Finding Lost Daddy

Finding Lost Daddy
BAB 31. Sadar Diri itu, Penting!


__ADS_3

POV Andro.





"Kamu darimana semalam, tau-tau udah sampai Hotel aja, Mommy udah nungguin kamu lama di cafe kemarin," protes Mommy saat aku keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit di pinggangku.


Memang semalam saat selesai menguntit Nenek Lampir itu, aku langsung pulang ke hotel dan menelepon Mommy, badan lelah yang membuatku ketiduran sehingga baru pagi ini aku berbicara dengan Mommy.


Aku menatap badanku di cermin, kayaknya badan bagusku ini masih terlalu dini untuk dibentuk, aku akan menunggu beberapa tahun lagi untuk membentuk ini.


"Gausah gitu, kamu udah ganteng kok, kami persis kayak Daddy kamu itu, narsis!" jawab Mommy yang membuatku tertawa.


Aku berjalan ke arah Mommy dan mencium pipinya lalu duduk di meja makan untuk sarapan, kami menginap di hotel ini selama seminggu sebelum apartemen fasilitas dari kantor di siapkan.


"Andro, Mommy minta kalau didepan orang lain kamu jangan manggil Daddy ke Tuan Zach, walaupun dia adalah Daddymu," ujar Mommy yang membuatku menatapnya sembari mengunyah rotiku.


Aku tersenyum tapi tidak menjawab, fokus saja menghabiskan rotiku, aku tahu pasti Mommy kesal karena ku abaikan, Mommy sudah tahu bagaimana sifatku, jadi aku tidak ragu lagi untuk hal ini.


"Sampai kapan kita harus menutupi ini, akan ada saatnya semuanya akan tahu maka dari itu, perlunya pembiasaan dari awal," jawabku yang membuat Mommy menghela napas panjang.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaian setelah meminum susu, meninggalkan Mommy di meja makan dengan perasaan Mommy sendiri.


Terkadang Mommy harus memiliki waktu untuk breakdown, menjadi Mommy tidaklah muda, Mommy memiliki banyak pertimbangan sebelum memberitahu Daddy kalau aku adalah anak kandungnya, banyak pertimbangan tentang hal ini yang membuatku tidak terlalu berani menentang Mommy, walaupun Mommy tahu kalau aku itu keras kepala.


Didalam kamar, aku segera berpakaian, Mommy sendiri sudah berpakaian rapih ala kantoran, sedangkan aku juga kini memakai kemeja dan jasku, yah ini adalah hari pertama kami melaksanakan kerjasama antar perusahaan ini, aku akan mulai mendesign hari ini, tapi yang akan menjadi drama utamanya bukanlah ini, akan aku berikan kejutan kepada Nenek Lampir itu.


Setelah berpakaian lengkap, aku memakai sepatuku kemudian mengambil tasku serta laptopku dan berjalan keluar dari kamar menemui Mommy.


"Design hari ini untuk pakaian seperti apa Mom, aku rasa hari ini aku ingin melakukan observasi dulu sebelum mulai mendesign," ucapku berjalan ke arah Mommy sembari mengutak-atik laptopku.


"Terserah kamu Andro, selagi kamu nyaman dengan observasi terlebih dahulu, tidak apa-apa, tapi jangan kelamaan, karena kita harus mengejar sebuah design busana keluaran resmi dari perusahaan milik Zach untuk bulan pertama ini," jawab Mommy memakai high heelsnya.


"Siapa sih yang membuat tema Design ini?" tanyaku yang membuat Mommy mendelik.


"Daddymu! Aneh kan?"


Oh, pantas! Daddy yang membuatnya, aku ingin heran tapi ini Daddy, jadi aku tidak bisa heran lagi sekarang, mana ada Design yang mengusung tema go green pada kantor, jelas ini ingin cosplay jadi Tarzan atau bagaimana?


"Aku akan mengajukan proposal penggantian tema, tema seperti ini tidak cocok untuk pasaran dari kantor, yah dimana pasaran kita milenial, ini tidak cocok, ini ibarat ngejual sisir ke orang yang botak," jelasku yang membuat Mommy mengangguk.


"Kamu nanti bisa ngomong sama Zian atau Daddymu, yaudah sekarang kita berangkat," jawab Mommy beranjak keluar tapi aku menahannya. "Ada apa? Mobil jemputan sudah menunggu dibawah."


"Aku ingin Mommy melakukan sesuatu untukku."


"Apa?"


Aku mengode Mommy untuk mendekat dan kubisikkan, yah aku membisikkan sesuatu kepada Mommy tentang rencanamu kepada Nenek Lampir itu hari ini.


"Kamu yakin?"


"Seratus persen yakin!" jawabku mengangkat jempol.

__ADS_1


"Oke!"



Aku dan Mommy kini sudah sampai di kantor Daddy, kami disambut oleh satpam, sama seperti satpam yang kemarin, dia gugup melihatku, mungkin karena dia takut, aku melaporkan kejadian semalam saat dia menghadang ku ke Daddy.


Aku meraih tangan satpam itu kemudian menyuruhnya mendekat. "Tenang Pak, aku akan melupakan kejadian semalam dengan satu syarat."


"A-apa?"


"Aku akan menemuimu nanti," jawabku kembali berjalan masuk bersama Mommy.


Kapan lagi seorang anak usia delapan tahun bisa mengancam seorang pria dewasa, kekuasaan yang berbicara, kantor tampak sepi karena sesuai dugaanku, ada meeting mendadak antar CEO yaitu Tuan Antonio dan Presiden Direkturnya, yaitu Daddy.


Aku dan Mommy berjalan ke ruangan meeting itu dan kami bisa melihat dari kaca transparan bahwa Daddy tengah disidang bersama Uncle Zian dihadapan Nenek Lampir dan Tuan Antonio yang sudah dihasut oleh Nenek Lampir itu.


"Ini Obat apa Zach? Kamu sakit apa!" tanya Tuan Antonio ke Daddy.


Daddy terdiam, yah Daddy yang lemot tidak akan bisa memikirkan jawaban yang tepat dan cepat di bawa tekanan seperti ini, aku maklumi kekurangan Daddyku itu.


"Dia itu sakit Pa! Jelas seorang yang mengidap penyakit tidak bisa menjadi Presiden Direktur diperusahaan ini!" timpal Nenek Lampir.


Aduh Nek, itu mulut mau dilakban takut dibilang gak sopan, aku masih memperhatikan dari luar bersama dengan Mommy menunggu momen yang tepat.


"Sekarang?" tanya Mommy yang membuatku menggeleng.


"Jangan dulu Mom, kita nikmati saja sandiwara Nenek Lampir itu!" jawabku melipat kedua tangan.


Kasian Daddy, dia tertekan dan tersudutkan tidak bisa memikirkan jawaban yang tepat.


Sudah cukup sandiwaranya, aku meminta Mommy berjalan masuk ke dalam sana dan melakukan aksi kami.


"Maaf Tuan Antonio, tapi itu adalah obat saya, bukan Obat Tuan Zach!" ucap Mommy.


Semua mata menatap ke Mommy termasuk mata ketidaksukaan dari Nenek Lampir itu.


"Siapa kamu!?" Tampaknya kakek ini lupa kalau Mommy yang diperkenalkan sebagai Istri Daddy semalam.


"Sebelumnya perkenalkan, saya adalah Syahnaz Amanda Afdarianto, Designer yang mendapatkan undangan kerjasama tempo hari, kemarin kami mengobrol di ruangan Tuan Zach dan obat saya ketinggalan disana," jelas Mommy, pinter sekali Mommyku akting, akan ku daftarkan ke Suara Hati Istri.


"Yakin!?"


"Yakin Tuan, makanya saya heran kenapa bisa ada disini, maaf sebelumnya."


"Zach! Benar itu?" tanya Tuan Antonio pada Daddy yang mengangguk membuat Nenek Lampir tidak terima.


"Bohong! Aku kemarin liat dia ke rumah sakit!"


"Maaf Nyonya, semalam kami ke rumah sakit untuk test darah saya, karena saya terkena anemia beberapa hari ini, dan obat itu adalah obat penambah darah," jawab Mommy. "Saya heran kenapa Nyonya Lisa bisa tahu, apakah Nyonya menguntit, dan menyelinap ke dalam ruangan Tuan Zach?"


Tuan Antonio tampak murka kemudian menatap dalam Nenek Lampir itu. "Lisa! Kamu tuh yah kalau ada apa-apa cek dulu!"


"Kamu gak percaya sama aku, Pa?" ucap Nenek Lampir dramatis, hadeh, cocok mendapatkannya piala Citra karakter antagonis paling halal dihampar.


Nyonya Lisa kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, sedangkan aku yang ada di pintu ruangan langsung menyelengkak kakinya yang membuat dia terjatuh.

__ADS_1


"Hai Nenek Lampir, kau harus tahu dengan siapa kau berurusan!" bisikku saat Nenek Lampir itu jatuh. "Cepat atau lambat kau akan mendapatkan balasannya, Percaya diri itu boleh tapi sadar diri itu penting!"


POV Zach.



Aku lumayan gugup saat harus dihadapkan dengan ayah tentang pertanyaan obat siapa itu, aku tidak mungkin mengatakan jika itu obat penenang ku, lagipula darimana Tante Lisa mendapatkan obat ini, dia benar-benar ingin menghancurkan dihadapan ayah, benar-benar wanita ular.


Bahkan Zian yang selalu dapat membantuku disegala situasi malah tidak bisa melakukan apa-apa hari ini.


Kami berdua benar-benar tersudutkan apalagi Nenek lampir itu berhasil mendapatkan barang bukti tentang obat itu, jika aku ketahuan mengidap sebuah penyakit, ini akan menjadi masalah yang besar untuk karirku sebagai Presiden Direktur.


Sudah dua belas tahun aku menjadi Presiden Direktur, mana mungkin aku merelakan jabatan ini karena hanya sebuah penyakit, sampai matipun tidak akan ku lepas karena ini adalah wasiat dari Mama sebelum meninggal, jadi Tante Lisa iblis ini sekalipun tidak akan mampu menghentikanku.


Disaat aku berpikir keras dalam memberi harapan, kami dikejutkan oleh kedatangan Nanas, dia datang dan menjadi pahlawan hari ini, dia mengakui obat itu bahkan dia bisa membungkam Tante Lisa, sampai Tante Lisa berpergi dari sini.


"Lisa! Tunggu!" Ayah tampak ingin mengejar Tante Lisa tapi saat Tante Lisa berada di pintu dia terjatuh dengan sendirinya.


Aku tidak tahu apa penyebabnya yang jelas tak lama kemudian Andro datang dan berbicara dengannya, aku tak tahu bicara apa yang jelas saat itu Andro langsung membantu Tante Lisa berdiri.


Dengan wajah tak bersahabat, Tante Lisa langsung pergi dari sana meninggalkan kami semua dengan ayah yang tampak frustrasi atas tingkah istrinya itu.


"Zian, Syahnaz, kalian bisa keluar, saya akan berbicara masalah pribadi dengan Zach!" ujar Ayah yang membuat Zian dan Nanas keluar, Andro pun langsung keluar.


Padahal aku ingin menghabiskan waktu dengan Andro, ingin memeluknya karena aku merindukan anak itu walaupun dia bukan anak kandungku.


"Zach!"


Aku membuang muka, jual mahal di hadapan ayah.


"Antonio Adzach Choi!" Oke ketika nama lengkap sudah dipanggil berarti Ayah akan serius.


Aku menatap ayah pelan kemudian Ayah menghela napas panjang dan menatapku.


"Maafkan Ayah yang sudah terlalu mengatur dan curiga kepadaku, harusnya ayah bisa percaya padamu apalagi kamu sudah dua belas tahun menjadi Presiden Direktur disini, tapi kamu masih ingat perjanjian kita kan?"


Aku mengangguk.


"Dua bulan lagi, kamu genap berusia empat puluh tahun, kamu harus mengenalkan seorang pendamping dalam kurun waktu itu atau tidak posisi kamu tetap akan diganti sesuai perjanjian kita."


Feelingku benar-benar buruk sekarang, aku belum berhasil meluluhkan Nanas, bagaimana bisa merebut hatinya dalam waktu dua bulan?





TBC


Empat BAB hari ini


Author pamit dulu ysh~


Assalamualaikum

__ADS_1


__ADS_2