
sampai mansion keluarga Derandra, keempat anak kecil itu menatap takjub melihat mansion yang begitu besar dan mewah.
''wow papa, apa papa tinggal di sini?, ini sangat indah'' tanya arga yang di balas senyuman oleh simon
''iya ini seperti istana princess, aku pernah bermimpi pergi ke sini'' ucap Aida takjub masih dengan melihat sekelilingnya
mata mereka berbinar-binar, sungguh mereka tidak pernah bermimpi bisa datang ke sini.
di ruang utama, tuan derandra tengah duduk sambil menikmati teh ditemani sang istri.
tak lama mereka dikejutkan dengan suara ramai anak kecil.
''wah, ini besar sekali pah'' ujar Arga
''iya sangat besar dan indah'' sahut Aiden
Simon hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya, mereka berlari-lari menikmati luasnya mansion lalu mereka berhenti dan mematung
di depan mereka terlihat nyonya derandra tengah menatap mereka tajam, seperti hendak menguliti mereka, keempat anak kecil itu menelan saliva.
''kak aku takut'' bisik Aida pada Arga
''tenanglah'' balas bisik Arga
__ADS_1
''ma jangan menatap mereka seperti itu'' Simon memperingati mamanya.
''anak siapa yang kau bawa ini Simon?'' tanya nyonya derandra tajam.
''mereka anak ku ma'' jawab Simon santai
''kau sudah gila?'' nyonya derandra
''tidak'' lagi-lagi Simon menjawab dengan santai
''simon dari mana anak-anak itu, dan kenapa kau membawa mereka ke sini?'' kini bukan lagi nyonya derandra yang bertanya namun tuan derandra
''mereka anak-anakku, ma...pa...''
''bicara yang jelas Simon'' ucap tuan derandra
''dulu saat Zahra meninggalkan ku, dia tengah hamil anak ku pa....'' belum selesai Simon menjelaskan, suara tertawa nyonya derandra mengehentikan Simon
''hahaha.....biar ku tebak, lalu kini dia datang memberitahu dirimu jika kau dan dia memiliki anak lalu kau mempercayai wanita ular itu, hah... wanita itu memang wanita yang licik, ia melakukan berbagai cara untuk terus mendekati mu, aku tahu niat terselubung wanita itu, ia ingin menguasai harta keluarga Derandra'' ucap nyonya derandra
''ma.....''
''zahra bukan wanita seperti itu'' ucap Simon tidak terima jika mamanya menuduh Zahra yang tidak-tidak.
__ADS_1
''otak mu sudah di cuci'' tungkas nyonya derandra.
sebelum perdebatan semakin sengit, Simon menyuruh pelayan untuk membawa putra-putrinya masuk ke dalam kamar sudah ia siapkan, namun nyonya derandra mengehentikan.
''anak wanita itu jangan sampai mengotori mansion keluarga Derandra'' ucap nyonya derandra tegas
''mereka cucumu ma''
''TIDAK.....'' teriak nyonya dengan lantang menolak mentah-mentah jika mereka cucunya
''aku tidak memiliki cucu yang terlahir dari wanita itu, dan mungkin saja mereka bukan anak mu, bisa saja mereka adalah anak dari laki-laki hidung belang, wanita licik itu pasti telah merencanakan semua ini''
''cukup ma.....jika kau tidak menerima mereka, maka jangan mengatakan mereka adalah benih dari laki-laki itu belang, akulah papa mereka, semua yang mama katakan itu cuma omong kosong, Dan tidaklah benar''
''percuma aku menjelaskan semuanya, mama tidak akan pernah mau menerima kenyataan bahwa mereka adalah anak-anakku dengan Zahra''
''hanya karena kita berbeda kasta bukan berarti kita tidak bisa bersama, sampai kapan Mama akan terus melihat orang dari sudut pandang kasta, aku mencintai Zahra ma dengan tulus, tidak peduli mau dia miskin mau di anak pelayan dia anak haram sekalipun, Simon tidak peduli'' ucap Simon panjang lebar dengan amarah yang sudah siap meledak
keempat anak itu itu saling berpelukan karena rasa takut.
''kalian boleh bertengkar, tapi jangan di hadapan anak-anak'' ucap tuan derandra memperingati istri dan putranya.
pada akhirnya Simon membawa anak-anak itu ke apartemen miliknya, dimana tempat tinggal dia dan Zahra dulu.
__ADS_1