
POV Zach.
•
•
•
Setelah mengetahui semua fakta ini, benar-benar membuat hidupku sangat hancur, aku harus kehilangan anak kandungku sendiri disaat aku baru saja mengetahui fakta bahwa dia adalah anakkku.
Kain putih mulai menutupi Andro, rasanya hati ini gak ikhlas dan ingin memberontak, aku ingin menangis sekarang.
Iringan Dokter itu membawa brankar berisi jenazah Andro keluar dari ruangan ini, aku ingin memberontak sekarang, tapi aku benar-benar sudah kehilangan kemampuanku.
Zian menahanku agar aku tidak memberontak diruangan ini, bayangkan saja, seorang ayah harus kehilangan anaknya disaat menit dia tahu bahwa dia adalah anaknya.
"Andro! Bangun Andro! Dengar Daddy! Kamu kuat! Kamu harus bangun Nak!" teriakku yang membuat Zian kembali memenangkan ku.
"Sudah Zach! Andro sudah tenang! Sudah!" teriak Zian memenangkan ku.
Badanku dikekang oleh Zian, sedang Nanas mengikuti iringan dokter itu membawa tubuh Genius yang kaku itu pergi dari ruangan ini.
Air mataku benar-benar jatuh, rasanya aku ingin mati saja, rasanya aku ingin menghilang dari dunia, rasanya aku ingin menyusul Andro.
__ADS_1
Andro! Daddy sayang sama kamu, kamu gak bisa ngelakuin ini ke Daddy, beberapa jam lagi kita masih bercanda dan sekarang kamu sudah meninggalkan Daddy.
Andro! Daddy mohon Andro!
Pandanganku gelap, aku tidak mengingat apa-apa lagi sekarang, semua sudah benar-benar hancur.
•
Dear, Indonesia.
Negara ini sudah menyimpan jutaan kenangan, sekarang sedang ada acara pemakaman Andro, batinku tidak kuasa untuk bertahan, bahkan air mataku jatuh setelah mengumandangkan azan di liang lahatnya.
Badanku lelah, dan saat tanah mulai ditimbun, aku berlari ke mobilku dan menjalankan mobilku menuju kantorku, aku langsung saja naik ke lantai paling.
Lantas, apakah pantas untuk aku hidup lagi, aku rasanya harus menyusul kedua orang itu, bahkan Nanas pun tidak ingin memandang wajahku.
Aku adalah ayah yang gagal dalam memperjuangkan anakku sendiri, dikalahkan oleh takdir yang sedang ku usahakan, seiring suara mobil yang terdengar jauh di bawah langkahku semakin mendekati pembatas gedung.
Menghela napas panjang, aku siap menutup buku tentang kisah seorang Antonio Zach Choi, di usia yang akan menginjak ke empat puluh ini, aku semakin tidak berguna saja, aku semakin payah saja dan aku semakin tidak berguna saja.
Tuan Zach! Tuan Choi! Zach Choi! Semua orang meliputku dalam berita tentang barisan Presiden Direktur tersukses dalam satu dekade ini, dua belas tahun menjadi presiden direktur dengan banyak penghargaan, apakah semua ini cukup untuk membayar kesalahanku, bahkan anak kandungku sendiri sudah meninggalkanku dalam kondisi seperti ini.
Sudah kukatakan saatnya tutup buku, aku melangkahkan kakiku ke pembatas lantai di rooftop ini, menerjunkan tubuhku dan memejamkan mataku dalam, baiklah, aku sudah siap.
__ADS_1
BRUK!
•
"Kondisi Tuan Zach sudah agak membaik, hasil observasi menandakan bahwa Tuan Zach sudah mendapatkan sedikit kesadarannya."
Suara siapa itu, aku membuka mata perlahan, menilik sekitar, bukannya harusnya aku sudah mati, tapi kenapa aku kini ada di ruangan putih berbau obat-obatan.
"Tuan Zach tidak jadi dipindahkan ke ICU, kondisi yang tadi mengkhawatirkan sudah perlahan membaik!"
Apakah aku masih hidup.
"DADDY! ARE YOU OKAY?"
Andro? Itu Andro, kini Andro sudah ada di hadapanku dengan senyum manisnya bersama Zach, ANAKKU MASIH HIDUP!
•
•
•
TBC
__ADS_1