
BERANGKAT
Aku percaya, bahwa antara Aku dan Kau telah dihubungkan oleh benang merah.
...******...
Perancis-Paris, Kediaman Keluarga Himemiya
Brak! Suara pintu yang di buka paksa.
"Tuan, Nyonya, gawat sekali!" Nampak seorang pelayan yang berjalan menghampiri sepasang suami istri yang sedang duduk makan.
Pelayan itu memasang ekspresi yang sangat cemas, Ia membawa sepucuk surat di tangan kanannya, seraya mengangkatnya tinggi sambil berlari mendekat.
Apaa!" Pasangan itu nampak kaget, setelah menerima surat itu dan membacanya.
Mereka adalah Tuan dan Nyonya pemilik rumah besar dan mewah itu, dan tepatnya, mereka adalah Ayah dan Ibu dari Maria. Maria adalah anak satu-satunya dari keluarga Himemiya, dan sekarang, Ia menulis sepucuk surat, untuk pergi dari rumah.
Surat itu berisi seperti ini,
" Aku pergi sebentar ke daerah Santolo (kota kecil di pinggiran Paris), untuk mencari pangeran Ku ya. Maria "
...******...
Stasiun Santolo
Tap!
Tok. Tok. Tok!" Suara langkah sepatu wanita yang terdengar anggun.
Apaan tuh?"
Gaun?" Semua orang yang berada di sekitar Stasiun, nampak terkejut, karena mereka melihat pemandangan yang tidak biasanya.
Nampak seorang gadis cantik dan mungil, membawa payung kecil di tangan kanannya, dan tas kecil di tangan kirinya. Ia memakai gaun bermotif polkadot, serta rambutnya yang keriting gulung menjuntai, dan langkah kakinya yang nampak sangat anggun, seperti layaknya seorang putri bangsawan.
"Sudah sepuluh tahun nggak ke sini ya, Piyo." Ucap Maria kepada Anak Ayam kecil, yang sedari tadi berada di pundaknya.
"Pi!" Jawab Anak Ayam itu.
"Semua ini, demi bertemu dengan Pangeran yang berada di kota ini," lanjutnya, seraya melihat peta kecil di tangan kirinya.
...******...
...Maria POV...
Namaku Maria Antoinette Himemiya, dan sekarang, usia Ku hampir menginjak 15 tahun. Aku datang kesini tidak sendirian, Aku ditemani oleh Sahabat kecil Ku, yaitu Piyo si Anak Ayam.
(Buat kalian yang bingung, Piyo itu adalah robot anak ayam kecil, yang sudah di lengkapi dengan kecerdasan buatan, jadi Piyo mengerti semua ucapan Maria).
...Maria POV end...
Syut!" Maria melompat dari atas pembatas jalan, dengan payung kecilnya yang terbuka. (Ia berniat mengambil jalan pintas, karena malas untuk memutar, dan memilih loncat saja, walau jaraknya lumayan tinggi).
"Nah, mari kita pergi ke Sekolah!" Ucapnya sambil melompat.
Wush!... Lho?" Maria terkejut karena di bawah pijakannya, terdapat seorang anak lelaki yang sedang berjalan santai.
Kyaa!" Teriak Maria.
"Akh! Gaun?!" Lelaki itu terkejut, karena di atas kepalanya, terlihat Gaun terbang, yang tanpa peringatan, akan jatuh di atasnya.
Uwaaaaaa!" Teriak Maria.
Bruaak!" Maria jatuh tepat di atas lelaki itu.
.
"Terima kasih atas bantalannya." Ucap Maria santai, dan masih duduk di atas perut lelaki itu, serta tersenyum bahagia, sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
Hmmm, padahal seharusnya bukan begini" batin Maria.
(Dalam pikiran Maria, seharusnya Ia bisa berpijak dengan elegan).
Set, set!" Maria beranjak berdiri dengan cepat, dan membersihkan gaunnya. Lalu melihat kearah kanan dan kiri, untuk melihat arah yang benar.
"Jangan main-main! Memangnya siapa yang bantal?!" Ucap lelaki itu sambil memegang kepala, dan berusaha untuk ikut bangun.
Kok ada gaun yang jatuh sih?! Siapa sih dia ini?!" Batin lelaki itu.
Hah?!" Maria terkejut setelah melihat penampilan pria itu.
"Banyak luka goresan...!" Maria sangat panik.
"Gara-gara kau...!" Ucap lelaki itu sambil menatap sinis Maria.
Demi aku?!" Batin Maria.
"Biar segera Ku rawat!" Ucap Maria tegas.
Sreek!" Maria merobek bagian renda atas gaunnya.
Bu... bukannya itu mahal..." Pikir lelaki itu.
Sampai terluka seperti ini..." Ucap Maria dalam hati, sambil mengikat renda tadi di tangan kanannya yang terluka.
"Kau sudah mengorbankan tubuhmu demi Aku, terima kasih ya...!" Ucap Maria tulus, dan masih menggenggam tangan lelaki itu.
"Semoga cepat sembuh." Maria melambaikan tangannya, dan pergi dari hadapan lelaki itu.
"Sebenarnya, ada apa sih...?" Lelaki itu masih tidak percaya dengan apa yang barusan Dia alami.
.
"Ternyata di dunia ini ada banyak orang baik ya, rasanya Aku jadi tambah semangat!" Dengan riang dan gembira, Maria melanjutkan perjalanannya.
...******...
"Hari ini, akan bapak perkenalkan murid barunya, namanya Maria Antoinette Himemiya." Ucap Pak Guru memperkenalkan Maria di depan semua murid kelasnya.
Plek!" Maria mengangkat gaunnya untuk memperkenalkan diri.
"Salam kenal, Aku datang dari Perancis, untuk mencari Pangeran yang sudah di takdir kan untukku." Maria memperkenalkan dirinya dengan nada bahagia.
Waaa!"
Takdir?!"
Pangeran?!"
Gaun... Dan Anak Ayam...?" Semua murid nampak terkejut dengan kehadiran Maria.
"Para Pria sekalian... Apakah ada yang ingat tentang kalung ini?" Maria menunjukan kalung emas putih di lehernya, kalung itu nampak seperti memiliki bagian yang kosong di tengahnya.
Sepertinya tidak ada ya," pikir Maria, sambil melihat ke segala arah.
"Lho..?" Maria agak terkejut, karena tanpa sengaja melihat orang yang tadi Ia temui di jalan.
"Tuan Bantal!" Ucap Maria keras sambil melirik ke arahnya.
Bantal?" Ucap salah seorang murid yang bingung.
Bruk!... "Aku bukan bantal! Namaku Yuuki!" Ucap Yuuki kesal, sambil menggebrak meja tempat Ia belajar.
"Oh, ternyata kenalan Yuuki ya? Tolong bantu Dia ya." Saut Pak Guru, setelah melihat kejadian itu.
"Nggak mau," jawab Yuuki pelan dan memalingkan pandangannya.
.
__ADS_1
"Salam kenal Tuan Yuuki." Ucap Maria yang sudah berdiri di samping Yuuki, dan bersiap untuk duduk.
Tuan Yuuki." Batin Yuuki bingung.
Haaah!" Yuuki menghela nafas, dan sama sekali tidak melirik Maria.
"Wah, baru pertama kali Aku melihat meja selucu ini! Tipis sekali ya." Ucap Maria terpesona.
Aku nggak mau berhubungan dengannya lagi!!" Batin Yuuki yang sudah lelah dengan Maria.
"Boleh pelajarannya di lanjutkan?" Ucap Pak Guru yang melihat Maria masih sibuk memperhatikan meja tempat Ia belajar.
.
Jam pelajaran pertama, Matematika
"Satu tangkai bunga harganya 80, nah dengan menggunakan rumus ini, berapa tangkai bunga yang bisa dibeli dengan uang 1000, jika membeli pita seharga 60?" Pak Guru memberikan pertanyaan.
Namun, setelah membacakan pertanyaan itu, tidak ada sama sekali murid yang bisa menjawab.
"Tidak ada yang bisa menjawab kah?" Tanya Pak Guru.
"Soal seperti ini sih mudah." Jawab Maria yakin.
"Coba jawab Maria." Perintah Pak Guru.
"Dengan memakai kartu ini, berapa tangkai bunga pun bisa di beli!" Jawab Maria, sambil menunjukkan Kartu milik Keluarga Himemiya, Diamond Card.
(Kartu keluarga Himemiya yang bisa digunakan untuk membeli apa saja)
Diamond Card!" Batin Pak Guru terkejut.
"Sa... Salah!"
Mendengar jawaban Pak Guru, Maria langsung membatu.
"...kenapa? Ini bisa digunakan untuk membeli Helikopter ataupun Villa lho!" Tanya Maria kepada Yuuki yang berada di sampingnya.
"Jangan tanya Aku. Selama ini Kau menjalani hidup macam apa sih." Yuuki merasa bingung dengan Maria.
.
Teng! Teng! Teng!" Suara bel sekolah sudah berbunyi, dan itu menandakan jam istirahat dimulai.
"Gaun Mu indah sekali!" Ucap salah seorang murid cewek yang mendekati Maria.
"Wah dari sutra," sambung temannya.
"Seragamku belum jadi sih." Jawab Maria sambil tersenyum.
Maria pada saat itu benar-benar jadi pusat perhatian di kelasnya, hampir semua mata tertuju ke arahnya.
"Kami juga ingin pakai," ucapnya kepada Maria.
Seperti tuan putri saja," mereka mengagumi Maria dalam hatinya.
"Di Rumahku ada banyak gaun, kalau mau, datang dan coba saja." Ucap Maria kepada mereka.
"Siapa yang mau pakai," ucap Yuuki yang sedari tadi ikut memperhatikan Maria.
Syukurlah semuanya bersikap ramah," batin Yuuki merasa lega.
"Ngomong-ngomong, Kalung ini besar sekali ya..." Ucap Yuuki sambil menghampiri Maria, lalu memegang kalungnya, tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
"Jangaaaaan!!" Teriak Maria begitu kencang.
°Jurus Rahasia, Serbuan Bunga Mawar°
Plak!" Maria menampar Yuuki dengan keras
__ADS_1
...°°°°°°°°°...