Finding Lost Daddy

Finding Lost Daddy
BAB 06. Have A Daddy


__ADS_3

POV Nanas





Sudah sembilan tahun lamanya aku berada di Melbourne, Australia, mengembangkan usaha sebagai seorang Designer terkenal disini.


Alhamdulillah, aku bisa mengembangkan nama di negara ini sebagai seorang Fashion Designer, tidak yang tahu bahwa ini semua berkat anakku, Andro.


Andro adalah anak yang aku kandung sembilan tahun lalu, dia tumbuh menjadi anak yang sangat Genius, di usia ke-enam tahun dia sudah bisa menggambar sehingga dia bisa membantu mendesign baju-baju ternama yang sekarang ada di pasaran.


Andro sedikit tertutup kepada teman-teman sebayanya, karena dia memiliki EQ dan IQ setera orang dewasa sehingga dia hanya ingin berbicara denganku, itupun aku seperti tidak bicara pada anak kecil melainkan orang dewasa.


Kepribadian Andro dingin dan sistematis, dia tidak suka banyak bicara dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk menggambar, jangan tanya kenapa dia bisa pintar, aku sendiri tidak tahu.


"Nyonya Syahnaz, ada pesan masuk ke email dari penyelenggara Beauty Awards, dia ingin mengguncang Nyonya Syahnaz dan Tuan muda Andro ke acara penghargaan besok malam," jelas Stella asistenku.


Aku meraih tab yang ada di genggaman Stella kemudian membaca undangan yang dikirim melalui Email itu.


"Mereka ngundang Andro juga?"


"Iya Nyonya, Tuan Muda Andro diminta hadir juga," jawab Sinta menjelaskan.


"Kabarkan ke mereka bahwa kami akan menghadiri acara ini, saya ingin menjemput Andro dulu," jelasku kemudian memberikan tab itu kepada Stella kembali.

__ADS_1


Aku berjalan keluar dari butik dan menuju parkiran dimana mobilku berada, aku masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilku menuju sekolah Andro, biasanya Andro sudah pulang jam segini.


Seharusnya aku bisa menyewa sopir untuk melakukan hal ini tapi Andro pernah protes dan karena dia adalah satu-satunya harta berhargaku, jadilah aku menuruti keinginannya.


Sesampainya di sekolah, aku langsung memarkirkan mobilku dan berjalan memasuki area sekolah, di koridor aku bisa melihat Andro, dia sedang di bawa oleh seorang guru.


"Excuce me, sorry Miss, ini anak saya, mau dibawa kemana?" tanyaku pada guru wanita yang membawa Andro.


"Nyonya, ibu dari Andro?" Tentu, aku mengangguk. "Bisa ikut saya nyonya, ada hal yang ingin saya sampaikan."


Aku mengangguk, aku mengikuti guru Andro menuju sebuah ruangan yang aku yakini adalah ruang guru, aku menggandeng tangan Andro, sesampainya disana, aku duduk didepan guru tersebut.


"Ada apa, Miss?"


"Begini Nyonya, Andro sudah melakukan tindak kekerasan terhadap teman sekelasnya yang membuat teman sekelasnya mengalami luka yang lumayan serius, atas kejadian ini, kami akan memberikan hukuman berupa skors selama satu Minggu kepada Andro," ujar Guru Andro ini memberikan surat skorsing.


Kekerasan? Mana mungkin Andro melakukan ini, walaupun Andro menguasai teknik bela diri, dia tidak mungkin melakukannya.


Aku malas melakukan pembelaan sekarang, aku hanya menganggukkan kepalaku kemudian membawa Andro keluar dari sana, kami berjalan ke mobil, sesampainya di mobil, aku langsung menanyakan kejadian sebenarnya kepada Andro.


Aku menatap Andro pelan yang sedang duduk di sampingku, wajah yang manis dan polos itu menunduk tidak berani menatap ibunya.


"Kenapa, Andro?" tanyaku.


Andro paham sekali karakterku, jadi sudah bisa kupastikan dia akan bercerita kepadaku sekarang.


"He mocked me for not having a Daddy," jawab Andro dengan bahasa Inggrisnya yang kental.

__ADS_1


"Bahasa Indonesia saja, Andro."


Andro menghela napas kemudian menatapku lagi. "Dia mengejekku anak yang tidak mempunyai Ayah."


"Mereka juga mengejekku adalah anak angkat dari Mommy," lanjut Andro mengusap air matanya. "Karena aku lahir tanpa Ayah."


"Mommy, gak perlu menjelaskan ini lagi kan?" ujarku menanggapi.


"No, Mommy, aku hanya sedikit terbawa emosi Mom, ini salahku, aku memukul mereka karena ejekan itu, seharusnya aku diam saja karena ejekan mereka tidak benar, kecuali satu."


"Apa?"


"Tidak mempunyai Ayah, aku rasa mereka benar Mom, I hate this fate," jawab Andro kembali mengusap air matanya.


"Siapa bilang, You have a Daddy," Aku mengusap kepala anakku itu dan menenangkannya.


"Where? Andro bahkan tidak pernah bertemu dengannya, dia pasti orang jahat, karena sudah menelantarkan aku dan Mommy, aku berjanji akan balas dendam kepada Daddy," jawab Andro, terdengar kecil tapi seperti sebuah ancaman.


"Sudahlah, come on my boy," ucapku meraih Andro dan memeluknya, aku berusaha menenangkannya dari kecil memang dia sudah diejek tidak memiliki ayah.


Andai dia tahu bagaimana dia bisa ada didunia ini, mungkin dia juga akan membenciku sama seperti dia membenci ayahnya sendiri.


Maafkan Mommy, Andro.



__ADS_1



TBC


__ADS_2