
Aku tidak mau mengeluarkan pohon natal, bukannya Aku tidak bisa menghias, tapi...
.
"Sini" Ucap Ueno padaku, lalu Ia mengambil bintang itu dari tanganku.
Jujur Aku sangat kaku ketika menghias pohon natal ini, dan dari tadi, mengikat simpul mudah pun Aku tidak bisa melakukannya, haahh...
"Jadi deh..." Ucap Ueno setelah selesai mengikat tali bintang itu di pohon natal.
"Ternyata Kau kaku dalam segala hal ya, nggak cuman pekerjaan rumah tangga. Jangan-jangan karena itu Kau nggak mengeluarkan pohon natal?" Ucap Ueno sedikit mengejek.
Mendengar ucapannya, Aku sedikit malu, karena emang Aku itu sekaku itu, Aku nggak bisa mengelak atau membalas ucapannya. Tapi jika Aku hanya diam, Dia akan makin mengejekku nantinya.
"Bukan! Mengeluarkan pohon seperti ini kan merepotkan, selama ini di Rumah hanya ada Aku dan Bi Dewi. Aku bukan anak kecil yang bisa gembira kalau mengeluarkan pohon natal." Ucapku serius.
"Kan bukan cuma anak kecil saja yang mengeluarkan pohon natal, menghias pohon natal itu menyenangkan. Kau ini keras kepala, kalau nggak bisa, bilang aja nggak bisa." Ucap Ueno membuatku kesal.
"Nggak kok! Aku nggak tertarik dengan natal." Ucapku, sambil sedikit memasang raut cemberut.
"Tahun ini ayo kita rayakan sama-sama. Sebenarnya Aku sangat senang dengan hal ini, dirumah Aku juga selalu sendirian, orangtuaku sibuk bekerja."
"Aku senang tahun ini bisa merayakan natal bersama di Mansion seperti ini. Pasti menyenangkan kan?" Ucapnya tersenyum simpul, sampai sampai aku terpesona dibuatnya.
Tapi Aku masih kesal dengan ucapannya tadi, jadi Aku sengaja tidak merespon ucapannya itu.
"Nah! Supaya bisa menyenangkan, pertama-tama Kau harus melakukan sesuatu. Ayo kita hias pohon natal! Miri ambil hiasannya, nanti Aku taruh di pohon."
"Apa boleh buat." Ucapku dengan ekspresi datar.
Aku memutuskan untuk membantunya menghias bukan karena ingin, tapi kalau Aku kabur, Dia pasti akan mengolok olok Aku nantinya.
.
"Selesai♡ Waaah... sudah lama..." Ucapku berbinar-binar melihat pohon natal yang sudah dihias itu.
"Menyenangkan?" Tanya Reno yanh melihatku sedang mengagumi.
"Nggak juga." Jawabku langsng mengubah ekspresiku kembali.
Dia memang bodoh, kenapa harus bilang begitu sih, padahl Aku lagi menikmati momennya tadi.
"Kupikir, pasti Ibumu ingin menghias bersamamu. Kau masih mengeluarkan pohon natal sampai SD kan?"
__ADS_1
"Tau dari mana?"
"Aku sudah dengar."
"Ya, sudahlah, asal Mama senang."
"Kau polos sekali, padahal sebenarnya Kau menanti-nantikan hari natal. Dasar!" Lagi-lagi Dia memulai perseteruan.
"Itu sih Ueno sendiri kan!? Aku nggak."
"Ahahaha. Kalau senang, Kau harus bilang senang dong." Ucapnya sambil tersenyum bahagia, bahkan di iringi dengan tawa kecilnya.
Orang yang aneh, sepertinya Dia menikmati semuanya. Aku jadi iri, apa karena itu... Hanya karena ada pohon natal, Aku jadi sedikit merasa senang terhadap natal.
"Lihat! Pohonnya cantik kan." Ucapnya sambil melihat ke arah pohon natal.
Dan hari ini, berakhir dengan Aku dan Reno melihat pohon natal bersama-sama. Memang, ini sedikit menyengkan...
...*******...
^^^20 Desember 2021^^^
Sekolah - Halaman
Sekarang adalah hari bersih-bersih Sekolah, semua murid terlihat sedang sibuk mundar mandir mengambil rumput atau daun kering.
Entah kenapa bisa selalu banyak, Aku bingung dengan murid-murid disini. Dan karena Aku kalah suit tadi, jadi Aku harus membuang sampah, untungnya cuma sedikit.
Srak srak." Suara murid lain yang lagi menyapu.
Besok mulai libur musim dingin.." Batinku, sambil merasakan rasa dingin yang perlahan menusuk pori-pori kulitku.
Ah.. Tanpa sengaja Aku melihat Reno dan temannya sedang berjalan, Dia berpakaian normal layaknya laki-laki, kalau di pikir kembali, Reno, selama di rumah Dia jadi perempuan, rasanya jadi aneh.
Gawat! Reno dan Jojo, mereka melihat ke arahku, kenapa harus melihat kesini sih...
"Itu Miri kan? Kelihatannya yang diluar juga sudah selesai." Ucap Jojo, Dia teman sekelasku juga, walau jarakku agak jauh darinya, tapi ucapannya masih terdengar loh.
Dan itu membuatku makin ragu untuk melanjutkan langkahku. Dan apa-apaan ini! Reno malah mendekat ke arahku. Aku langsung berbelok saja, mengambil jalan lain.
"Miri mau buang sampah?" Tanya Reno tersenyum sambil berlari.
"Iya." Jawabku singkat, Aku pasrah saja dengan Reno, karena Dia memang keras kepala, percuma kalau Aku larang juga.
__ADS_1
"Eh, barusan Kau melihatku ya?" Tanya Reno setelah sampai di sampingku.
"Nggak, kok." Jawabku biasa.
"Kau lihatkan? Hari ini terakhir kalinya Kau bisa melihatku sebagai laki-laki." Ucap Reno sambil menghadang Aku yang sedang berjalan.
Terakhir kalinya... Jujur Aku kaget mendengar Reno ngomong begitu, bahkan sampai wajahku terlihat aneh di matanya.
"Ahahah, Miri polos sekali." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Huh, jangan ganggu, Aku harus membereskan ini." Ucapku melewatinya, lalu menambah kecepatan berjalanku.
Zrak!" Tanpa sengaja tanganku tergelincir.
Brakk!!" Tempat sampah itu jatuh ke tanah, untung tidak berserakan.
Ah.." Ucapku sambil melihat ke arah tempat sampah itu. Dan baru saja Aku akan mengambilnya kembali, tiba-tiba Reno dengan cepat mengambil tempat sampah itu duluan.
"Hahh! Kau nggak bisa membawa ini dengan baik." Ucapnya sambil mengangkat tempat sampah itu.
"Ini berat tahu!" Jawabku kesal. Ya walau sampahnya sedikit, tapi isi di tambah tempat sampahnya, itu cukup berat bagiku.
"Begini cara bawanya. Berikan itu juga padaku." Ucap Reno.
"Ini?" Aku menyerahkan tas keresek besar kepadanya.
"Aku akan membawanya, Miri kembali saja ke kelas." Ucap Reno sambil berjalan meninggalkanku.
Saat Ia pergi menjauh, Aku hanya memikirkan Betapa mudahnya Dia membawa benda berat itu, ya Dia memang anak laki-laki sih. Begitulah pikiranku sekarang.
Dan Aku sampai lupa mengucapkan terima kasih padanya, tapi itu memang salah Dia sih, kenapa harus langsung pergi begitu saja.
"Miri, Reno baik sekali ya." Ucap Putri yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Aku lihat lho, kok kalian bisa akrab?" Lanjut Putri sambil tersenyum menggodaku.
"Nggak kok! Barusan Dia hanya iseng." Jawabku spontan, kalau Aku belibet, pasti akan menambah kesalahpahaman padanya.
"Oh iya Put, pulang sekolah kita belanja yuk!" Ucapku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh, nggak pulang bareng Reno?"
"Kenapa harus bareng Dia!?"
__ADS_1
Dan hariku berlanjut dengan beragam obrolan bersama Putri.
...°°°°°°°°°...