Fiktif Belaka

Fiktif Belaka
Star Falling Gift #2


__ADS_3

"Aku Pulang." Teriak Ku, padahal di rumah tidak ada siapa-siapa, haha.. Dasar Aku.


Tubuhku terasa sangat berat, padahal berjalan dari Sekolah tidak terlalu jauh, mungkin Aku terlalu memanjakan diriku.


Hahh.." Sebal, entah kenapa Aku selalu mengeluh dengan hal sepele. Mungkin, karena ini juga, semua orang masih menganggapku anak kecil.


Bahkan kemarin juga sama, entah kapan Aku bisa memenuhi harapan mereka.


Hahhh..."


...*******...


...Flashback On...


Kemarin....


Tepatnya, waktu Papa memberikan hadiah jalan-jalan selama seminggu ini kepada Bi Dewi.


"Bi Dewi, terima kasih atas bantuanmu selama 10 tahun ini." Ucap Papa tersenyum, sambil menunjukan kartu travel di tangannya.


Ya, Papaku memberikan kejutan besar dan mendadak untuk Bi Dewi. Papaku adalah seorang Direktur Toko Mainan, jadi mudah saja Ia mendapatkan kartu travel itu.


"Bersantailah, kudengar disana juga ada pemandian air panas, dan itu cocok saat natal nanti." Ucap Papa sambil memberikan kartu itu.


Mama dan Bi Dewi yang sedang berada di dapur, mereka sedikit terkejut dengan kejutan dari Papa, dan tidak memberikan respon selama beberapa detik.


"Terima kasih banyak, tapi saat itu, Tuan dan Nyonya jarang ada di Rumah karena lagi sibuk kan?" Tanya Bi Dewi khawatir.


"Besok kan? Mendadak sekali. Kalau membiarkan Nona sendirian di Rumah.... itu nggak mungkin." Tambahnya.


"Tenang aja Bi, biar Saya yang membuat makanan. Tapi, bagaimana dengan bubur untuk sarapan?" Ucap Ibu.


"Miri hanya mau sarapan bubur buatan Bi Dewi, Miri mau sabar, makan bubur buatan mama?" Lanjut Ibu dan sedikit membuatku kesal.


"Nggak bisa, Saya tinggal disini karena Nyonya lagi sibuk dengan urusan di Toko kan? Nyonya tidak perlu seperti itu, kali ini Saya menolak." Potong Bi Dewi.

__ADS_1


"Kenapa sih? Sudahlah, jangan khawatirkan Aku. Aku kan sudah SMA, Bi Dewi jalan-jalan saja." Ucapku, Aku tidak mau pembicaraan ini makin panjang, karena ujung-ujungnya pasti kepada hal yang sama.


"Tapi Dia benar-benar nggak bisa apa-apa." Gumam Bi Dewi.


"Benar." Jawab Mama.


"Kalau masalahnya cuman sarapan, nggak sarapan juga gapapa." Ucapku.


"Nggak, Kau harus sarapan. Sementara, sarapanlah dengan makanan lain." Ucap Bi Dewi, tidak setuju dengan pendapatku.


"Nggak. Tapi Bi Dewi pergi jalan-jalan saja." Mungkin ucapanku terdengar egois, atau naif, tapi jika masalahnya hanya tentang sarapan, lebih baik tidak sarapan sama sekali.


Fuuh.." Bi Dewi menghela nafas.


"Sebenarnya Bibi nggak mau melakukan ini, tapi apa boleh buat, akan Bibi panggil Cucu kesayangan Bibi untuk menggantikan. Masakan anak itu bisa menyamai masakan Bibi, Dia juga bisa bikin bubur, Bibi sudah mengajari dasar-dasarnya."


Ehh?!" Aku terkejut sekaligus senang mendengar hal itu, karena mungkin Ia akan jadi teman ngobrolku.


"Cucu Bi Dewi? Orangnya bagaimana?" Tanyaku kepada Bi Dewi, ditambah sedikit antusias layaknya anak kecil.


"Wah! syukurlah, Kau nggak akan kesepian di hari natal. Mamah akan berusaha pulang lebih cepat, kita buat pesta." Ucap Mama.


"Jangan pikirkan soal itu, ada kue juga sudah cukup. Aku bukan anak kecil yang akan membenci Mama, Kalau Mama nggak ada." Jawabku.


Ya, Aku memang tidak tertarik lagi dengan Natal, walaupun tiap tahun masih merayakan pesta kecil-kecilan. Tapi sebenarnya Aku sudah tidak merasakan kesan indah tentang Natal.


"Miri, Kau itu masih kecil. Mau jadi orang dewasa, tapi masih sarapan bubur, nggak bisa makan pedas, dan nggak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga."


"Mama mengkhawatirkanmu! Kau nggak mengerti itu Miri..." Ucap Mama sambil berpura-pura mengusap air mata menggunakan sapu tangannya.


"Jangan berlebihan!" Ucapku, sudah sangat kesal dengan obrolan ini.


"Apa yang Kau bicarakan Miri?"


"Itu tepat sekali nyonya.." Saut Bi Dewi ikut dalam obrolan.

__ADS_1


"Sudahlah..."


Dan obrolan itu berlanjut hingga jam makan malam telah lewat.


...Flashback Off...


...******...


Rumah Miri - Ruang Keluarga


Kring kring kring.." Suara bel rumahku berbunyi.


"Iya!!" Teriakku, sepertinya Dia sudah datang, Aku sudah menantikan Dia sejak pulang Sekolah, kuharap Aku bisa berteman baik dengannya. Dengan cepat Aku berlari ke arah pintu.


"Maaf, Saya Cucu Bi Dewi." Saut orang itu.


"Iya, sebentar, kubukakan pintunya." Jawabku, yang sebentar lagi sampai di depan pintu.


"Baik, selamat data....?" Ucapku terpotong, tepat setelah pintunya terbuka.


Aku sangat terkejut dengan pemandangan yang kulihat.


"A.. Aku Ueno. Salam kenal Nona...?" Ucap Dia terbata-bata, Ia juga sama terkejutnya setelah melihatku.


Jujur, Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat ini. Reno teman sekelasku, Cowok imut yang ingin di jadikan adik oleh sahabatku, berdiri tepat di hadapanku sekarang.


Tapi satu hal yang berbeda.. Dia memakai wig, dan bahkan terlihat sangat cantik.


Ehhh..?! "Reno? Kenapa? Kau Cucunya Bi Dewi?.." Ucapku penuh tanya kepadanya.


"Jadi ini Rumah Miri... Aku Cucunya, Nenek sudah mengajariku banyak hal tentang Nona." Jawab Reno sedikit memalingkan pandangannya.


"Ke.. Kenapa penampilanmu begitu..!? Apa maksud Bi Dewi..?" Tanyaku lagi, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat.


....fuuuh, "Jadi begitu, ternyata Nona Muda yang hanya bisa sarapan bubur itu.. Miri. Hanya Aku yang bisa membuat itu, jadi Nenek memanggilku kemari." Ucapnya percaya diri, namun sedikit senyum mengejek terlihat di wajahnya.

__ADS_1


...°°°°°°°°...


__ADS_2