
simon menarik tangan zahra masuk ke dalam kamar
''aku ingin menegaskan sesuatu'' ucap Simon dengan wajah tegas
''sayang'' panggil Zahra dengan wajah menggemaskan
mata Simon melebar, jantungnya berdetak lebih cepat
sial...simon menahan dirinya yang salah tingkah
aku harus tegas, tidak boleh lemah batin Simon
''zahra aku tegaskan padamu, katakan pada putramu itu jika masalah yang kita hadapi ini hanyalah salah paham saja" ucap Simon
"putraku?" tanya Zahra dengan nada penuh selidik
"jadi dia bukan putra kita gitu? kau meragukan kalau dia putra mu?" tanya Zahra kesal
lah kok jadi gini? batin Simon panik
"bukan gitu sayang'' Simon berusaha untuk membujuk Zahra
"maksudku tadi...."
"sudahlah" putus Zahra, lalu pergi dari kamar
Simon mencegah namun Zahra melepaskan tangannya dari genggaman Simon.
"sayang" panggil Simon melemah dengan wajah mengiba, Simon terus mengikuti langkah Zahra
__ADS_1
namun Zahra tidak perduli, ia terus berjalan menuju kamar Azka.
sampai di kamar Azka, Zahra langsung menutup pintu tidak membiarkan Simon ikut masuk.
tok...tok.... Simon mengetuk pintu
"sayang bukan gitu maksud ku tadi" jelas Simon
Simon kehabisan ide, tidak ada alasan pembelaan untuk dirinya karena memang kesalahan dirinya yang mengatakan 'putramu' pada Zahra.
secara tidak langsung ia mengatakan bahwa Azka bukan putranya, namun sejujurnya simon tidak bermaksud seperti itu.
Simon mengacak-ngacak rambutnya, frustasi
"hisss...pakek salah ngomong lagi'' desis Simon
di dalam kamar, Aska mempersilahkan Zahra untuk tidur di sampingnya.
ada perasaan sakit di hati Zahra, ia merasa belum memberikan kasih sayang yang cukup untuk putranya.
"maafin mama ya sayang" ucap Zahra membelai rambut putranya
azka bingung mengapa mamanya minta maaf.
"mengapa Mama minta maaf? Aska merasa Mama tidak punya salah kok" ucap Aska
Zahra tersenyum lalu memeluk putranya, tanpa memikirkan suaminya yang ada di luar sana.
"sudah ayo tidur" ajak Zahra
__ADS_1
Azka menuruti perintah Mamanya, ia berbaring di dekapan mamanya, Azka sangat merindukan masa-masa seperti ini, sudah lama ia tidak tidur bersama mamanya.
jam dua belas malam
Zahra terbangun karena mendengar suara pintu yang terbuka.
Zahra menatap seseorang yang baru saja masuk dengan wajah kusut sambil memegang bantal, wajahnya memelas.
sejujurnya Zahra ingin tertawa sangat kencang melihat kondisi Simon saat ini, bagaimana tidak pria yang ditakuti di kantor dengan gaya cool nya, ini berada di hadapannya seperti kucing kecil yang kurang kasih sayang dari majikan
simon berjalan mendekati ranjang, lalu langsung berbaring di disamping Zahra, tanpa minta persetujuan dari Zahra.
"sayang maafin aku, tadi aku salah ucap" bisik Simon tepat di telinga kiri Zahra
Simon langsung memeluk Zahra dari belakang karena posisi Zahra saat ini menghadap ke arah putranya
"lepaskan" perintah Zahra namun Zahra hanya berpura-pura, ia sedang menahan tawanya.
"sayang" lirih simon dengan nada pasrah.
.
.
.
pagi hari saatnya sarapan pagi, semua sudah berada di meja makan
Zahra berjalan mendekati meja makan sambil membawa nampan berisi lauk yang baru saja ia masak sendiri.
__ADS_1
sejak Zahra bisa berjalan, Zahra sudah tidak lagi meminta orang lain untuk memasak, ia mengambil alih urusan dapur, ia memasak sendiri karena ini sebuah bentuk keharmonisan keluarga.
dengan mengingatkan keluarganya tentang masakan dirinya, dan membuat mereka akan bergantung pada masakannya ini salah satu bentuk menjaga keutuhan keluarga.