
pagi hari, dua orang yang tengah berpelukan itu masih sibuk mencari kehangatan di bawah selimut.
rasa nyaman membuat mereka ingin terus memejamkan mata, rindu yang telah lama di rasakan kini telah terobati.
karena cahaya matahari yang sudah masuk lewat celah gorden akhirnya kedua insan itu terpaksa membuka mata perlahan.
mereka saling bertatapan selalu tersenyum sipu
''morning'' sapa simon dengan suara serak khas bangun tidur
''morning too'' jawab Zahra yang juga dengan suara khas orang bangun tidur
emuahh
Simon mengecup bibir Zahra
seolah malas untuk bangun simon kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh Zahra.
''mon bangun ini sudah pagi'' peringatan Zahra
''lima menit lagi sayang'' jawab Simon dengan memejamkan mata
''ayolah'' ajak Zahra sambil menggoyangkan tahu Simon
Simon dengan terpaksa membuka mata lalu menggendong Zahra ke dalam kamar mandi.
Zahra hanya diam dalam gendongan Simon, kita ada penolakan sama sekali, sungguh dia sangat merindukan masa-masa seperti.
dimanja oleh suami, yang super duper bucin akut dari dulu, andai drama salah paham itu tidak terjadi mungkin kebahagiaan di antara keduanya sangatlah indah, namun kembali lagi mungkin ini sebuah ujian yang harus mereka hadapi dalam sebuah hubungan rumah tangga.
selesai mandi keduanya merapikan pakaian mereka.
Zahra menghadap ke kaca meja rias, memoles pipinya dengan beberapa peralatan make up yang ada di meja.
__ADS_1
lalu si mendekati Zahra, iya Mama lu Zahra dari belakang, merasa rambut Zahra masih basah ia berinisiatif mengeringkan rambut Zahra.
Zahra hanya tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
''mon, apakah kita perlu menikah lagi?'' tanya zahra sambil menoleh kearah Simon
Simon mengerutkan dahi
''kita tidak pernah bercerai, bahkan aku tidak pernah menalak kamu sayang'' jelas Simon
''lagipula setiap bulan aku juga masih sering mentransfer ke rekening kamu, cuma kamu aja yang nggak mau pakai'' lanjut Simon
ya memang benar Simon, hampir setiap minggu Simon mentransfer Zahra, nominalnya jangan ditanya lagi.
Zahra tersenyum, mengingat dirinya terlalu menghadapi permasalahan rumah tangga seperti ini.
ia bersyukur memiliki suami seperti Simon
''aku bersyukur kita telat menyelesaikan semua masalah ini'' ucap Zahra
.
.
.
''apa mama sudah memaafkan suami mama?'' tanya Azka menatap sinis papa nya yang tengah duduk di sofa sambil memegang tangan kiri mamanya
''sayang dia papa mu, dan untuk masalah papa dan mama sudah selesai'' jelas Zahra pada putranya yang terus menatap Simon
''sudah-sudah mari kita pulang, adik-adikmu pasti sudah menunggu di rumah'' ajak Simon
''rumah ku disini'' ucap Azka datar
__ADS_1
''azka'' panggil Zahra memperingati
Aska tersenyum kecut
''iya Mama'' jawab Aska lalu tersenyum kearah mamanya dengan penuh paksaan
''apa seperti itu kamu tersenyum pada mama?'' tanya Zahra
''sungguh hati Mama sakit'' keluh zahra sedikit berdrama
Aska langsung berdiri menghampiri mamanya, yang pernah duduk di kursi roda, lalu memeluk mamanya.
''sudah mama jangan sedih'' ucap Azka
Simon masih bingung dengan sikap putranya kenapa begitu sulit untuk menerima penjelasan bahwa semua masalah telah selesai.
.
.
.
dengan berbagai bujukan akhirnya Azka menuruti mamanya untuk ikut pulang, dengan alasan, ia tidak mau membuat mamanya sedih.
di rumah besar Simon yang semula terasa hampa karena Zahra pergi kini berubah menjadi sangat ramai dan lebih ramai lagi.
riuh anak-anak bermain, kejar-kejaran, berbagai hal mereka lakukan di rumah yang begitu luas itu.
semua mainan yang Pernah mereka impikan kini telah terwujud.
''kak Azka, boleh Aida bertanya?'' tanya idah pada Aska yang tengah duduk memainkan laptop
''hemm'' jawab Azka sambil mengangguk
__ADS_1
''tadi sehabis pulang sekolah kan ada kucing berantem, mereka ngeberantemin apa sih? kayaknya masalahnya gede banget gitu, sampek geber-beran'' tanya Aida menggemaskan.