Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Pangeran Yang Ditakdirkan #2


__ADS_3

PERTEMUAN


"Jangaaaaan!!" Teriak Maria begitu kencang.


°Jurus Rahasia, Serbuan Bunga Mawar°


Plak!" Maria menampar Yuuki dengan keras.


"Appa...?!" Yuuki sangat terkejut dengan aksi Maria tadi.


Dan tidak hanya Yuuki, seluruh teman-temannya yang berada di kelas, semuanya ikut terkejut, karena Maria begitu marahnya saat kalung miliknya di pegang tanpa ijin, bahkan sampai berani menampar Yuuki.


"Ini... Adalah barang yang sangat berharga..!" Ucap Maria, sambil memasang ekspresi yang hampir menangis, dan menggenggam kalungnya erat.


Tap,tap,tap.." Maria berlari keluar kelas sendirian.


Kenapa sih?" Batin Yuuki bertanya-tanya, Dia masih bingung dengan kejadian tadi.


"Kalau berharga banget, jangan dipakai di sekolah dong!" Ucap seorang Murid Cewek yang menghampiri Yuuki.


"Yuuki nggak apa-apa? Apaan sih dia, menyebalkan." Lanjut teman Cewek itu.


...******...


Sekarang Maria sedang berada di atas balkon taman sekolah.


"Aku ini, sepenting apapun ini, tidak seharusnya Aku menamparnya." Ucap Maria menyesal.


"Iyakan Piyo."


"Pi!"


Sementara itu...


"Dia memakai gaun?" Seorang murid yang merasa heran dengan Maria.


"Dia itu kan, si murid baru kelas sebelah," sambung temannya, Ia juga merasa bingung melihat Maria, dan terus memandanginya dari bawah balkon.


.


Kalung, hanya ini petunjuknya. Bagaimana Aku mencarinya di kota ini." Batin Maria, sambil memasang ekspresi sedih.


Teng,teng,teng!" Bunyi bel masuk.


Hah! "Udah masuk!" Maria buru-buru untuk kembali ke kelasnya.


Di dalam kelas...


Rasanya, suasana jadi tidak enak.." batin Maria merasa gelisah dengan keadaan itu.


.


Dan suasana canggung itu, berlangsung hingga bel pulang berbunyi.


"Hng... Tuan Yuuki, maaf ya yang tadi." Saut Maria sambil berlari kecil untuk mendekat kepada Yuuki.


"Sudahlah," jawab Yuuki biasa.


Nggak mau berhubungan lagi deh!" Lanjutnya dalam hati.


"Silahkan mampir ke rumahku." Dengan memasang ekspresi serius, Maria menggenggam tangan Yuuki, lalu mengajaknya untuk mampir kerumah.


Hah?" Yuuki terkejut.


"Sebagai permintaan maaf, Aku akan menghidangkan teh khusus untukmu!" Ucap Maria sambil menarik tangan Yuuki pergi.


"Nggak usah!" Yuuki berusaha menolak.


"Jangan sungkan, rumahku dekat ko," ucap Maria dan masih menarik tangan Yuuki.


Aku gak mau berurusan lagi denganmu," batin Yuuki, Ia merasa bingung harus berbuat apa.


Sesampainya di depan Rumah Maria, Yuuki nampak terkejut, karena Rumah atau lebih tepatnya di sebut apartemen ini, terlihat begitu kusam, kecil, dan tidak terawat.


"Disini?" Yuuki tidak menduga kalau Rumah Maria ternyata diluar ekspektasinya.


.


Sekarang mereka sudah masuk kedalam Rumah Maria, dan sedang duduk berhadapan, di depan meja tradisional berbentuk bulat dan kecil.


"Kabur dari Rumah?!" Ekspresi Yuuki masih bingung.

__ADS_1


"Rahasiakan ini dari yang lain ya," jawab Maria sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Tapi seharusnya Kau, bisa tinggal di tempat yang lebih layak kan?" Tanya Yuuki memastikan.


"Bicara apa Kau?" Ucap Maria, sambil menaruh gelas berisi teh, dan bergambar potret Maria, (produksi khusus keluarga Himemiya).


"Ini kamar dengan Paris Style yang sangat indah, Aku menyukai nuansa retro nya." Maria terpesona.


"Ini sebagai permintaan maaf Ku," Maria menghidangkan kue kering kesukaannya.


Heeh," Yuuki masih tidak mengerti dengan Maria.


"Untuk itu, tolong maafkan kesalahanku tadi ya," ucap Maria, dan tiba-tiba membungkuk.


"Sudah cukup!" Jawab Yuuki tidak mau memperpanjang urusan ini lagi.


"Tapi, ngapain Kau ke Kota terpencil ini segala? Pangeran takdir apaan sih," tanya Yuuki.


"Kau pikir, ini hanya lelucon ya?,,, Aku serius lho!" Jawab Maria sambil tersenyum yakin, dan membuat Yuuki sedikit terpesona dengan senyuman itu.


"Waktu Aku berumur 4 tahun, Aku berjanji untuk menikah dengannya disini," ucap Maria sambil menggenggam dan melihat ke arah kalungnya.


Ekh!" Yuuki terkejut dengan alasan itu.


"Saat berumur 4 tahun, Aku tersesat di Kota ini, ketika Aku berlibur dengan Keluarga."


...Flashback on...


Waaaa!" Maria kecil sedang menangis dibawah pohon rindang.


"Kenapa? Tersesat ya?" Tanya seorang anak lelaki yang datang menghampiri Maria.


Penculik, hati-hati dengan orang asing," Maria teringat kata-kata dari keluarganya.


Hiii!" Maria ketakutan ketika melihat anak lelaki itu, tepat berada di belakangnya.


Plaak! "Tidaak!" Teriak Maria setelah menampar anak lelaki itu kencang.


"Hah?!... Apa yang sudah kulakukan, Kau baik-baik saja?" Tanya Maria khawatir setelah melihat anak lelaki itu terbaring di atas rumput karena tamparannya.


"Sini tangannya," ucap Maria berniat untuk membantunya kembali berdiri.


"Iya," jawab anak lelaki itu menerima bantuan Maria.


"Syukurlah Kau sudah berhenti menangis, ayo kita pergi!" Ajak anak itu sambil menarik tangan Maria.


Degh!" Maria makin terpesona pada anak itu.


Degh! Degh! Degh,! Seperti Pangeran" Batin Maria sambil mengamati punggung anak itu.


Setelah Maria sampai di tempat yang di maksud oleh anak itu, Maria berhenti sejenak, lalu...


Ctek!" Maria melepaskan Batu Permata yang menempel di kalungnya.


"Kau adalah pasangan takdirku, kuberikan Batu Permata ini untukmu, kalau sudah besar nanti, menikahlah denganku ya!" Ucap Maria sambil memberikan Batu Permata nya.


"Kyaaa! Aku sudah melamar orang," teriak Maria sambil berlari meninggalkan anak itu sendirian, setelah memberikan Batu Permata itu.


Akh!..." Anak itu masih tidak mengerti maksud Maria, dan masih menatap Batu Permata nya, saat Dia akan bertanya, Maria sudah berlari jauh, meninggalkan dirinya sendirian.


...Flashback off...


"Tapi sekarang, wajahnya saja Aku sudah lupa,"


"...dan Aku baru tahu belakangan ini, ternyata kalung ini adalah harta keluarga Himemiya, Aku sampai dimarahi habis-habisan lho!"


"Harta keluarga?!" Yuuki terkejut setelah mendengar cerita Maria.


"Apaan sih? Ternyata hanya kemauan Mu sepihak saja," Yuuki memasang ekspresi sedikit mengejek.


"Bodoh sekali, hanya dengan berbekal petunjuk itu, Kau sampai datang ke Kota ini." Lanjutnya.


Maria terkejut dengan respon Yuuki.


Tidak!" Teriak Maria.


°Pukulan Kemarahan Orang Kaya°


"Benang Merah itu pasti menghubungkan Ku dengan Pangeran itu!" Ucap Maria tidak terima dengan perkataan Yuuki.


.

__ADS_1


Ting!" Suara oven menandakan Cake sudah matang.


"Wah, Cake buatanku sudah jadi!" Ucap Maria, yang seketika pikirannya teralihkan kepada Cake nya yang baru matang.


Cake?" Batin Yuuki merasa bingung.


"Ini, Cake Spesial Tradisional." Dengan bangga Maria membawa Cake itu ke hadapan Yuuki.


(Cake yang dibuat oleh Maria mengandung rumput laut, dan bahan kesukaan Maria yang lain).


Tentu Yuuki terkejut, Karena melihat rupa Cake itu sangat luar biasa.


Uaaakh! "Harusnya Aku nggak datang..!!" Teriak Yuuki penuh penyesalan.


...******...


Sekolah - Kelas 2A


"Kemarin sangat menyenangkan ya!" Ucap Maria berseri-seri, kepada Yuuki yang terlihat sedang murung.


"Cake buatan Ku enakkan Tuan Yuuki, nanti Ku buatkan lagi ya," ucap Maria senang.


Apanya yang enak, indera perasamu aneh ya." Dalam hati Yuuki berkata.


"Cake buatan sendiri...?" Saut seorang murid Lelaki karena mendengar obrolan Maria dengan Yuuki.


Eeeekh!" Teriak separuh anak kelas itu.


"Yuuki pergi Ke Rumah Himemiya...?!" Saut seorang anak kelas itu.


"Detik-detik yang sangat menyenangkan," jawab Maria kepada separuh anak kelas yang kepo dengan kebenaran ucapan itu.


Waaah!"


Hebaaat!" Mereka terpesona.


"Apanya yang menyenangkan? Lagipula yang seperti itu bukan Cake namanya!! Makanan Berbahaya!" Ucap Yuuki agak kencang kepada teman-temannya.


"Jangan malu begitu Yuuki," ucap salah seorang temannya.


"Aku gak malu," jawab Yuuki dengan muka memerah dan agak kesal.


.


Sementara itu...


"Hei, apa-apaan sih Dia." Ucap Michi, murid Cewek yang kemarin berada di samping Yuuki setelah Maria menamparnya.


"Kasihan Yuuki sampai di libatkan begitu, apaan sih murid baru itu..." Lanjutnya.


Ukh! "Yuuki kan milik Kita..." Tambah temannya.


"Oh iya..."


.


Di Lorong Sekolah


"Hei..." Saut Michi memanggil Maria.


"Lho Maria? Dibelakang Mu ada sampah tuh!" Lanjut Michi kepada Maria.


Maria mencoba mengambil sesuatu di belakang bajunya.


"Biar Ku ambilkan, jangan bergerak ya." Ucapnya setelah menghampiri Maria.


Ctek!" Michi melepas kunci kalung Maria, lalu mengambilnya.


"Sudah nih!" Ucap Michi sambil menjauh dari Maria.


"Makasih Ya," Jawab Maria dengan senyum tulusnya.


Setelah Maria menjauh dari Michi dan temannya, Michi melihat kalung Maria itu.


"Kalung apaan sih?" ucap Michi tampak heran, lalu dengan cepat membuangnya keluar Jendela.


Sementara itu, di Toilet Wanita...


Maria kini sedang membatu di depan Cermin.


Nggak ada!" Ucapnya dalam hati dengan ekspresi sangat terkejut, setelah melihat kalungnya tidak ada.

__ADS_1


...°°°°°°°°°...


__ADS_2