Finding Lost Daddy

Finding Lost Daddy
BAB 15. Like A Finding Nemo?


__ADS_3

POV Andro.





Aku masih menyimpan sejuta pernyataan bernada pertanyaan didalam hati, tentang apa alasan dari Mommy pergi saat hamil dulu.


Apakah ini ada kaitannya dengan Daddy atau bukan, tapi aku tidak akan bertanya sekarang, Mommy sedang berada di fase memperbaiki diri dan aku malah mencoba mendekatkan diri kepada Daddy.


Bukan tanpa alasan, aku harus melakukan ini, kalaupun bukan untuk balas dendam, setidaknya agar dia tahu kalau dia memiliki seorang anak.


Berbicara soal Mommy, dimana Mommy? Om Zian yang duduk disampingku daritadi masih disini.


"Apakah uncle Zi tidak tertarik untuk pergi, mengenai kontrak uncle bisa bicara dengan Mommy," ucapku berusaha mengusirnya.


Harusnya dia mengerti kecuali dia tidak tahu tentang cara mengode yang baik, lagipula Om Zian kan pintar harusnya dia memahami maksudku.


"Oke Fine, Uncle akan berbicara dengan Mommymu, aku mengerti maksudmu, Boy, aku pernah mengenal seseorang yang genius sepertimu, dan rasanya aku menemukan duplikatnya," jawab Om Zian berdiri.


Aku menghela napas panjang, Om Zian kemudian melangkahkan kakinya pergi tapi sebelum itu aku menahannya.


"Uncle Zian? Tahu Drama Korea Big Mouth, si B dituduh sebagai Big Mouth dan si A tertawa karena si A lah Big Mouth-nya, perhatikan langkahmu Uncle," jawabku yang membuat Om Zian berhenti sejenak kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


Aku tahu, Om Zian tidak akan semudah itu melepas kecurigaan kepadaku, terlebih Om Zian adalah tembok terdepan dari Daddy.


Jika ingin merusak isinya, maka lukai kulitnya dan kulit yang kumaksud adalah Om Zian itu sendiri.


"Hai Zian, senang mengenalmu, tapi kau terlalu banyak tahu, sebuah penawaran atau tidak sama sekali, menyerah atau aku yang membuat kalah," KLIK! pesanpun terkirim.


Saatnya menjadi Nemo bukan Andro.



POV Nanas.


Zach itu benar-benar gila, luka separah ini tidak dia anggap serius, aku menjadi bingung dengan pola pikirnya.


"Kau harus memeriksakan ini ke dokter, Zach, sepertinya luka dalam, ini membiru," ujarku yang membuat Zach tersenyum menatapku. "Berhenti menatapku mesum, Zach."


Aku sedikit mengompres luka itu karena memang tidak ada luka terbuka hanya sedikit bengkak dan membiru, aku tidak tega membiarkannya begitu.


"Apa kau sudah menikah?" tanyaku memulai obrolan agar suasana tidak canggung.


Rasanya ini pertanyaan yang salah.


"Kenapa kau menanyakan itu, kau ingin menjadi istriku?"


Kan! Pertanyaan yang salah, aku menyesal menanyakan hal itu, kembali fokus saja membereskan kotak obat.

__ADS_1


"Lupakan saja, Zach."


"Bagaimana aku bisa menikahi seorang wanita, jika cintaku sudah ku simpan kepada orang bernama Syahnaz semua," bisik Zach yang membuatku bergidik.


Entah gombalan keberapa dan wanita keberapa yang di rayu begini, aku sudah selesai membereskan kotak obat-obatan itu dan berdiri dari posisiku.


"Aku akan kembali, ke aula, ada banyak hal yang aku ingin kerjakan, terimakasih Zach, sekali lagi aku katakan, semoga ini pertemuan terakhir, kita."


Aku berjalan ke arah pintu, namun sebelum aku pergi dari sana aku berhenti sejenak karena Zach mengucapkan sesuatu.


"Untuk pertama kalinya, aku akan berdoa kepada Tuhan agar memberi aku cela untuk bisa bersamamu lagi," ujar Zach. "Dan aku memaksa!"


Sudahlah, omong kosong Zach itu tidak mempan denganku, aku berjalan saja menuju aula tidak jadi ke toilet seperti tujuan awalku.





TBC


Assalamualaikum


Berat kayaknya Zach sama Nanas

__ADS_1


Aku bakal bagi-bagi 100rb buat 5 orang tapi rulesnya belum sekarang, next episode aku kasih tahu rulesnya.


Babay


__ADS_2