
"Jahatnya... Aku berpenampilan seperti ini, karena Nenek bilang, hanya anak gadis yang boleh merawat Nona. Supaya nggak ketahuan, Aku di dandani jadi perempuan." Ucapnya sambil tersenyum.
"...Maaf, Aku nggak apa-apa kok, nggak perlu sampai begitu..." Ucapku sedikit panik.
Ya Aku panik, karena Dia rela begitu demi Aku, eh sebenarnya demi Neneknya sih. Tapi kan...
"Hihihi.... Ya sudahlah, Kau pura-pura saja nggak tahu, kalau Aku laki-laki." Jawab Reno sambil tertawa kecil, mungkin Reno kurang tepat, sekarang namanya Ueno dulu, karena Ia lagi berpakaian perempuan.
Ehhhh?!..." Entah apa yang ada di dalam pikiran Ueno.
"Nenek mengkhawatirkanmu, kalau Aku memikirkan perasaan Nenek, Aku nggak bisa meninggalkanmu."
"....Begitu ya, Aku mengerti."
Hahhh... Jujur Aku nggak mau begini, Aku merasa gak enak sama Reno. Demi diriku, Reno... Apa nggak ada jalan lain..?
"Terima kasih, kalau ketahuan Aku nggak menyelesaikan pekerjaan ini, Aku nggak akan di kasih hadiah."
"Aku akan di belikan barang yang kuinginkan, Aku nggak akan bilang siapa-siapa, kalau Kau hanya bisa sarapan bubur, jadi mari kita bekerja sama. He he.." Senyum picik terukir jelas di wajahnya.
Apa-apan orang ini?! Aku nggak mengerti jalan pikirnya, Dia sudah membuatku terkejut berapa kali, padahal belum setengah jam Aku bertemu dengannya.
Tapi saat Papa dan Mama pulang cepat hari ini, Dia menunjukkan keterampilan bicaranya, dan kehebatan memasaknya, mereka menyukai Ueno.
Ugh.. Kenapa jadi begini? Tapi hanya Dia yang bisa membuat bubur, ini gara-gara bubur... gara-gara bubur...
Benar! Bukankah lebih baik, kalau Aku bisa bikin sendiri? Kalau Aku bisa, Ueno nggak dibutuhkan.
Blam!" Aku membuka pintu dapur.
Huh.. Kalau Aku serius, Aku pasti bisa. Aku nggak pernah bisa membuatnya, tapi Aku pernah belajar.
Klang.."
Klontang.."
Brak.."
Gyuur..."
Entah kenapa di dapur seperti sedang perang, padahal Aku sudah sangat, sangat berhati-hati, tapi...
Dan itu membuat Ueno mendekat ke arah dapur, karena lampu di dapur sedang menyala juga.
"Kau ngapain?" Tanya Ueno setelah masuk ke dalam dapur.
Ahh.. Rasanya Aku ingin mati saja, Ueno melihat sisi lemahku. Dan juga, kenapa harus sampai berantakan sih, Ah nggak habis pikir sama diriku sendiri. Haahhh...."
"Khu khu... Aku mengakui usahamu, tapi ini sama saja dengan mengerjaiku, Aku yang harus beres-beres." Ucapan Ueno, menjadi ucapan terakhir yang kudengar malam ini.
Ya Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah Ia masuk, Aku langsung kembali saja ke kamarku, tanpa menjawab perkataannya, kesal, marah, malu, sedih, semua bercampur aduk.
__ADS_1
...******...
^^^19 Desember 2021^^^
Dapur - Ruang Makan
"Selesai, Miri ini buburnya. Tuan dan Nyonya sudah pergi kerja, ayo cepat di makan." Ucap Ueno menghidangkan bubur buatannya yang masih panas.
Huhh.. Kenapa Reno juga memperlakukanku seperti anak kecil!? Aku tidak suka jika begini, tapi apa benar, bubur buatannya sama dengan buatan Bi Dewi, sepertinya Aku bisa membuat alasan dengan ini...
Hap." Aku menyantap sesuap bubur itu.
.... Apa ini! Benar-benar sama dengan buatan Bi Dewi. Aku sangat terkejut dengan keahliannya, dan ini membuat rencanaku gagal..
"Benarkan!? Makanya serahkan saja padaku, jangan pernah masuk ke dapur lagi ya." Ucapnya.
"Aku tahu..." Ya apa boleh buat, ini nggak bisa di gantikan dengan yang lain.
"Ngomong-ngomong, Kau akan ke sekolah seperti itu?" Tanyaku penasaran, karena Ueno belum merubah penampilannya.
"Tentu saja, Aku akan cepat pergi, dan ganti baju di kelas kosong. Mohon kerja samanya ya!" Ucapnya sambil memainkan beberapa helai rambut, eh wignya.
...******...
Jalan Menuju Sekolah
Ini salah! Aku nggak mau melewati satu minggu seperti ini.... Kalau Putri tahu, pasti Dia akan bawa kamera. (Reno masih jadi Ueno).
.
Aku harap Dia pura-pura tidak mengenalku saja di kelas, karena memang awalnya juga kita nggak akrab, tapi Dia malah...
"Miri, ayo pulang bareng." Dengan senyum polosnya, Dia mengajakku.
Apa-apaan ini, padahal dari awal masuk kelas sampai sebelum bel pulang tadi, Dia masih Reno yang biasanya, tapi kenapa Dia seperti itu...
Eeh...♡" Putri terkejut sekaligus terpesona pada Reno.
"Kyaaaa... Ada apa ini? Reno, menurutmu Miri bagaimana?" Ucap Putri antusias.
"Bukan apa-apa! sampai nanti Put..." Aku buru buru membereskan barangku dengan cepat, lalu pergi begitu saja.
"Bye bye!" Teriak Reno sambil berlari mengejarku.
Ini gawat! Kenapa Aku harus bersikap begitu, apalagi di depan Putri, pasti Dia menganggapku ada apa-apa degan Reno. Ahh.. Dasar, kenapa sih!
...******...
Rumah
"Pulang bareng boleh juga, kita pulang ke rumah yang sama. Lihat! Ini puding buatanku." Ucap Reno yang sudah berubah jadi Ueno. Ia mengatakan itu seolah itu hal wajar.
__ADS_1
Dan lagi, apa ini, Dia menyogokku dengan puding?! Apalagi ada buahnya!! Dan ketika di letakan di atas meja, pudingnya bergoyang-goyang, seolah Dia mengajakku pergi tempat yang sangat indah.
Klang!" Aku mengangkat piring kecil berisi puding itu.
"Jangan mempermainkan Ku dengan ini! Aku akan makan di kamar, jangan dekat-dekat kamarku!" Lalu Aku pergi, sambil membawa sepiring puding ke kamarku.
"Iya iya, jangan berceceran ya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Nggak akan!"
...*******...
Kamarku
Klang!" Aku menyimpan sendok kecil di atas piring yang sudah kosong.
Enak, pudingnya enak, Aku tidak bisa bohong soal puding itu, bahkan Aku sampai terpesona di buatnya.
"Hahh.. Tapi kayanya Aku kena deh, sepertinya Aku di permainkan Reno, kenapa ini terjadi padaku..." Gumamku sambil memandangi piring kecil yang sudah kosong itu.
"Miri, ayo kesini sebentar!" Teriak Ueno terdengar sampai kamarku.
Hmm?"
.
"Ada apa?" Jawabku, setelah keluar dari kamar, dan melihat Ueno di bawahku, dengan pohon cemara kecil di sampingnya. (Aku di lantai 2).
"Ayo sama-sama menghias pohon natal, sudah Ku keluarkan." Ucap Ueno tersenyum, sambil melihat ke arahku.
"Dari mana Kau keluarkan benda itu?" Tanyaku, sambil menuruni tangga.
"Dari Gudang, Nyonya bilang boleh di keluarkan. Ayo kita hias, yang mana yang ingin Kau jadikan hiasan utama?" Jawab Ueno sambil membawa kotak berisi hiasan.
"Kado santa, Bulan, Bintang, Sepatu bot, Kaos kaki, Bel, banyak sekali." Tambahnya.
Sudah lama sekali tidak mengeluarkan pohon natal, ternyata masih ada disana ya." Batinku.
"Bintang dan Bulannya cantik." Ucapku sambil melihat hiasan itu, di kotak yang diberikan Ueno.
"Jadi sudah diputuskan, ayo kita hias."
"Eh? Aku nggak bilang mau menghias..."
"Eehh... Jangan jangan Nona nggak bisa menghias pohon natal!? Atau belum pernah sama sekali menghias pohon natal?" Ucapnya sambil memasang ekspresi pura-pura terkejut.
"A.. Aku bisa kok, dasar nggak sopan! Aku juga pernah menghias kok!" Ucapku marah.
"Kalau begitu, Miri yang Bintang ya.."
...°°°°°°°°°°...
__ADS_1