin menepati janjiku, kalau Kamu bukan putri Pak Rendi, Aku nggak bakal mau peduli." Ucapnya masih tidak berhenti.


"Hei.!!." Teriakku marah.


Duakks..!" Lemparan bola voly Aku layangkan tepat ke perut Sio.


"Ucapanmu keterlaluan! Memangnya Kamu di bolehkan melukai hatiku!?" Teriakku marah pada Sio, lalu Aku berlari dengan cepat ke tempat teman-temanku, meninggalkannya sendirian yang sedang mengusap perutnya sakit.


"Huaaa... Aku memang benci Dia..." Rengekku pada teman-teman.


Tanpa sadar, Aku melakukan kesalahan besar, ternyata fans fanatik Sio itu bertebaran dimana-mana, dan ada satu kumpulan cewek yang melihatku melempar bola pada Sio, entah masalah apa yang akan terjadi nanti.


"Hati-hati, mungkin akan ada paku payung di sepatumu besok." Ucap Dea memberi peringatan.


"Kenapa? Ah biarlah, sekarang Aku sedang marah padanya, Aku tidak terima." Ucapku tidak peduli peringatannya, Aku sedang kesal pada Sio.

__ADS_1


Tapi, entah kenapa karena tahu Dia sangat mengagumi orangtuaku, Aku nggak bisa menyuruhnya angkat kaki, apa boleh buat, Aku bersabar saja...


...°°°°°°°°...


__ADS_2