Five Baby Twins

Five Baby Twins
bab 12


__ADS_3

Aska keluar mencari mamanya di kafe yang baru saja dibuka.


sekitar 15 menit Azka sampai di sana.


''mama'' panggil Azka


''ehh... iya sayang, sudah pulang? dimana adik-adikmu?'' tanya Zahra


''Mama kenapa melamun?'' bukannya menjawab azka malah balik tanya, karena Aska mendapati mamanya tengah termenung dari tadi.


''tidak, Mama tidak kenapa-kenapa kok sayang'' jawab Zahra sambil tersenyum


''di mana adik-adikmu'' katanya Zahra lagi


''mereka di rumah ma'' jawab Azka


kring-kring ponsel Zahra berdering


''iya ada apa Gus?'' tanya Zahra pada orang di seberang sana


''hemm... restoran itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi Gus, semakin hari pengunjung semakin berkurang'' jawab Zahra pada orang di seberang sana


''iya'' panggilan terputus, lalu Zahra menghela nafas.


''ma?'' panggil Azka


''jika Mama ada masalah cerita sama Azka biar beban Mama berkurang'' tutur Azka


zahra tersenyum, putranya yang satu ini selalu mengerti dirinya.


''Mama akan menutup restoran yang ada di kota x, karena restoran itu sudah tidak bisa kita pertahankan lagi'' ucap Zahra menunduk

__ADS_1


''sekarang penghasilan kita hanya tinggal dari kafe yang baru kita buka ini dan butik yang ada di kota x'' lanjut Zahra dengan suara melemah


''yang mungkin tidak sebanding dengan pengeluaran kita, andai Mama tidak lumpuh.... mama merasa tidak berguna Azka'' ucap Zahra


Aska memeluk mamanya.


''Mama tenanglah... Azka akan membantu Mama kok, Azka bisa bantu kerja'' ucap Azka menyemangati


''tidak sayangku, kamu harus fokus belajar, Mama menceritakan ini karena Mama tahu kamu nggak bisa dibohongi, biarkan urusan ini jadi urusan mama, cukup kamu berada di sisi Mama sebagai penyemangat mama'' kata Zahra


''baiklah, Aska akan selalu ada untuk mama, Aska janji'' ucap Azka menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mamanya


Zahra tersenyum


''Mama sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan kalian sebagai penyemangat hidup mama''


jika kalian bertanya apa tidak cukup penghasilan dari kafe dan butik, jelas tidak cukup, persaingan cafe dan butik semakin banyak, penghasilan tidak menentu, dan cara menghidupi 5 anak belum lagi dia harus melakukan terapi setiap minggunya.


.


.


.


di sisi lain Aiden keluar rumah, Aiden nampak sedang mencari seseorang di taman, taman yang tidak ramai orang hanya ada satu dua orang saja, mata Aiden tertuju pada laki-laki yang tengah duduk di bangku taman sendirian.


Aiden tersenyum lalu berlari menghampiri laki-laki itu.


''papa'' panggil Aiden dengan girang


''Heiii....anak kecil, kau ini anak siapa?'' tanya laki-laki itu sambil menoleh kanan kiri

__ADS_1


''aku anakmu papa'' jawab Aiden


''jangan sembarangan memanggil orang papa anak kecil'' tutur Simon


''tapi aku anak papa'' bantah Aiden


''aku tidak memiliki anak sebesar dirimu, siapa mamamu?'' tanya simoni celingak celinguk mencari kedua orang tua dari anak kecil ini.


''mamaku adalah istrimu, gitu saja tidak tahu'' ucap Aiden


''sudah sudah, aku punya hadiah untuk papah'' lanjut Aiden sambil memberikan robot pada Simon


''nah... ambillah'' namun Simon menolak


''ambillah'' mereka sering dorong-dorongan robot itu


''aku tidak mau''


''ambil...kau papaku jangan bertengkar'' ucap Aiden sambil memaksa Simon untuk menerima robot yang ia berikan


Aiden terus memaksa agar mau Simon menerima, sampai mainan itu jatuh


prakk.... akhirnya robot itu rusak


Aiden mengambil lengan dan tubuh robot itu


''ha....ha......ha.....papa jahat...huaaa'' Aiden menangis sembari berlalu pergi dari hadapan simon


''aku tidak mau lagi punya papa....dia papa yang buruk...huaaa'' Aiden terus menangis di sepanjang jalan.


#jangan lupa tinggalkan jejak biar author semangat updatenya

__ADS_1


__ADS_2