Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Dear My Guardy #2


__ADS_3

'Aku membencimu...'


"Ben..ci...? Ehhh....!?" Batinku tak habis pikir.


Apa-apaan Dia, di pertemuan pertama lho! Tiba-tiba bilang begitu, sulit di percayakan? Dan lagi, apa-apaan tatapan dingin penuh kebencian itu.


...*********...


Sekolah


"Padahal Aku sudah terlanjur senang, kukira bisa tinggal sendirian untuk sementara waktu, mana satu sekolah denganku pula. Di sekolah pun begitu, mau terus mengawasiku? Aku makin gak bebas!" Rengekku pada Dea dan sally.


"Eh... Maksudmu Sio? Kamu tinggal bareng Sio?" Tanya Dea sambil melirik ke arah Sio yang sedang berdiri di depan pintu kelasku.


"Serius? Sama Sio?" Tanya Sally tidak percaya.


Ya, Dia berdiri disitu sejak jam istirahat di mulai, bahkan pada pagi hari juga Dia begitu, padahal kita beda kelas, hahh... merepotkan!


"Euh.. Kenapa kalian bisa tahu namanya?" Tanyaku penasaran, kenapa mereka berdua bisa tahu, padahal Aku baru tahu tadi pagi, ternyata kami di satu sekolah yang sama.


"Malah aneh kalau tak tahu, Dia keren banget! Orangnya keren!" Jelas Sally terlihat antusias.


"Ya, Dia memang terkenal, prestasinya peringkat 1 seangkatan, Dia juga pembawa pidato di upacara masuk sekolah." Tambah Dea.


"Aku tak tahu, waktu itu Aku tidur..." Ucapku biasa.


Tak kusangka Dia ternyata seterkenal itu, mungkin itu alasannya Dia heboh di kalangan cewek, dan buktinya sangat jelas, dari tadi banyak Cewek bergantian menyapa Dia di depan pintu.

__ADS_1


Padahal Dia kayak begitu!" Batinku sambil memikirkan sikapnya kemarin.


Grataakk..." Aku beranjak berdiri dari mejaku, lalu lekas menghampiri Sio disana.


"Oi, peringkat satu pasti ada seorang tiap angkatan!! Tidak istimewa!" Celaku pada Sio, mungkin teman-temanku berpikir celaanku terlalu memaksa, tapi bodo amatlah.


"Aku tak peduli Kamu keren atau nggak, tapi Kamu nggak gentleman! Tinggi badanmu juga bahkan nggak sampai 170 kan?" Lanjutku.


"Tinggiku pas segitu." Jawab Sio sedikit memalingkan wajahnya.


"Ya ya, semua bilang begitu kalau di depan umum!" Bantahku.


Tapi entah kenapa, seharusnya Aku senang melihat Dia sedikit murung seperti itu, tapi... Dasar hati nuraniku...


"Po, pokoknya Aku nggak tahu Papa bilang apa, tapi jangan berlagak mengawasiku sampai ke kelas segala!" Pungkasku, lalu Aku pergi dari hadapan Sio, namun...


"Siska sebentar." Ucap Dea, lalu kami menghentikan langkah sebentar di lorong.


"Ya.." Jawabku, sekarang Aku sedang di apit oleh Dea dan Sally.


"Ko, kok, Kau cari ribut sama Sio, apa maksudmu?" Tanya Dea menginterogasi.


Jujur, saat ini Aku bingung mau bilang apa ke Dea, sebenarnya Aku juga tidak tahu alasan pastinya Aku seperti tadi.


"Eh, nggak. Aku nggak terima Dia terkenal." Alasanku.


"Kami malah nggak terima tingkahmu." Ucap Dea sambil mencubit pipiku.

__ADS_1


"Manggil Dia sembarangan lagi.." Tambah Sally ikut-ikutan.


"A, anu..." Gumamku, namun Aku tidak melawan Dea.


"Mohon jangan kasar padanya." Ucap Sio yang tiba-tiba muncul dari belakang, sambil melepaskan cubitan Dea dari pipiku.


Aku sedikit kaget pada waktu itu, Aku takut Sio bertingkah berlebihan pada Dea, tapi untungnya..


Teng, teng, teng..." Bunyi bel masuk menyelamatkan, sehingga Sio harus pergi dari hadapanku segera, dan meninggalkan rasa canggung di antara kami bertiga.


Ya, Dia langsung pergi begitu saja setelah bel berbunyi, dasar tidak tahu sopan santun.


Kyaaa...! "Apa? Sejak kapan kalian jadi akrab?" Ucap Dea histeris.


"Hah? Kami nggak akrab!" Bantahku.


"Kenapa Dia melindungimu? Ternyata Aku salah sangka." Ucap Sally ikut histeris juga.


"Oh ya, biarkan Aku memegang tanganmu!" Pinta Dea sambil menarik tanganku.


"Hentikan.." Pintaku.


Mungkin jika sekarang jamkos, pasti obrolan kami akan panjang sepanjang rel kereta, apalagi kalo menyangkut hal seperti ini.


Baik Dea atau Sally, keduanya sama saja, terlalu heboh, kalo saja mereka bukan sahabat baikku, pasti sudah kutinggalkan, atau sudah kujual di marketplace.


...°°°°°°°°...

__ADS_1


__ADS_2