
POV Zach.
•
•
•
"Golongan darah saya O Dok, sedang golongan darah dari Andro itu A-, Zian gimana kamu bisa gak donorin darah kamu!?" ujar Nanas yang membuat Zian menggeleng.
A+?
"Maaf Nyonya Syahnaz, golongan darah saya B," jawab Zian yang membuat Nanas menunduk.
Dorongan darah A- tergolong golongan darah yang lumayan langka karena golongan darah ini jarang ditemui, jelas Bank Darah di rumah sakit ini tidak mempunyai golongan darah yang sama.
"Saya A-!" Aku mengangkat tangan, aku tidak menyangka bahwa aku dan Andro memiliki golongan darah yang sama walaupun itu tergolong golongan darah langka.
"Baik Tuan Zach! Bisa ikut saya," ujar Dokter itu yang membuatku berjalan mengikutinya, tapi sebelum pergi Syahnaz menahan tanganku.
"Aku tidak akan luluh dengan kau melakukan ini Zach, ini terakhir kalinya kau membantu kami!" bisik Nanas yang membuatku terdiam.
Aku paham posisiku sekarang, aku berjalan mengikuti Dokter itu yang membuat Zian dan Nanas menunggu disana.
•
__ADS_1
Setelah proses pengambilan darah tadi, Andro kembali ditangani, memang Andro berhasil melewati masa kritisnya tapi kondisinya tidak benar-benar stabil untuk ini.
Selama itu pula aku, Zian dan Nanas dirumah sakit, sepanjang menunggu kenapa aku merasakan bahwa aku memiliki keterikatan dengan Andro, bahkan golongan darah langka kami bisa sama, aku tidak menyangka akan hal ini.
"Keluarga Andro, Andro sudah sadar dan ingin bertemu kalian," Seorang Perawat keluar dari dalam ruang rawat yang membuat kami semua langsung masuk kesana.
Aku melihat Andro terbaring lemas disana, matanya terbuka setengah bahkan kepalanya penuh perban yang kusam karena darah, aku kasian kepadanya, aku sangat tidak ingin kehilangannya.
"Dad! Mom!" panggil Andro yang membuatku langsung berjalan ke arahnya bersama Nanas, sedang Zian menungguku di pintu.
"Kamu gapapa kan, Mommy ada disini, jangan bikin Mommy khawatir Andro!" jawab Nanas yang membuatku tidak berekspresi apa-apa.
Andro menatap lembut kami berdua kemudian meraih tanganku dan tangan Nanas. "Kalau suatu saat, Andro harus lebih dulu pergi, Andro pengen Mommy dan Daddy bisa bersatu, Andro hanya pengen punya keluarga yang utuh."
Aku terdiam, sesimple itu keinginan seorang anak genius seperti Andro, aku sakit hati mendengarnya entah kenapa hatiku rasanya perih mendengar ucapannya.
Jujur?
"Kamu ngomong apasih! Kamu tuh bisa sembuh nak, kamu gak bakal kenapa-napa, percaya sama Mommy!" teriak Nanas yang sedikit frustrasi.
"Mom, Andro mohon, Daddy harus tahu soal ini!"
Soal apa?
Soal apa?
__ADS_1
Nanas menghadap ke arahku kemudian menatapku dalam. "Zach aku ingin mengatakan sesuatu,"
"A-apa?"
"Andro itu anakmu, anak hasil hubungan satu malam kita sembilan tahun lalu!"
HAH? Aku terdiam, antara terkejut atau harus terlibat lebih dalam pada masalah ini, rasa-rasanya aku tidak terima walaupun aku sadar bahwa fakta ini seolah menjawab semua pertanyaanku, keikatan batin dan semuanya.
"Andro seneng kalau Daddy bisa tahu, Andro sayang sama Daddy, Andro cuma pengen Daddy sama Mommy bersama," jawab Andro menyatukan tangan kami berdua.
Hening.
Tak lama kemudian tubuh Andro kejang-kejang sontak Nanas semakin histeris, Zian dengan sigap memanggil dokter hingga beberapa dokter dan perawat datang.
Mereka semua langsung menangani Andro sampai tubuh Andro tidak kejang lagi, tapi satu pertanyaanku kenapa wajah mereka kecewa?
"Maaf, Andro sudah meninggal dunia."
Hancur sudah duniaku.
•
•
•
__ADS_1
TBC