Finding Lost Daddy

Finding Lost Daddy
BAB 20. Melbourne Airport: Menghapus Jejakmu


__ADS_3

POV Nanas.





Hari ini adalah hari keberangkatan kami menuju Indonesia, aku sendiri belum mengabari keluar dari Indonesia, untuk butik dan perusahaan design di Aussie aku titipkan sementara kepada orang kepercayaanku, karena aku akan berada di Indonesia selama enam bulan lamanya.


"Pesawatnya berangkat jam dua siang, Mom, kita terlalu cepat ini baru jam dua belas siang," ujar Andro beranjak duduk di sampingku.


Aku menatapnya sedang Zach terlihat jalan bersama Zian ke arah kami, Andro yang melihat itu sontak tersenyum, sejak kapan anak ini segembira itu bertemu Zach.


Kini kami semua berada di ruang tunggu, Melbourne Airport, benar kata Andro terlalu cepat tapi ini permintaan Zach.


"Hai, Dad!"


Hah!? Andro bilang barusan, Daddy? Aku tidak salah dengar kan dia memanggil Zach dengan nama Daddy.


"Terlalu cepat yah?" Zach duduk disamping Andro. "Sorry, Boy."


"No Problem," jawab Andro yang membuatku semakin tidak habis pikir ada apa di antara mereka ini.


"Tuan Zach, bukan Daddymu, Andro," jawabku memberi penjelasan. "Berhenti memanggilnya, Daddy."

__ADS_1


Andro hanya tersenyum kemudian menatapku sekilas. "Memang bukankan, aku hanya ingin mengakrabkan diri, kalau sewaktu-waktu Uncle Zach, adalah Daddyku."


Astaga! Apalagi maksud anak ini, penuh kejutan dan rasa misterius tingkat tinggi, aku hanya menghela napas panjang, tak lama kemudian Zian datang, dia membawa Gitar, oke apa lagi yang akan dilakukan tiga pria ini.


Ting!


Ada sebuah pesan, aku membuka ponselku, dari seorang tak dikenal dengan nomor kosong, Nemo?


Namanya Nemo, aku penasaran apa yang dikirimkan orang ini, dan isi pesannya berisi pesan tentang diriku dan Zach.


"Sejauh apapun kita berlari, jika jodoh sudah ditentukan dari sudut bumi manapun mereka, pasti akan bersatu," ucapku membaca pesan ini.


Ulah siapa ini, benar-benar kurang kerjaan berusaha mengamnestyku dengan banyak hal yang membuatku semakin badmood saja.


Ku tilik Zian, Andro dan Zach, mereka tidak memegang ponsel, lantas ulah siapa ini?


"Bisa Uncle, aku tahu sebuah lagu dari Indonesia," jawab Andro yang membuat Zian tersenyum. "Bisa?"


"Tentu, aku akan menjadi vokalisnya," jawab Zian.


Okey apalagi ini, aku harap ini bukanlah salah satu rencana dari Zach maupun Andro yang berujung pendekatan.


Aku tahu Andro bisa bermain gitar, entah bakat darimana anak ini tapi aku senang dia benar-benar berkembang.


Tring.

__ADS_1


Andro memetik gitarnya, aku tidak pernah tahu lagu apa ini, sedangkan Zian yang akan menyanyi.


[Terus melangkah, melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu, jalan pikiranmu, buatku ragu, tak mungkin ini tetap bertahan]


Oke Zian menyanyikan sebuah lagu yang aku sendiri tidak tahu lagi siapa tapi aku rasa lagu ini cocok untuk Zach.


Aku masih duduk tenang, sampai akhirnya Zach menarik tanganku dan mengajakku berdansa, okelah, berdansa dengan lagu semacam ini benar-benar menganggu.


Dan hebatnya aku terdiam sedang Zian dan Andro masih memainkan peran mereka masing-masing.


[Engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku, usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu]


Tanpa sadar Zian sudah mencapai reff lagu ini yang benar-benar membuatku berharap ini semua segera berakhir.


"Kau menikmatinya?" bisik Zach yang membuat terdiam tidak menjawab.


Aku tidak tahu apa yang terjadi yang jelas, kini aku dan Zach sedang berciuman dan mungkin di saksikan oleh banyak orang disini.


Aku tidak akan memaafkanmu Zach.




__ADS_1


TBC


__ADS_2