Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Sweet Nightmare #4


__ADS_3

"Apa!! Aku kalah lagi!!" Ucapku marah karena kalah bermain kartu.


Ya, Aku kira apa hal yang menyenangkan maksud Iyan tadi, sungguh bodoh, kenapa harus berpikir sampai situ sih.


"Seki, Kau ini terlalu lemah..." Jawab Iyan dengan tatapan meledek karena menang.


"Kalau gitu, Kau harus menuruti apa kataku ya... Coba tiru seekor anjing."


"Apa?!" Ucapku kaget, memang dari awal permainan Kita sudah buat peraturan seperti ini, tapi kan...


.


"Tangannya." Perintah Iyan dengan tatapan senangnya.


"Guk."


"Yang satu lagi."


"Guk."


Hah... Sungguh menyebalkan, awas saja kalau Aku menang nanti, akan kubuat lebih parah dari ini." Batinku mengutuk Iyan.


"Hahahha... Lucunya." Iyan tertawa renyah, menikmati peragaan yang sedang kulakukan.


Hahh... Sebal, kapan malam ini berlalu, kenapa Aku masih belum mengantuk, Aku ingin ini segera berakhir...


"Sudah, sudah." Ucap Iyan tersenyum manis, sambil mengelus pucuk rambutku.


Deg deg deg..." Lagi-lagi jantungku berdetak cepat.


Dia memang menyebalkan, tapi... Senyumannya manis sih, Aku ingin lebih sering melihatnya..." Batinku mulai berharap.


Dan begitulah caraku menghabiskan malam ini, begitu juga dengan esok dan seterusnya....

__ADS_1


...******...


Kamar


"Lho?!" Gumamku kaget, karena melihat angka di timbangan sangat aneh.


Ya, saat ini Aku sedang menimbang berat tubuhku, dan itu adalah hal wajar untuk seorang gadis, seperti ritual kelangsungan hidup.


Berat badanku turun 3 kilo...?" Batinku merasa aneh.


Jujur Aku kaget ketika melihat angka itu, padahal nggak diet, nggak ngapa-ngapain, tapi sekarang...


"Lucky!!" Ucapku senang sambil menatap angka itu lagi.


Setelah cukup puas menikmati momen itu, dengan ceria Aku keluar dari kamar, dan berjalan ke dapur untuk menjumpai Iyan yang kemungkinan sedang memasak.


Buat apa juga ambil pusing tentang hal itu, walaupun sebenarnya beratku sudah ideal, ngurang sedikit mah, ini seperti memberikan kelonggaran untukku, kelonggaran untuk makan sepuasnya, hehe...


"Ng?!.. Kau sedang apa?" Tanyaku penasaran.


"Masak... Nih, makanlah.." Jawab Iyan sambil memperlihatkan rebusannya kepadaku.


Tentu saja ini seperti keberuntungan kedua bagiku, padahal tadi baru niat aja untuk makan enak, tapi sekarang Iyan sudah membuatkannya untukku, mmmm...


"Ada apa nih tiba-tiba?!" Ucapku terpesona dengan makanan mewah yang Iyan sajikan di meja makan saat Aku duduk.


Iyan menyajikan rebusan makanan laut kepadaku, tentunya porsinya banyak, selain itu, rasanya juga enak lho.


Aku terpesona, karena biasanya cuman telur ceplok yang Iyan sajikan, dan ini sebuah kemajuan baginya, uh.. Aku ingin segera menyicipi makanan ini.


"Akhir-akhir ini, Kau kelihatan kurus." Jawab Iyan penuh perhatian, namun Ia masih berdiri di depan kompor.


Aku tidak menjawab perkataannya itu, dan hanya fokus pada rebusan di depanku, Aku belum menyentuhnya, karena sedang menikmati bentuk dan aromanya yang estetik ini.

__ADS_1


"Kau tidak boleh lebih kurus lagi dari ini. Nih...Aaaaa." Ucap Iyan yang tiba-tiba duduk di sisiku, lalu mengambil sesendok kaldunya, dan berniat menyuapi Aku Rebusan itu.


Deg!" Apa ini....


Saking terkejutnya dengan perlakuan iyan, Aku sampai tidak bisa mengontrol kegugupanku, dan tanpa sengaja menyenggol mangkuk berisi rebusanku itu.


Mataku pada saat itu hanya tertuju pada sendok di tangan Iyan, lalu perlahan beralih kepada matanya yang mempesona, layaknya Raja Iblis yang siap menyantapku.


Praaaang!!"


Hah?! "Ma.. Maaf..." Pandanganku langsung buyar setelah mendengar suara mangkuk pecah itu, lalu meliriknya dengan tatapan penuh penyesalan.


Hahh... Apa sih yang Aku lakukan, padahal Dia sudah susah-susah masak." Batinku kesal, lalu Aku berdiri, dan dengan cepat jongkok, untuk mengambil pecahan mangkuk itu.


"Aduh, sakit..." Lirihku, karena tanpa sengaja pecahan kaca itu menggores jari telunjukku.


"Jarimu kena pecahan piring ya?" Tanya Iyan melihat ke arahku.


"Maaf, masakannya..." Ucapku merasa sangat bersalah, lalu berdiri, berniat untuk membersihkan dahulu luka ini.


"Jangan cemaskan itu." Ucap Iyan yang sekarang sedang berdiri di depanku.


Pada awalnya, kukira Iyan akan marah kepadaku, karena terlihat dari tatapannya, bahwa Ia seperti memikirkan sesuatu. Hahh.. Aku akan menerima hukumanku untuk ini.


Grep!" Iyan mengambil tanganku yang sedang berdarah itu, lalu...


Jujur, keadaan ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku sama sekali, jika harus ku umpamakan, adegan seperti ini hanya akan ada di dunia fantasi saja, tapi fantasi horor!


Iyan, Dia mengambil tanganku bukan untuk membalut lukanya atau apa, Dia sekarang, tanpa ragu sedikitpun di raut wajahnya, menjilat lukaku yang sedang mengalir di jari telunjuk itu.


Ah... apa ini, bahkan Aku merasakan sensasi lidahnya di kulit telunjukku yang sedang kebas.


...°°°°°°°°°...

__ADS_1


__ADS_2