
POV Zach
•
•
•
Sebuah perjalanan yang lumayan melelahkan untuk Melbourne-Australia ke Jakarta-Indonesia.
Rasa-rasanya aku ingin menyentuh ranjang saja selepas ini, badanku sudah benar-benar tidak bisa di ajak untuk bekerja sama.
Apalagi sebelum berangkat, syndromeku kambuh lagi, benar-benar merepotkan, aku menderita Pluviophobia, kondisi dimana penderitanya mengalami gangguan kecemasan ketika terjadi hujan.
Aku tidak tahu pasti, sejak kapan aku menderita ini, tapi aku menderitanya saat aku melihat ibuku meninggal.
Saat itu usiaku masih enam belas tahun, ibuku menolak dimadu oleh Ayah, malam itu ibu mengajakku pergi namun naas ditengah hujan mobil yang kami kendarai tergelincir, semenjak itu aku sangat trauma dengan Hujan.
Yang mengetahui ini hanya Asisten Zian dan satu lagi Dokter pribadiku, Dilon, berbicara soal Dilon, aku sudah dua hari tidak bertemu dengannya.
Pit!
Suara klakson mobil membuat kami semua menatap ke arahnya, itu adalah Dilon, dia yang menjemput kami di bandara.
Dilon turun dari mobil kemudian berjalan mendekat ke arah kami, dia tampak sumringah entah karena apa dan bagaimana.
"Apakah disana, Hujan?" tanya Dilon yang membuat Zian mengangguk.
"Hanya ada sedikit insiden kecil, yah untung saja cepat di atasi," jelas Zian. "Kali ini kecil, biasanya dia akan langsung uring-uringan kan."
__ADS_1
Dasar Zian dan Dilon, bisa-bisanya mereka menceritakanku didepan ku langsung, tidak akan aku maafkan.
"Oh iya, Dilon, kenalkan ini Nanas dan Andro, sepasang ibu dan anak, mereka berdua adalah designer terkenal di Australia," ucapku memperkenalkan Nanas dan Andro kepada Dilon.
Dilon mengangguk kemudian menatap Nanas, entah kenapa ekspresi wajahnya berubah drastis, seperti menyimpan sebuah keraguan tapi akhirnya dia menjabat tangan Nanas walaupun dalam kondisi benar-benar seperti ragu.
Mungkin ini karena pertemuan pertama di antara mereka, kami semua sempat terdiam sebelum akhirnya Dilon mengakhiri situasi ini dan kami semua masuk ke dalam mobil yang di bawa oleh Dilon ke bandara.
"Kau ingin di antar ke rumah keluargamu, Nas?" tanyaku memastikan kepada Nanas tentang hal ini.
Nanas terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, ada apa dengannya setelah bertemu Dilon dia seperti banyak diam.
"Aku dan Andro akan menginap di hotel saja malam ini, karena aku belum mengabari keluarga di Indonesia, lagipula rumah keluargaku ada di Semarang sekarang, sudah tidak di Jakarta," jawab Nanas yang membuatku mengangguk.
Aku segera meminta Zian memesan sebuah hotel dengan pelayanan terbaik untuk di tempati Nanas dan Andro.
Tak lama kemudian, kami akhirnya menurunkan Nanas di hotel yang sudah aku suruh Zian untuk memesannya, lagi-lagi, Nanas hanya banyak diam saja.
Setelah perginya Nanas dan Andro membuat kami semua hanya tinggal bertiga, Zian, aku dan Dilon tentunya.
"Kau bertemu dengan Nanas, dimana Zach?" tanya Dilon yang membuatku mendelik, ada apa dengan dokter satu ini.
"Kau tahu wanita yang kutiduri sembilan tahun lalu? Dia adalah Nanas, selama sembilan tahun aku tidak pernah merasakan secinta ini kecuali bertemu lagi dengan Nanas," jawabku pada Dilon.
Dilon hanya menganggukkan kepalanya perlahan. "Kau tahu, sebelum aku menikah dengan istriku yang sekarang, aku hampir saja menikah dengan Nanas, tepat sembilan tahun lalu aku mengecewakannya, jika kau mencintainya ku harap kau bisa melakukan yang terbaik untuknya."
Apa maksud dari Dilon, apakah dia pernah memiliki hubungan dengan Nanas, aku belum sempat bertanya lebih dalam karena ponselku berdering.
[Halo, Ayah, ada apa? Aku baru saja tiba di Jakarta]
__ADS_1
[Pulang ke rumah, Ayah sedang sakit!]
Ini suara Rendra, sontak hal ini membuatku panik seketika, aku mematikan sambungan telepon itu dan meminta Dilon mengarahkan mobil ke kediaman orang tuaku.
Karena kemampuan Dilon dalam berkendara membuat kami bertiga sudah tiba disana dan bukannya tanda bahaya yang kulihat melainkan rumah sudah di hias dengan pernak-pernik pernikahan.
Astaga! Siapa yang akan menikah?
"Ayah! Ayah dimana?" panggilku berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku melihat Ayah duduk di sofa dengan tangannya memegang dadanya, sepertinya jantung ayah kambuh kembali.
"Ayah kenapa?"
"Zach, Ayah mohon besok kamu harus melakukan akad dengan Jia, ayah rasa, ayah sudah tidak punya banyak waktu lagi," bisik Ayahku.
Permintaan macam apa ini, aku masih terdiam sejenak sebelum Tante Lisa, ibu tiri Dajjal ini datang menghampiriku.
"Turuti saja kemauan ayahmu, Zach, kau tidak kasian kepadanya?"
Apa rencana wanita matre ini, bukannya jika aku menikah maka kesempatan untuk putranya menggeserku tidak ada karena seluruh aset perusahaan akan menjadi milikku.
Kenapa sekarang dia malah mendukung sekali, hm patut di curigai.
•
•
•
__ADS_1
TBC