
Malam hari yang begitu dingin, penghangat di kamarku tidak menyala karena sedang mati lampu, tapi Aku tidak memperdulikan hal itu, yang Aku pikirkan sekarang, adalah hal ini.
Aku yang sedang mengurung diriku di selimut tebal ini, merasa sangat gelisah, Aku bukan gelisah karena nuansa remang dan sambaran petir diluar. Tapi...
Tapi Aku gelisah karena Reno sekarang berada di kamarku, tepatnya di samping tempat tidurku, Ia menemaniku di bawah sambil bersandar di sana, untung saja tempat tidurku tinggi.
Eh, terus kalau kasurku di bawah memangnya apa yang akan terjadi... aduh buang jauh-jauh pikiran itu Miri, fokus!
Ya, Dia menemaniku karena Aku ketakutan tadi, bahkan sampai memasang ekspresi memelas kepadanya. Hahhh.. Kalau di ingat terus, Aku makin malu jadinya.
.
Bushh." Reno kedinginan, Ia membungkus dirinya dengan selimut tebal disana.
"Khu khu... Miri, lilin ini untuk natal ya? Kau bilang nggak peduli dengan natal, tapi Kau tetap menyiapkannya." Ucap Reno membuka topik obrolan.
"Ta.. Tadi Aku kebetulan menemukannya, soalnya lucu sih, kupikir bagus juga kalau merayakan sedikit. Kau boleh tertawa Kok." Jawabku, untung saja Aku tidak gelagapan.
"Kenapa Aku harus tertawa? Itu bagus, menyenangkan lho. Ayo kita buat pesta, kita hias lebih meriah lagi, dan pasang lilin." Ucapnya lagi.
Aku tidak tahu ekspresinya bagaimana, karena Aku sedang di dalam selimutku yang hangat sekarang.
"Kita pakai hiasan bercahaya di dalam ruangan dan di luar jendela, yang lainnya apa lagi ya?" Lanjutnya.
"Makanan dan minuman, setiap tahun Mama memesan kue, musik juga kado, perapian juga dinyalakan." Jawabku menambahkan, tapi dengan nada biasa, Aku tidak ingin di anggap antusias dengan hal ini.
"Aku akan membuat makanan, jadi nggak sabar."
"Benarkah? Senangnya." Senyum tipis Aku pancarkan, entah kenapa Aku tiba-tiba ingin hari itu tiba, mungkin karena Dia akan membuat makanannya sendiri, ya bukan karena natalnya kan?
Malam ini memang tidak terduga, jika sendirian dalam keadaan ini, pasti Aku akan ketakutan setengah nati, tapi untung Ada Reno, Aku jadi senang, bahkan Aku jadi tak peduli dengan petir.
Entah kenapa setelah ucapan terakhir tadi, suasananya menjadi sangat sunyi, bahkan Reno pun tidak membuka suaranya lagi, sampai Aku mengantuk dibuatnya, suasana ini..
"Reno... Terima kasih.." Tanpa sadar Aku langsung tertidur.
"Selamat tidur." Aku merasakan Dia melirik ke arah ku sebentar, mungkin untuk mengecek apa Aku benar tidur atau tidak, lalu Ia kembali lagi ketempatnya semula.
Dan malam ini berlalu dengan cepat.
...*****...
^^^21 Desember 2021^^^
Pip pip pip pip pip....." Bunyi alarm menggema di seluruh dinding kamarku.
Selamat pagi." Ucap Reno dengan wajah santainya. Dia melihat ke arahku yang baru saja membuka mata.
"Maaf... Sepertinya Aku ketiduran..." Ucap Reno sambil berjalan ke arah pintu.
"Eeeeh.. Ee.. Tadi malam..ee..eee." Gumamku gugup dengan pipi memerah.
Klek! "Hihi.. Miri, Kau manis ya." Ucap Reno tersenyum ke arahku, sambil membuka pintu.
Apa maksudnya? padahal kemarin Aku terlihat memalukan, tapi Dia tidak tertawa dan menemaniku, Aku juga senang saat membicarakan natal. Hah! Apa ini!? Aku jadi aneh!...
...******...
DAPUR
Klek!" Aku membuka pintu lalu masuk sembari masih memikirkan hal tadi pagi.
"Ah, buburnya baru jadi." Ucap Reno yang sudah berganti jadi Ueno, Ia sedang duduk sendirian di meja makan.
Dia sama seperti biasa, Aku...
"Miri, pitamu berantakan." Ucap Ueno lalu berdiri dari kursinya.
"Kubetulkan." Ucapnya, lalu tanpa meminta ijin dariku, Ia langsung menarik pita di bajuku, berniat untuk merapihkannya.
"Kau nggak bisa mengikat pita dengan bagus kan." Ucap Ueno santai.
"Hentikan! Kalau begini saja, Aku juga bisa." Ucapku langsung nenarik badanku. Jujur, entah kenapa tadi Aku sedikit terdiam sejenak, untung saja Aku langsung.
".... Benarkah?" Ucapnya meragukan.
Ugh, setelah mengatakan itu, Aku berusaha merapihkan pitaku kembali, namun ternyata Aku memang gak bisa. Hahhh....
"Khu khu, ayo cepat, nanti makanannya dingin." Ucap Ueno yang sudah duduk kembali.
Lagi-lagi Dia memperlakukanku seperti anak kecil, saat ini juga sama saja! Cuma Aku yang merasa malu. Bodohnya Aku.
"Cukup! Aku nggak mau pakai baju ini!" Teriakku sambil melepas lalu membantingkan bajuku ke lantai.
"Ahahah, wah, Kau semangat sekali, ini kan musim dingin." Ucapnya di iringi dengan senyuman.
"Ja.. Jangan lihat!" Bodoh, Aku lupa bahwa Dia itu laki laki.
Hachi!" Ternyata memang sangat dingin...
"Sebaiknya Kau pakai."
"Aku mau ganti baju."
Drap drap drap..." Tanpa menunggu lama Aku langsung berlari menuju kamarku.
"Miri, bagaimana sarapannya?" Saut Reno kepadaku, namun Aku tidak menjawab perkataannya.
__ADS_1
Selalu saja begini.... Kenapa Aku malu? Tak pernah terpikirkan, Ueno kan hanya iseng.
Bruuk.!" Ugh... Kenapa harus terjatuh juga sih.
...******...
DAPUR
Setelah selesai ganti baju...
Klaaang...." Aku tidak sengaja menjatuhkan mangkuk berisi bubur itu.
"Kau nggak apa-apa? Bahaya, itu panas, biar Aku saja." Ucap Ueno panik.
"Maaf.... Masih terlalu panas ya?" Ucapnya sambil membereskan mangkuk bubur yang jatuh berserakan itu.
"Nggak Kok..." Jawabku, sedikit melamun.
Ya, bubur itu memang tidak begitu panas, dan alasanku membuat jatuh bubur itu, adalah karena tanganku bersentuhan dengan Dia sejenak tadi, saat Ia memberikan buburnya.
Hahh... Bodohnya Aku!
"Miri terluka?" Tanya Ueno, sambil membereskan bubur itu.
"Nggak. Nggak apa-apa." Jawabku memalingkan wajahku darinya, entah kenapa rasanya di area wajahku panas sekali.
"Syukurlah." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Tidak bisa.... Aku selalu merasakannya.
"Miri, benar nggak apa-apa? Hari ini Kau kelihatan aneh." Tanya Dia sekali lagi, setelah selesa membereskan bubur itu.
Tap!" Tangannya menyentuh pundakku.
"Karena ada Kau Aku jadi berantakan." Aku langsung membalikan tubuhku, lalu berteriak dengan keras sambil menatap kesal ke arahnya.
"Kau berpenampilan seperti itu, tapi Kau itu tetap saja laki-laki, teman sekelasku. Aku selalu saja memperlihatkan kebodohanku.. Apa yang harus Aku lakukan..?"
"Kalau Reno nggak kesini, pasti hal ini nggak akan terjadi!" Tanpa rem Aku berteriak keras kepadanya, bahkan sesaat Dia menjadi terdiam, hilang sudah senyum manis di wajahnya itu.
Sebenarnya apa yang kukatakan? Kenapa tiba-tiba seperti ini?
"... Begitu ya?" Jawabnya pelan dengan senyum palsu diwajahnya.
Dan Aku tidak mengira, hari-hariku yang menyenangkan ini, akan segera berakhir.
...*****...
^^^22 Desember 2021^^^
DAPUR
Awalnya Aku masih mengira hari ini akan seperti biasanya, tapi Aku salah.
'Aku pergi belanja, makan siangnya ada di kulkas' ? Aku membaca memo yang Dia tinggalkan di meja.
Sikapnya benar-benar berubah 180 derajat, Dia seperti menjauhiku. Sekarang sudah sore, Dia belum juga pulang, sebenarnya pergi kemana Dia? Sepertinya Dia memang menjauhiku.
.
^^^23 Desember 2021^^^
KAMAR
'Makan siangnya dimakan ya, supnya ada di panci' Aku membaca memo darinya sambil bersandar di kasurku.
Seperti ini lagi, bahkan pagi tadi, Ia juga langsung pergi dari dapur.
Hahh.. Sepi.
Gara-gara perkataanku... Sebenarnya Aku senang dengan kehadiran Reno disini. Padahal Dia menanti-nantikan hari natal, pasti Dia sudah tidak mau lagi.
Hahh... Aku tidak bisa berkata jujur. Dasar anak kecil!!
"Apa Aku merasa seperti ini, karena Aku menyukainya..." Gumamku sambil memendamkan wajahku di bantal.
Tinggal 1 hari lagi Reno ada di rumah ini. Aku tidak mau seperti ini, Aku ingin sekali lagi bersamanya, Aku ingin bersenang-senang dengannya.
Oiya, Aku ingat dengan perkataan Reno waktu itu. Supaya bisa menyenangkan, pertama-tama Aku harus melakukan sesuatu.
.
^^^24 Desember 2021^^^
RUANG TENGAH
"Reno! Aku mau ambil kue Mama dulu ya!" Teriakku pada Reno yang sedang berada di lantai atas.
"Hati-hati ya." Jawabnya.
Saat Aku pulang nanti, Aku akan melakukan hal yang menyenangkan, seperti yang telah dilakukan Reno sampai sekarang.
Sudah kupikirkan, pasti menyenangkan kalau main kembang api bersama!
Krieeet!" Aku membuka pintu.
"Tunggu Aku ya." Gumamku sambil melambai ke pohon natal di tengah ruangan itu.
__ADS_1
Setelah Aku pergi dari rumah, Aku tidak tahu, bahwa Reno sebenarnya melihatku dari jendela di lantai atas, dengan wajah tanpa ekspresinya, Dia bersandar di dinding, entah apa yang Dia pikirkan.
...*****...
Gawat! Hari sudah sore, sebentar lagi malam, gara-gara mencari kembang api tadi, Aku jadi pulang terlambat.
"Aku pulang." Ucapku sambil membuka pintu, dan Aku merasa bingung, kenapa di rumah begitu gelap, bahkan diluar juga belum dinyalakan lampunya.
Hah!? Pohon Natalnya tidak ada! Jangan-jangan sudah di bereskan, benar juga, besok kan Dia harus pulang...
Blam!" Reno keluar dari arah dapur.
"Selamat datang, Kau pulang terlambat, Aku jadi khawatir. Baru saja Aku mau menjemputmu.." Ucapnya santai sambil mendekat ke arahku.
"Ah, maaf, ng..." Aku terkejut, ternyata Dia masih ada disini.
Sepertinya ini kesempatan terakhirku, tidak akan kubiarkan hari ini berlaku begitu saja.
"Aku minta maaf atas perkataanku yang kasar waktu itu!" Aku langsung menunduk minta maaf padanya.
"Sebenarnya Aku hanya merasa malu, Aku anak kecil yang keras kepala, yang nggak bisa jujur, jadi terserah orang mau bilang apa... Karena itu hari ini... Rayakanlah natal bersamaku!" Tegas Aku berkata.
Haahh... Akhirnya Aku mengatakannya juga.
"Khu khu..." Dia malah mengejekku dengan ekspresinya itu.
"Jangan begitu, Kalau Kau nggak mau merayakan natal bersamaku, Aku jadi resah." Ucapku padanya.
Tapi Dia malah tidak menjawab perkataanku, dan langsung menarik tanganku untuk pergi bersamanya. Sepertinya memang sudah tidak bisa.
...*****...
Apa ini, kenapa Dia membawaku ke Ruang Keluarga?
Aku benar-benar tidak mengerti isi kepala Reno sekarang. Saat Aku akan menghentikan langkahku, berniat untuk berbicara sejenak padanya.
Tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh cahaya terang yang keluar dari Ruangan itu.
"Hebat! Kenapa!" Ucapku sambil melihat ke sekeliling Ruangan itu.
Sekarang Ruangan ini begitu indah, banyaknya lilin yang menghiasi seluruh Ruangan ini, bahkan perapiannya juga dinyalakan, dan apa itu? Banyak sekali hadiahnya.
"Ahaha, kan sudah janji, jadi Aku melakukannya, mungkin Kau membenciku. Tapi, kupikir hari ini Aku ingin bersenang-senang." Ucap Reno dengan senyumannya yang baru Aku lihat lagi.
"... Aku nggak membencimu. Aku jadi resah karena Aku menyukaimu, jadi Aku bicara seperti itu." Jawabku membenarkan
"Terima kasih, Aku senang sekali." Dengan tulus, Aku menunjukan senyuman hangat yang bercampur bahagiaku padanya.
"... Karena Kau bilang begitu padaku, Aku juga jadi resah." Ucapnya dengan ekspresi sedikit malu.
Eh?" Jujur, Aku merasa bingung dengan ucapannya itu.
"Aku pura-pura tenang, tapi di tengah jalan, Aku merasa pahit dengan penampilan seperti ini." Lanjutnya.
"Eu.. Reno, apa maksudnya?" Tanyaku makin merasa bingung.
"Maukah Kau mendengarkan Ku tanpa melihat sosokku?" Ucapnya sambil melangkah mendekat ke arahku.
"Aku juga menyukai Miri." Bisiknya tepat di telingaku.
Mendengar itu, Aku langsung terkejut, bahkan Aku sampai mematung dengan mata terbuka. Mungkin lebih tepatnya melongo.
"Kau kaget?" Tanya Reno padaku.
"Iya.." Aku masih tidak menduga hal itu, Aku sampai lupa untuk berkedip sampai sekarang.
"Ayo kita mulai pestanya." Ucap Reno yang langsung menarik tanganku.
Kupikir, Aku bisa bersenang-senang dengan sepenuh hati sekarang, Reno yang membuatku sadar. Bodoh sekali Aku bersikap keras kepala.
Ini pertama kalinya Aku merayakan natal seperti ini. Ruangan bersinar seperti bintang, lalu bintang jatuh dari langit dingin dan bersih.
Daarr"
Daarr"
Daarr"
Aku menutup hari dengan menonton pertunjukan kembang api diluar bersama Reno.
"Menyenangkan ya!" Ucapku sambil tersenyum bahagia.
"Ya" Balas senyum Reno.
Ah... Benar-benar menyenangkan, melewatkan hari ini bersamamu, adalah hadiah natal terhebat.
.
Merry Cristmas!
Star Falling Gift - End~
...°°°°°°°°°...
Huh, akhirnya selesai juga, sebenarnya ini harus Aku upload kemarin, tapi setelah dibaca kembali, rasanya endingnya kurang menarik, kalau ditambah episode lagi pasti makin ambruk, jadilah Aku buat seperti ini.
Aku memang nggak merayakan natal, apalagi sekarang baru bulan oktober, tapi setelah melihat film dengan nuansa natal, Aku jadi tertarik untuk membuat cerita seperti ini.
__ADS_1
Mungkin karena itu, pembawaan ceritaku kurang bagus, tapi Aku harap kalian bisa menikmati cerita ini ya.
Jangan lupa tersenyum, salam hangat ~dhalp