
''ada yang bisa saya bantu nyonya?'' tanya fajar ramah
''ini map yang diperlukan oleh Simon'' jawab Zahra yang membuat fajar mengerutkan keningnya
"ini" Zahra menyerahkan map yang dibutuhkan Simon kepada fajar
''kenapa tidak anda berikan kepada tuan Simon sendiri nyanyo, maaf maksudnya biar bisa langsung bertemu sama tuan'' tanya fajar
''aku tidak punya waktu untuk ke sana'' jawab Zahra
lalu Zahra pergi dari ruangan fajar.
Zahra pergi ke taman yang ada di kota duduk sendiri sambil menikmati pemandangan,
Zahra melamun sambil menatap anak-anak kecil yang tengah bermain.
senyuman indah terbit dari bibir Zahra karena tingkah anak-anak yang ada di taman itu begitu menggemaskan
''aku tidak sabar menunggumu lahir sayang" ucap Zahra sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit
di sisi lain
"ini tuan berkas yang anda minta'' ucap fajar sambil menyerahkan map yang diberikan Zahra tadi
__ADS_1
Simon menatap fajar dengan tatapan tanda tanya
"kenapa map nya bisa ada di kamu?" tanya Simon karena seingatnya map itu berada di rumah, Dan dia menyuruh Zahra untuk mengantarkannya ke sini.
''tadi nyonya ke sini tuan'' jawab fajar
''enggak lu di mana dia sekarang? dan kenapa dititipkan ke kamu? kenapa nggak kamu suruh langsung berikan kepadaku?" Simon bertanya pada fajar
"keluar" belum sempat pacar menjawab app-tirta nya and Simon Simon lebih dulu menyuruh fajar keluar ruangannya.
setelah fajar keluar Simon nampak berpikir
''apa Zahra melihat dia?'' tanya Simon pada dirinya sendiri, Simon memegang kepalanya pusing memikirkan semua ini akhir-akhir ini dia sering mengabaikan istrinya.
''maafkan aku sayang'' ucap Simon
sore hari
Zahra keluar dari kamar mandi, matanya tertuju pada suaminya yang tengah berbaring di kasur sambil menatap dirinya dengan tatapan penuh damba.
lalu Zahra duduk di meja rias, sambil mempercantik diri, Simon bangun lalu mendekati Zahra yang tengah menyisir rambut
"sayang apa kau ingin menggodaku?'' tanya Simon dengan tatapan ingin memangsa istrinya
__ADS_1
tanpa menunggu apa-apa simbol mendekati Zahra lalu menggendong Zahra menuju kasir dan memulai aksinya.
Zahra menatap wajah suaminya yang masih tertidur disampingnya
"aku mencintaimu namun aku tahu lambat laut kau akan meninggalkanku dan kembali pada posisi sebenarnya, seorang pangeran tidak bisa bersama dengan seorang pelayan, karena pada dasarnya pangeran bersanding dengan tuan putri" korban Zahra membelai wajah suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu kecil
merasa ada sentuhan Simon membuka mata, matanya menangkap wajah manis istrinya wanita yang selalu ia cintai.
''ada apa hem?'' tanya si mendengar suara khas bangun tidur, Zahra tidak menjawab ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
sesuai janji Simon malam ini dia mengajak istrinya untuk makan malam bersama, di dalam mobil hanya ada keheningan, Simon memegang tangan istrinya sambil menyetir mobil.
tak lama mobil berhenti di depan restoran yang cukup mewah.
''sudah sampai mari kita turun'' ajak Simon, Simon turun lebih dahulu untuk membuka pintu mobil
senyuman Zahra tidak luntur dari tadi karena perlakuan yang diberikan suaminya begitu manis, walau begitu rasa sakit hati Zahra masih belum terobati.
mungkin aku membencimu, namun bayi yang ada dikandungku ini sepertinya masih menyayangimu
mereka berjalan masukan restoran yang cukup ramai, Simon mempersilakan Sarah untuk duduk, lalu ia mengkode seorang pelayan dan seketika restoran menjadi lebih indah.
dekorasi berubah dalam hitungan detik.
__ADS_1
"wow... indah sekali'' ungkap Zahra