
Mungkin jika kubayangkan, sekarang ekspresiku sedang melongo, Aku yakin dengan itu, karena siapapun pasti akan sama terkejutnya denganku.
"Tolong jangan gerak." Pinta Iyan, dan masih fokus memainkan lidahnya untuk membersihkan darahku.
Ini...? Dia sekarang sedang asik memainkan lidahnya di jariku, apa sebenarnya ini?" Batinku merasa sangat bingung, dan entah kenapa, Aku tidak bisa melawan Iyan.
Tubuhku seolah mengijinkan untuk Iyan melakukan itu, bahkan Aku sekarang seperti sedang kenikmatan.
Tapi, kok Aku pusing....?
Bruuk!!" Tubuhku sekarang sedang berbaring di lantai, Aku bahkan tidak bisa merasakan bagian tubuhku lagi, mungkin tepatnya, sekarang Aku sedang pingsan.
...*******...
Sekolah
Aku berjalan pelan menuju kelas, tubuhku sangat lelah karena tidak bisa tidur tadi malam. Tepatnya, saat Aku tersadar dari pingsan, Aku tidak memejamkan mataku lagi.
Sreeek!" Aku membuka pintu kelas.
Awalnya Aku berjalan biasa saja, tapi entah kenapa rasa lelah di tubuhku seperti sedang memuncak, bahkan terlihat jelas di wajahku, pucat, tidak bersemangat, ibarat Aku sudah lelah karena lari maraton 5km tanpa henti.
Hyuuung..."
Braakk...!" Aku kehilangan keseimbanganku, dan tanpa sengaja, Aku menabrak meja di hadapanku itu.
"Aduh.." Rintihku kesakitan.
"Kau kenapa Seki?" Ujar seorang temanku yang datang menghampiri.
"Akhir-akhir ini, Kamu sering gak enak badan ya..." Ucap Dia sambil membantuku berdiri.
Untung saja di kelas sekarang masih sepi, dan hanya ada temanku disini sendirian, karena jatuh seperti ini, bukanlah sakit yang Aku khawatirkan, tapi malu.
"Iya..." Jawabku singkat sambil berdiri kembali.
"Itu karena Kamu tinggal di Rumah Berhantu itu, mungkin disana benar-benar ada hantunya..." Ucap Dia yakin.
"Iya... Ada... Bahkan setiap hari..." Jawabku sambil memikirkan kengerian di Rumah itu.
"Jadi ternyata gosip itu memang benar..." Ucap Dia ikut memikirkan sesuatu.
"Hantu lelaki Penunggu Rumah itu.. Penampilannya nggak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu..." Lanjut Dia menceritakan tentang rumor Rumah itu.
"Eh..!?" Gumamku terkejut, dan tanpa sengaja bayangan Iyan terlintas jelas di benakku.
"Dia bukan sembarangan hantu. Gosipnya, kalau Kau dekat-dekat dengannya, jiwamu akan di hisap..." Tambah ceritanya sambil mengajakku untuk duduk.
Di hisap!?" Batinku khawatir.
Jika di pikir-pikir, benar kata temanku ini, banyak sekali kejadian di Rumah itu, dan Aku tahu pasti penyebabnya, tapi Aku tidak ingin menganggap hal itu benar.
Mungkin, ini bermula saat Aku tahu waktu badanku kurusan, Aku pikir itu hanya keberuntungan belaka, tapi entah kenapa, kondisi badanku ikut memburuk di hari-hari selanjutnya.
Dan juga, kalau ada di samping Iyan, kelakuanku jadi agresif, semua itu terjadi karena Aku terus berada di dekat Iyan.
__ADS_1
'Hantunya muncul di Rumah ini lho' tiba-tiba saja Aku teringat dengan perkataan Iyan sebelumnya.
...******...
Rumah
Aku buru-buru untuk kembali ke Rumah setelah pulang dari Sekolah, dan bergegas berlari ke arah Kamarku.
Jangan-jangan Iyan juga hantu?! Aku harus segera keluar!!" Batinku mulai panik.
Aku dengan cepat mengambil tas pindahanku dulu, lalu memasukan semua barangku di sana.
Ya, nggak salah juga sih, jika Aku berpikir ke arah situ, habisnya, memang benar Aku nggak enak badan terus, dan kejadian aneh, selalu berhubungan dengan Iyan." Pikirku sambil meneguhkan hatiku.
Seki..?" Ujar Iyan yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamarku, dan berkat panggilannya itu, Aku langsung tersadar dari lamunanku tadi, dan membuat Aku terkejut setengah mati.
"Apa yang sedang Kamu lakukan..." Ucap Iyan dengan tatapan dingin, bak Raja Iblis yang akan memulai menyiksa tawanannya.
Jujur, siapapun yang sekarang melihat ekspresi Iyan, pasti akan berpikir kalau hidupnya akan berakhir detik itu juga.
Apalagi, di tatapan dinginnya itu, terasa sangat jelas aura marah di sekitarnya, bahkan anak kecil pun akan langsung tahu hal itu.
"A.. Aku mau keluar dari sini..." Jawabku sedikit terbata-bata.
"Kalau begitu, Aku akan menghukummu..." Ucap Iyan yang sudah berada di depanku, lalu Ia menyentuh wajahku menggunakan kedua tangannya.
Hanya satu hal yang Aku pikirkan saat itu, dan pastinya itu bukan hal Romantis yang selalu Aku idam-idamkan.
Dan benar saja dugaanku, Iyan sekarang sedang mendekatkan wajahnya, dan terus mendekat, Aku juga bingung, kenapa tubuhku tidak bisa melawan Iyan, kenapa tubuhku kaku untuk di gerakan.
Cup..." Iyan melahap bibirku, walau Dia menciumnya dengan lembut, tapi bukan rasa nikmat yang Aku rasakan, melainkan rasa dingin yang terasa jelas di kenyalnya bibir Iyan.
Deg..!" Degup jantung ini bukan menandakan rasa senang atau bahagia, tapi rasa takut bercampur lelah, yang tiba-tiba meledak di dalam tubuhku.
Ah... Masa Aku meninggal begitu saja... Seperti ini lagi...
Bruuk!!" Aku terpelanting ke belakang, keseimbanganku goyah.
.
.
.
Ng?!" Lirihku sambil membuka mata perlahan.
Saat Aku membuka mata, yang pertama Aku lihat adalah langit-langit kamarku, dan saat itu juga, Aku langsung terperanjat kaget, bahkan langsung duduk di kasurku.
"Aku masih hidup?" Gumamku.
Dan saat Aku melirik ke arah samping, mataku menangkap Iyan yang sedang tersenyum disana.
"Uhh... Ternyata memang benar Iyan menghisap jiwaku!!!" Teriakku takut tanpa sadar.
"Menghisap?" Jawab Iyan tidak mengerti.
__ADS_1
"Kau ini Hantu kan!!! Ada gosip kalau penampilanmu nggak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu!!" Ucapku dengan takut.
Namun bukan marah yang Aku dapatkan setelah berbicara seperti itu, entah apa yang ada di pikiran Iyan sekarang.
"Ahh.. Ya memang ada gosip seperti itu sih..." Jawab Iyan santai, lalu Ia mengambil sebuah foto di saku bajunya.
"Ini adalah Ayahku yang sedang jalan-jalan, mirip sekali kan? Gosip itu timbul karena ini." Jelas Iyan sambil menyerahkan Foto itu, namun tidak Aku ambil.
Itu nggak mungkin, Aku nggak bisa percaya begitu saja pada Iyan, habisnya banyak sekali buktinya kalau Iyan ini Hantu.
"Tapi Aku benar-benar nggak bisa tidur... Aku juga nggak enak badan terus..." Ucapku sambil memikirkan bukti lainnya.
"Itu karena tiap hari Kita main sampai malam." Jawab Iyan masih santai.
"Kalau ada di sampingmu, kelakuan Aku jadi agresif..." Lanjutku tegas, sambil menatap yakin ke arah Iyan.
"Itu sih... Karena Cinta kan!?" Jawab Iyan seraya senyum percaya diri.
".......! Eh...?" Gumamku, dan tiba-tiba Aku tersipu malu mendengar kata cinta.
"Lagi pula, Aku bohong kok soal ada Hantu di Rumah ini..." Ucap Iyan sambil naik ke atas kasurku.
"He?! Kenapa Kau bohong..?" Tanyaku sambil sedikit mundur.
"Habisnya, Seki yang ketakutan kelihatan imut sih, ini juga karena cinta kan..." Ucap Iyan sambil tersenyum, dan sekarang Ia sedang mendekatkan kembali wajahnya.
"Hah?!" Aku terkejut, namun bukan terkejut karena Iyan yang sedang mendekatkan wajahnya itu, tapi Aku terkejut karena perkataannya.
"Aku yang menakutimu, Aku juga yang membuatmu merasa tenang. Karena Aku ingin Kau sepenuhnya ada di pelukanku..." Ucap Iyan terdengar lembut dengan senyumannya.
Mendengar itu, siapapun pasti akan langsung merinding, bahkan Aku juga termasuk.
"Kau... Dasar maniak!!" Ucapku terkejut.
"Fufufu... Kau baru menyadarinya sekarang ya?"
Pada saat ini, hanya satu hal yang Aku pikirkan, yaitu... Kabur!!
Aku dengan cepat membalikkan tubuhku, berniat untuk merangkak kabur dari Iyan.
"Tapi sudah terlambat..." Ucap Iyan seraya memelukku dari belakang.
"Seki sudah jadi milikku, Kau tidak bisa kabur lagi..."
"Gyaaaa....."
Sekarang teriakanku, akan menutup hariku yang penuh rasa takut.
Sweet Nightmare ~end.
...°°°°°°°...
Rasanya seru juga buat cerita seperti ini, walau nuansa horornya belum keluar semua, tapi menurutku ini sudah sangat luar biasa, mungkin lain kali harus ada adegan yang lebih luar biasa lagi...
Nantikan cerita selanjutnya ya ☺
__ADS_1
Jangan lupa like 😍