Five Baby Twins

Five Baby Twins
bab 13


__ADS_3

hancur hati anak kecil itu, sosok yang di rindukan malah tidak mau menerima kehadirannya.


Aiden berjalan pulang ke rumah, tak ia menghentikan tangisnya karena tak ingin saudara curiga.


Aiden sampai di rumah pada sore hari yang sebentar lagi akan gelap.


Zahra menunggu putranya di depan pintu, matanya tertuju pada Aiden yang tengah berjalan mendekat.


''dari mana saja kamu sayang?'' tanya Zahra pada putranya


namun putranya hanya menunduk, hingga terlihat bahunya bergetar, terdengar suara segukan


''hei sayang...kamu menangis?'' tanya Zahra panik


''sayang mendekatlah'' Aiden mendekati kursi roda Zahra, Zahra langsung memeluk putranya


''ada apa? kenapa anak mama bersedih'' tanya Zahra dengan membelai rambut coklat Aiden


''papa tidak mau menerima ku ma'' jawab Aiden masih terseguk-seguk


''dia juga merusak mainanku, padahal Aiden mengumpulkan uangnya sudah sangat lama untuk membeli mainan ini'' selanjutnya sambil menunjukkan mainannya yang sudah patah


''apa Aiden habis bertemu dengan papa?'' tanya Zahra yang di angguki oleh Aiden.


Zahra menghela nafas


''sudah jangan menangis lagi'' bujuk Zahra


''hikss....hikksss...ma kenapa papa tidak mau menerima Aiden? apa Aiden tidak baik?'' tanya Aiden

__ADS_1


''tidak sayang''


.


.


.


malam hari Zahra kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan Andrew.


setelah kejadian beberapa tahun silam, Zahra mulai menerima pertemanan dengan Andrew, namun Zahra tetap membatasi kedekatan mereka.


walaupun zahra selalu cuek pada Andrew, namun Andrew tidak pernah lelah untuk mengejar cinta Zahra.


mereka berdua duduk di kursi ruang tamu sedangkan anak-anak sedang belajar, Zahra menyuguhkan teh untuk Andrew.


Zahra menatap jengah Andrew


''aku sudah memiliki 5 anak, tapi kau masih saja menggodaku'' ucap Zahra


''bahkan sekalipun kamu memiliki 100 anak, aku akan terus mengejarmu nona'' jawab Andrew


''kau terlalu berlebihan'' ujar Zahra


''ada yang lebih berlebihan lagi nona, yakni rasa cintaku padamu yang tak pernah berkurang, bahkan mungkin selalu bertambah setiap harinya'' gombalan maut terus dilayangkan oleh Andrew


Zahra menatap tajam Andrew


''ahh nona, jangan kau menatapku seperti itu, aku tidak kuat menahannya''

__ADS_1


''apa kau tidak bosan selalu menggombal?'' tanya Zahra jengah


.


.


.


siang ini Simon ada pertemuan dengan rekan bisnisnya di sebuah kafe


''senang bekerjasama dengan Anda tuan'' ucap rekan bisnis Simon sambil mimpi berjabat tangan


tanpa permisi Simon beranjak pergi, ia mengejar seseorang yang baru saja ia lihat


Simon mempercepat langkah agar tidak kehilangan jejak, orang yang dikejar Simon berhenti didepan Simon pun juga ikut berhenti.


Simon menatap orang itu dari kejauhan sebuah perasaan bahagia yang kini dirasakan Simon namun tersirat kesedihan, orang yang selama ini dia cari kini berada dihadapannya namun hal yang membuat ia sedih adalah Zahra tengah duduk di kursi roda.


apa yang terjadi denganmu Zahra? lamunan Simon buyar ketika melihat sosok laki-laki menghampiri Zahra.


deg


bagai disambar petir di siang bolong, ucapan mamanya terngiang-ngiang di kepala Simon


jadi benar apa yang dikatakan mama? batin Simon


Zahra sudah menikah lagi? lama Siemens terpegang sampai tidak sadar kalau mereka telah beranjak pergi


#jangan lupa tinggalkan jejak biar author semangat untuk terus update

__ADS_1


__ADS_2