
POV Andro
•
•
•
Aku dan Mommy kini sedang berada di cafe dekat rumah sakit untuk makan siang karena memang kami belum makan siang, jujur saja bertemu dengan nenek lampir tadi membuatku lapar juga.
"Kamu mau makan apa?" tanya Mommy yang membuatku menatap Mommy dalam. "Nyonya Lisa tadi gausah dipikirkan."
"Bagaimana tidak dipikirkan, dia kan tujuan awal kita buat ke Indonesia adalah buat ngebantu Daddy, nyingkirin nenek lampir itu," jawabku yang membuat Mommy tertawa.
Mommy mengusap kepalaku sejenak kemudian tersenyum dalam. "Ada-ada aja masa kamu namain, Nenek Lampir, gak boleh loh tadi aja kamu lawanin itu gak boleh, Nyonya Lisa kan lebih tua dari kamu."
"Duh Mom, orang kayak dia tuh sesekali harus kita kasih paham, kalau dibiarin bakal ngelunjak terus, di Vidio yang ku putar tadi, Mommy tahu kan siapa orang dalamnya, yah si Nenek Lampir itu, apalagi kondisi Daddy lagi-"
Aku menggantung kalimatku sejenak, ada sebuah pemikiran yang terbersit dikepalaku, tunggu dulu, apa tujuan Nenek Lampir itu datang ke rumah sakit, apa dia melihat kami membawa Daddy ke rumah sakit.
"Ada apa Andro?" tanya Mommy yang membuatku masih berkutat dengan pikiranku sendiri. "Andro!"
"Hm! I-iya, Mommy?" jawabku yang tersadar dari lamunanku. "Ada apa?"
"Kamu kenapa? Tadi kamu mau ngomong apa tentang kondisi Tuan Zach? Ombrophobia dia?" tanya Mommy yang membuatku masih belum menjawab.
Aku memilih berdiri kemudian izin kembali ke rumah sakit pada Mommy. "Mom, aku ke rumah sakit lagi, nanti aku balik."
Aku berlari menuju rumah sakit, daritadi Mommy memanggil namaku namun aku tidai menjawab karena sudah tidak bisa sempat, ada sebuah hal yang aku harus tahu sekarang dan ini menyangkut Daddy.
Jarak antara rumah sakit dan cafe ini lumayan bikin ngos-ngosan apalagi aku sedang berlari, tapi kalau telat yah kapan lagi, aku akhirnya tiba di lobby rumah sakit, tujuanku sekarang adalah ruangan Uncle Dilon, dimana Daddy berada.
Aku berjalan pelan kali ini, karena misiku memang untuk tidak ketahuan, dan Tepat sekali, aku mendapati Nenek Lampir itu sedang mengintip kedalam ruangan Uncle Dilon.
Ada rencana apalagi Nenek Lampir ini? Aku memantaunya agak dekat tapi tidak ketahuan, aku langsung membalikkan badan saat Nenek Lampir itu selesai mengintip.
__ADS_1
"Ini kesempatan yang bagus, seorang penyakitan tidak bisa menjadi seorang Presiden Direktur, dengan begini Zach akan digantikan oleh Rendra, dan harta keluarga Antonio akan menjadi milikku!" ucap Nenek Lampir itu, udah tua, matre lagi, maklum sih umur segini emang lagi lucu-lucunya.
Mirip sama ketua Partai Banteng Merah yang di Indonesia ini, yang katanya Pintar, Cantik dan Kharismatik, nyatanya Zonk!
Aku yakin sekali, Nenek Lampir ini akan merancang sesuatu lagi, aku harus membuntutinya, Nenek Lampir itu sudah selesai dan beranjak pergi dari sana, jelas aku akan mengikutinya karena ini adalah ancaman kecil tapi menganggu.
Aku mengikuti Nenek Lampir itu sampai di parkiran, dia ternyata memiliki sopir untuk mengantarnya, tapi yang menjadi pertanyaan sekarang bagaimana bisa aku masuk ke dalam mobil itu.
Aku melirik sekitar, tepat di hadapan mobil Nenek Lampir ini ada sebuah mobil yang sedang parkir tapi pemiliknya tampak menelepon di bagian depan dan pasti pintu mobilnya tidak terkunci.
Aku menyelinap masuk ke dalam mobil orang itu kemudian melepas rem mobilnya yang membuat mobil itu mundur menabrak bumper depan mobil si Nenek Lampir ini.
Ahahaha, agak jahat, tapi tidak apa-apa, karena hal ini membuat Nenek Lampir dan sopirnya fokus ke mobil yang ada didepan, maaf om pemilik mobil, kalau om baca ini, aku minta maaf.
Dalam situasi begini, aku langsung saja membuka bagasi mobil Nenek Lampir dan menyelinap disana.
"Aduh Pak! Kok bisa nabrak sih!?"
"Maaf Mas! Maaf saya juga gak tahu, kenapa bisa Nabrak!" jawab Pemilik Mobil yang tadi ku lepas rem mobilnya.
"SUDAH! SUDAH! Warto biarkan saja, saya ada urusan yang lebih penting, antar saya ke kantor Zach sekarang, ada sesuatu yang saya ingin ambil disana."
Itu suara Nenek Lampir tadi, oh dia tidak mempermasalahkan mobilnya yang rusak? Baik sih tapi tetap aja dia Nenek Lampir.
"Tapi Nyonya, Masa dia gak ganti rugi!" jawab sopir Nenek Lampir, nih sopir daritadi sumpah banyak ngomong dasar sopir bintang satu.
"Jangan pikir saya gak mampu perbaiki mobil ini sendiri Warto! Walaupun harga servicenya gaji kamu sepuluh tahun aja gak cukup, tapi biarin aja, bawa saya ke kantor Zach, sekarang!" ucap Nenek Lampir jumawa.
Sombong yah, Kayaknya Nenek Lampir ini perlu disadarkan kalau uang yang dia pakai sekarang kan milik Tuan Antonio, kalau gak nikah sama Tuan Antonio dia juga masih ngantri minyak goreng di pasar.
"Baik, Nyonya!"
Sopir Nenek Lampir itu masuk ke mobil bersama dengan Nenek Lampir itu tentunya, aku merasakan mobil ini berjalan meninggalkan rumah sakit, aku tidak tahu berapa jauh jarak rumah sakit dan Kantor Daddy tapi aku kayaknya tersiksa deh sempit-sempitan di bagasi.
Daddy harus membayar mahal perjuanganku kali ini, setelah selesai nanti aku akan meminta lima puluh persen saham perusahaannya, lihat saja.
__ADS_1
Sesekali ngelunjak pada ayah kandung sendiri itu adalah hal yang sah-sah saja, Tak lama kemudian aku merasakan mobil ini berhenti.
"Kamu tunggu saya, disini Warto!" ucap Nenek Lampir turun dari mobil masuk ke dalam kantor Daddy.
Jelaslah aku ikut turun, untung saja bagasi mobil ini bisa dibuka, hal pertama yang kulakukan adalah menghirup napas panjang, pengap dibagasi itu, aku menilik kantor Daddy.
Besar, lumayan luas untuk seorang Presiden Direktur plin-plan seperti Daddy, di depan sana ada dua orang satpam yang sedang berjaga.
Aku berlari masuk ke dalam sana karena takut kehilangan jejak si Nenek Lampir, dan benar saja aku dihadang oleh dua orang satpam ini.
"Halo Dek! Dilarang masuk!" ujar salah satu satpam disana.
Astaga! Begini saja dipersulit, untung saja aku membawa tasku, aku meraih tasku kemudian membukanya di dalam tasku ada sebuah kartu akses yang diberikan Daddy kepada aku dan Mommy saat pertama kali kesini.
Tentunya kartu akses ini bisa membawa aku masuk ke dalam kantor ini, setelah mendapatkan kartu akses ku, aku menunjukkannya ke satpam itu, awalnya diam sejenak sebelum wajahnya berubah panik.
"M-Maaf Tuan Muda Andro, kami tidak tahu kalau Tuan Muda adalah Partner bisnis dan Designer Muda itu," ujar Satpam itu meminta maaf.
Sekarang, terdiam kalian kan! Mereka kemudian mempersilahkan aku masuk, yah langsung masuk saja, sekarang saatnya aku melihat Nenek Lampir itu, lumayan ketinggalan karena dia sudah masuk ke dalam lift yang membuatku terpaksa naik melewati tangga darurat, sebelumnya aku sudah bertanya pada resepsionis yang masih ada dimana ruangan Daddy, dan ruangan Daddy ada di lantai duam
Sesampainya aku di lantai dua, ternyata Nenek Lampir itu sudah ada disana, jelas aku langsung mendekatkan telinga ke dinding agar bisa mendengarkan suara dari dalam.
"Ini dia obatnya! Aku akan membuat Zach lengser dari posisinya dengan obat ini!"
Jadi itu rencananya, baiklah, kita lihat, siapa yang akan dipermalukan, besok!
•
•
•
Assalamualaikum
BAB ini Lumayan panjang gak sih wakaka
__ADS_1