
"Euu.. Aku bukan Beruang..." Jawabku yang tersadar dari ilusi dunia fana itu.
"Karena sudah malam, Aku antar pulang ya... Gadis Beruang..." Ucap Nino tidak memperdulikan ucapakanku tadi.
Entah perasaan apa yang kurasakan saat ini, rasanya sangat campur aduk.
"Aku ini bukan Beruang!!" Teriakku pada Nino.
"Aku pulang sendiri saja!!" Ucapku lagi sambil berjalan ke arah pintu.
Braak!" Suara bantingan pintu yang sangat keras.
Ya, mungkin ini keputusan tepat bagiku, kalau terus berada disana, mungkin akan keluar kata-kata abstrak yang dapat melukai Nino nantinya.
Awalnya, kupikir Nino akan marah, lalu membiarkan Aku begitu saja, tapi Aku salah, Dia sekarang malah berusaha mengejarku.
"Kepalamu kan terbentur tadi, bahaya lo!" Saut Nino mengejarku.
Entah kenapa Aku bisa marah, mungkin karena Dia memanggilku Gadis Beruang, Aku tidak ingin di panggil begitu, padahalkan bisa saja dengan namaku, yui...
"Yu!!" Teriak Nino masih mencariku.
Ah, dia sangat dekat, gimana ini!!?" Batinku mulai panik.
Untungnya saat ini Aku sedang berlari ke arah kantin, disana ada tempat yang pas untuk sembunyi, harus cepat sampai sana!
Deg deg deg!" Jantungku berdegup kencang, Aku sembunyi di belakang tembok pembatas, dan Aku tahu, Nino sekarang sedang berada di belakangku, kuharap Dia tidak menemukanku dalam keadaan ini...
...*******...
Besoknya...
__ADS_1
"Ah... Kau datang di saat yang tepat!!" Ujar Nino melihat kedatanganku.
Ini gawat" Batinku panik, padahal Aku sembunyi di balik tebok, tapi Dia menyadari kehadiranku.
"Ini produk baru Sylvania... Gimana menurut..." Aku tidak mendengar ucapan Nino, karena saat itu yang menjadi fokusku adalah Rumah Boneka di sampingnya.
Aku langsung lari ke arah Rumah Boneka beruang yang sangat imut itu, lupa bahwa tadi Aku sedang malu untuk bertemu kembali dengan Nino.
Grebb.." Tanpa pikir panjang lagi, Aku langsung memeluk Rumah Boneka itu.
"Lucu banget!" Ucapku spontan dengan mata yang berbinar-binar.
Kalo soal Sylvania, Aku jadi emosional, Aku juga mudah melupakan semua masalah hidupku. Rasanya, Sylvania adalah penyelamat bagiku.
"Kalau Aku bisa main dengan ini semua, betapa bahagianya Aku..." Gumamku tanpa sadar, bahkan terdengar sampai telinga Nino yang berada di sampingku.
"Haha, Kau berlebihan deh." Ujar Nino menghampiriku.
"A.. Aku selalu tahu kalau ada seri baru dari Sylvania, aduh motifku kerja sambilan disini jadi ketahuan deh..." Ucapku gugup.
"Eh!? Kau menyembunyikan hal itu!?" Tanya Nino kaget
"Kalau suka yang bilang saja suka, nggak masalah kan..." Lanjut Nino seraya tersenyum simpul Nino pancarkan.
Orang ini... Entah bagaimana Aku harus mengungkapkannya dalam kata kata... Ternyata Dia bukan orang konyol...
"Aku senang Yu ternyata suka dengan Sylvania, sejak awal Aku selau kepikiran terus sama Yu, karena Kau mirip dengan Maple Bear, tapi... sepertinya sekarang Aku ingin melihat wajah Yu yang sedang tersenyum..." Ucap Nino dengan senyum tulusnya itu.
Jujur, pada saat itu, Aku kembali terpesona dengan sosok dirinya yang berbeda, padahal Aku tahu, Aku tidak boleh suka padanya, tapi...
"Lain kali, kita main Sylavania sama-sama ya!" Ucap Nino sambil memainkan salah satu Beruang di Rumah Boneka itu.
__ADS_1
"Baiklah, tapi Aku tidak akan menyerahkan Maple Bearnya..." Ucapku menyetejuinya.
"Kenapa??" Tanya Nino melirik ke arahku.
"Karena Aku paling suka dengan Maple Bear..." Jawabku sambil mengambil Maple Bear yang sangat imut itu.
Baru pertama kali Aku mengatakan hal seperti ini, biasanya karena Aku suka main dengan Boneka, Aku selalu di ejek teman-temanku...
Tapi Nino, Dia tidak mengejekku... Apa ini? Perasaan apa ini di dadaku....?
Puk..." Tangan Nino mengelus kepalaku, Aku yang sedang melamun itu, kembali tersadar berkat tangan Nino.
"Hari ini Aku antar pulang ya..." Ucap Nino masih mengelus ujung rambutku.
"Ya..." Jawabku, entah kenapa Aku tidak bisa melawannya hari ini, padahal tanganku mudah saja untuk menepisnya, tapi... Perasaan nyaman apa ini?
Dalam keadaan itu, otakku yang terasa sedang membeku, tiba-tiba kembali berputar.
Eh!?" Seketika Aku tersadar.
"Tidak usah, tidak usah.." Ucapku sambil menggelengkan kepala, dan tangan Nino terhempas karena Aku mundur kebelakang.
"Grepp!" Nino langsung menarik tanganku, dan menuntunku begitu saja ke luar ruangan.
Kenapa? Padahal ini tidak boleh..." Batinku bertanya-tanya.
Ya, hal ini tidak boleh Aku teruskan, Aku tahu posisiku, Aku juga tahu konsekuensinya. Dan benar saja, tanpa sepengetahuanku, saat Nino sedang menarik tangan Ku keluar dari ruangannya.
Bu Hana melihatku, hal yang paling ingin Ku hindari saat ini, entah apa yang akan terjadi selanjutnya....
...°°°°°°°°°...
__ADS_1