
"Aku akan pura-pura nggak pernah dengar cerita kalian." Saut Yuki tiba-tiba.
...°°°°°°°...
Eh?" Lita dan Sugi terkejut dengan ucapan Luki itu.
"Kau mau ke Istana dan menjadi Cinderella Ku luki? Pura-pura juga nggak apa-apa." Ucap Lita berbinar-binar.
"Aku Putri Sulung Miltonia, Lita. Dia Pengawalku, Sugi. Aku ingin bertemu seseorang seperti dalam dongeng, tapi.. Aku harus memilih orang yang akan jadi pasanganku di Pesta besok."
"Kalau tidak, bisa-bisa Aku berpasangan dengan Sepupuku yang Ku benci. Luki Kau itu pintar, pura-puralah jadi Pasanganku. Seperti di dongeng.!" Jelas Lita tegas.
"Bagimu... Yang seperti Dongeng itu, penting ya?" Ucap Luki dengan ekspresi tidak peduli.
"Itu mimpi Nona Lita, manis kan?" Saut Sugi ikut dalam pembicaraan.
"Sesekali mewujudkan mimpi nggak apa-apa kan, Aku ini Putri yang tinggal di Istana, sejak dulu hidupku bahagia, dan Aku tau apa mau Ku, Aku tahu itu terlalu berlebihan,, juga egois." Ucap Lita sedikit murung.
"Nggak egois kok, ini pertama kalinya Nona Lita melakukan sampai sejauh ini kan? Biasanya cuma berangan-angan, dan nggak keluar dari istana." Ucap Sugi berusaha menenangkan.
"Maaf kalau aku berangan-angan.." Jawab Lita makin murung.
"Ma..maafkan Aku." sahut Sugi menyesal, dan menjadi khawatir pada Lita.
"Cinderella yah? jadi kalian ini Penyihirnya?" Tanya Luki.
"Benar! kami Penyihirnya, ku sihir ya!?" Jawab Lita spontan.
"Penyihir yang bisa mengabulkan permohonan Ku?" Tanya Luki memastikan.
"Ya, Cinderella kan ingin pergi ke Pesta, akan Ku kabulkan." Jawab Lita pasti.
"Gratis kan? Kamu mau melakukannya dengan sukarela?" Ucap Luki.
"Tentu saja." Jawab Lita tanpa ragu.
Hmmm.. "Menarik, Aku akan melakukannya demi uang, makanan, dan kontak." Ujar Luki.
"Horee/horee." Lita dan Sugi bersorak senang.
Lho? Cepat sekali senang, gapapa nih?" Batin Lita merasa aneh dengan kejadian ini.
"Baiklah Penyihir panggil saja aku Luki. Dan Lita, Sugi bantu Aku menyelesaikan pekerjaan rumah, kalau enggak Aku nggak bisa keluar Rumah." Jelas Luki.
Ng?" Lita dan Sugi sedikit terkejut dengan permintaan Luki.
...******...
Lorong
Menuruti permintaan dari Luki tadi, Lita dan Sugi sekarang sedang membersihkan setiap sudut rumah Luki.
"Apa-apaan ini, ini sih kita yang seperti Cinderella." Ucap Sugi menggerutu.
"Sudahlah, cepat selesaikan." Saut Lita yang sangat fokus dalam pekerjaannya.
__ADS_1
Brang! "yah.." Lita tidak sengaja menjatuhkan ember berisi air, saat mengepel lantai rumah Luki.
"Wahh wahh...apa yang Kau lakukan? Tuan Putri nggak bisa bersih bersih ya?" Ujar Luki yang melihat Lita sedang membereskan kekacauan nya.
"Bisa kok! Cuma salah sedikit aja. Akan Ku tunjukkan kalau Aku ahli." Jawab lita marah.
.
Beberapa saat kemudian...
Cling cling!" Rumah lucky sudah menjadi bersih, bahkan sangat bersih, sampai-sampai terlihat pantulan cahaya dari dinding dan kaca jendela nya.
klang!" Lita memberikan segelas teh kepada Luki yang sedang duduk di kursinya.
"Coba dulu Teh buatanku." Ucap Lita setelah menyimpan gelas itu di meja.
"Kenapa Nona Lita sampai menyiapkan teh?" Sugi menjadi kaget setelah melihat Lita memberikan teh kepada Luki.
"Ini keahlian Ku, lebih baik menunjukkan kemampuan ku. Ayo Sugi, duduk minum teh juga." Jawab Lita dan menyuruh Sugi untuk duduk di samping Luki.
"Aku juga?" Ucap Sugi merasa sungkan.
"Sekarang ini kita sama-sama Penyihir." Jawab Lita.
"Daripada Penyihir, lebih cocok jadi Pelayan." Ucap Luki memotong pembicaraan Lita.
"Pelayan...? Benar juga, Luki tiap hari melakukan pekerjaan Pelayan ya? Hebat padahal omongannya kasar." Ucap Lita, sedikit terpesona kepada Luki.
"Aku nggak tiap hari melakukan ini. Aku bersih-bersih seluruh Rumah, karena ada bantuan saja. Ada Penyihir memang praktis." Saut Luki dengan nada puas.
Klang!" Luki menyimpan gelas yang sudah kosong di piring kecil di meja tehnya.
"Enak, memang benar ini keahlian mu." Puji Luki, mengalihkan pembicaraan tadi.
"Sudahlah, masih ada kalau mau tambah." Jawab Lita yang tersipu malu.
"Ah.. tolong bawakan." Ucap Luki.
Nona Lita, dia terbujuk.." Batin Sugi terkejut.
...******...
Setelah Luki selesai minum teh...
"Sudah waktunya, ayo ganti baju dan sepatu, lalu berangkat. Ayo Luki." Ucap Lita mengajak.
Lita menunjukkan Pakaian Putih ala Pangeran, yang memiliki banyak renda dan hiasan lainnya.
"Sepatu kaca ini gampang dipakai jalan, karena di sulam dengan kristal." Ucap Sugi sambil menunjukkan sepatu kaca. "Silahkan..."
Hening... Luki membatu melihat pakaian itu.
"Aku nggak mau, Aku juga punya baju, lagipula Aku bukan Cinderella sungguhan." Ucap Luki sambil melangkah pergi.
"Nggak mau!? Pangeran itu citra nya begini. Cinderella itu harus pakai sepatu kaca." Ucap lita kesal.
__ADS_1
"Yang benar saja!" Luki menghentikan langkahnya, lalu menatap Lita Marah.
"Kalau Aku pakai itu, orang bukannya terpesona melihat Ku, tapi malah kasihan!" Ucap Luki sambil menunjuk ke arah Pakaian Pangeran itu.
Dan berkat ucapannya itu, berhasil membuat Lita dan Sugi membatu kecewa.
Hmmm... "Padahal Aku sudah mempersiapkan semua seperti penyihir nya Cinderella." Ucap Lita murung.
"Kau bisa mengubah labu jadi kereta? Kuda dan tikus jadi kusirnya? Nggak bisa kan? Nyerah deh." Ucap Luki pada Lita.
"Kereta kuda..." Terbesit ide yang tidak terpikirkan oleh Lita sebelumnya.
"Sugi kau jadi kusir! Kereta Kuda akan segera disiapkan." Ucap Lita sambil berlari mencari sesuatu.
Lita mencari buku telepon, berniat untuk segera memanggil satu set Kereta Kuda sekarang.
"Luki, buku telepon di mana?" Saut Lita, masih mencari di semua tempat, di ruangan itu.
sak srak srak.." Setelah menemukan Buku itu, Maria dengan cepat membalik semua halaman, untuk mencari no telepon yang Ia butuhkan.
"Sugi, memangnya nggak aneh, jaman sekarang ada Kereta Kuda di jalan?" Tanya Luki yang heran pada Lita.
"Kalau di Festival sih enggak apa-apa." Jawab Sugi lurus.
"Bagi Keluarga Kerajaan, itu nggak berguna kan?" Ujar Luki.
"Apa maksudmu?" Ucap Lita kesal setelah mendengar ucapan Luki.
"Semua ini gak ada sangkut pautnya dengan Kerajaan. Semua biaya hari ini Ku bayar dengan uang dari Celengan Kucingku, Aku menabung untuk kupakai sendiri suatu saat nanti." Ucap Lita kesal dengan Luki.
"Celengan Kucing?"
"Anak-anak Keluarga Kerajaan, diajari menghargai uang, kalau membantu Pekerjaan Istana, akan dapat imbalan, misalnya bersih bersih."
"Tapi di istana nyaris tidak bisa belanja, semua kebutuhan sudah disediakan. Nona Luki menyimpan semua itu dalam Celengan Kucing." Jelas Sugi.
He.... "Makanya jangan lakukan hal yang nggak berguna! Kamu ngerti nggak sih, kalau uang itu berharga!?" Ucap Luki marah, lalu mengambil Buku Telepon dari tangan Lita.
"Lagi pula Aku enggak mau naik Kereta Kuda." Pungkas Luki.
"Cinderella kan naik Kereta Kuda!? Aku juga mau naik Kereta Kuda!" Ujar Maria marah, lalu berusaha mengambil Buku itu kembali.
"Kembalikan.."
"Nggak boleh!"
"Naik kendaraan yang kalian pakai untuk kesini saja." Ucap Luki.
"Itu nggak sesuai impianku." Jawab Lita spontan.
Melihat perbincangan Lita dan Sugi yang makin memanas, Sugi berusaha menengahi Mereka.
"Sudah sudah, begini saja..."
...°°°°°°°°...
__ADS_1