Five Baby Twins

Five Baby Twins
bab 21


__ADS_3

zahra pergi ke cafe miliknya di temani putra sulungnya.


''jika kamu lelah kita bisa istirahat dulu azka'' ucap Zahra pada putranya yang tengah mendorong kursi roda.


''azka tidak lelah ma, azka kan anak yang kuat, masa baru dorong gini aja udah lelah'' ucap Azka tersenyum bangga


Zahra ikut tersenyum mendengar ucapan putranya


sampai di cafe, Azka membantu mamanya dengan melayani para pelanggan sedangkan zahra mencatat keuangan, bahan-bahan dll.


pelayanan Azka mengundang perhatian para pelanggan, siapa yang tidak suka melihat anak kecil yang menggemaskan ini.


''terimakasih kakak'' ucap Azka


''hais....aku ini sudah ibu-ibu'' ucap wanita itu tersenyum senang di panggil kakak oleh Azka


''azka merasa kakak masih muda'' ucap Azka


''ihhhh, kamu sangat menggemaskan'' ucap wanita itu sambil mencubit pipi kiri Azka


di sisi lain


Simon menyiapkan makan pagi dibantu oleh ke empat anaknya, semua bercanda ria, menyiapkan sarapan pagi dengan penuh kegembiraan.


selesai memasak, mereka bersiap untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan di meja makan.


''sebelum kita makan mari kita berdoa terlebih dahulu'' ajak Simon pada putra-putrinya


''biar arga yang memimpin doa'' pinta Arga

__ADS_1


''good boy'' ucap Simon sambil memberikan jari jempol untuk putranya


''aiden merindukan kakak, dan mama'' guman aiden yang masih bisa di dengar


''iya Aida juga'' sahut Aida


''sama'' ucap Arga dan Aira bersamaan


''gimana kalau kita temui mereka saja'' usul Simon


''ide bagus pa, ayo kita temui mereka'' ucap Arga semangat


''pasti sekarang mereka sedang di cafe'' celetuk Aiden


''untuk apa kamu kesini?'' tanya Zahra ketus melihat kehadiran Simon


''menghantar anak-anak, ada yang salah'' jawab Simon santai lalu langsung duduk di kursi ruangan kerja Zahra.


''sudah di hantar kan? silahkan pergi!!!'' usir Zahra pada Simon


''aku ingin menemui istriku'' ucap Simon sambil menatap Zahra dengan senyuman


''siapa yang kau anggap istri itu ha?'' tanya Zahra tak terima


''aku belum menceraikan mu sayang'' jawab Simon


jawaban Simon membuat emosi Zahra naik turun, ini sangat menyebalkan, selama tujuh tahun berpisah, Simon berubah menjadi sangat menyebalkan.


''maka ceraikan aku''

__ADS_1


''jangan asal bicara Zahra, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu'' ucap simon balik sengit


''aku bisa mengurusnya sendiri'' ucap Zahra santai


''jangab harap'' balas Simon


''pergilah dari ruangan ku, mataku sakit melihat mu'' ucap Zahra mengusir Simon yang masih duduk manis di kursi.


tak selang lama kelima anak itu masuk


''papa...mama''' panggil keempat anak bersamaan


berbeda dengan Azka, dia hanya diam sejak Simon datang.


nampak nya kemarahan di hatinya tidak reda, malah semakin menjadi.


''untuk apa om masih di sini? tidak kerja?'' tanya Azka sinis pada Simon


''kakak kenapa kau masih memanggil om, dikan papa kita'' ucap Aiden


''dia papa kalian, bukan papa ku, papa ku sudah meninggal saat dia bermain dengan wanita lain'' ucap Azka pedas


jlebbbb


bagai dihantam batu besar, hati simon terasa nyeri mendengar penuturan Azka.


''azka...kamu belum mengerti nak'' ucap Simon


''mungkin usiaku masih kecil, tapi tidak dengan otak ku'' jawab Azka angkuh

__ADS_1


Zahra menatap putra sulungnya dengan wajah yang tidak bisa ditebak.


perasaannya campur aduk, ia senang putranya membela dia, namun di sisi lain ia juga merasa kasihan dengan simon, biar bagaimanapun simon tetaplah ayah kandung dari anak-anaknya yang juga suaminya.


__ADS_2