
"kakak" panggil Aiden juga.
Aiden langsung turun dari gendongan Simon, sedangkan simon menatap wajah azka, ia ingat anak kecil ini yang ia lihat di lampu merah, dan juga kakak laki-laki dari adik perempuan yang pernah shiren tabrak.
"maaf om, adik saya mengganggu kenyamanan om" ucap Azka meminta maaf kepada Simon mewakili adiknya
''kakak ajak papa pulang" ucap Aiden pada kakaknya
"Aiden'' panggil Azka dalam artian memperingati adiknya agar tidak berulah
''tapi kak, dia papa kita'' ucapnya sambil menunjuk kearah Simon
sedangkan Simon hanya memperhatikan percakapan kedua anak kecil itu.
perdebatan kecil terjadi diantara kedua anak kecil itu, akhirnya Azka membawa adiknya pergi dari hadapan Simon.
''Aiden kenapa kamu sembarangan manggil orang papa, dia bukan papa kita'' ucap Azka
''iya papa kita kak, aku tahu siapa kita karena aku melihat foto dia bersama mama kita, dan Mama sendiri yang ngomong kalau di apa-apa kita'' jelas Aiden
''jika kakak tidak percaya aku punya buktinya'' ucap Aiden sambil meronggah tasnya
Aiden mengambil foto kecil di tasnya lalu memberikan kepada Azka, naskah menerima foto itu lalu memperhatikan gambar di dalamnya.
itu foto mamanya dan pria itu, dalam foto itu mereka memakai pakaian pengantin, Azka terdiam, kini dia paham kenapa Mama dan papanya berpisah.
Aska menyimpulkan bahwa sampah telah punya wanita lain, karena ia ingat betul waktu adiknya Aira ditabrak oleh pacar laki-laki yang ada di di foto.
__ADS_1
apa karena mama tidak secantik wanita itu, jadi papa meninggalkan mama dan kami? hah.. Mama tetaplah wanita tercantik nomor satu di hatiku batin azka
''Aiden dengerin kakak ya, jangan bilang pada kakak-kakakmu kalau tadi kita bertemu dengan papa'' tutur Azka
''kenapa kak?'' tanya Aiden penasaran
''sudah turuti apa yang kakak katakan saja'' pinta Azka
''baiklah'' jawab Aiden, lalu mereka kembali ke meja makan berkumpul dengan yang lain.
.
.
.
''tunggu'' ucap laki-laki yang baru saja menghampiri mereka.
mereka menoleh secara bersamaan.
''papa'' panggil Aiden
tidak banyak bicara, Simon langsung menggendong Aiden, anak-anak yang lain gulai bingung.
berbagai pertanyaan muncul di kepala mereka namun belum ada yang berani bertanya.
''papa kan pulang bersama kita kan?'' tanya Aiden dengan tatapan berbinar
__ADS_1
simbol mengangguk
''papa?'' tanya arga bingung
''dia apa kita'' ucap Simon.
Arga, Aira, dan Aida langsung menghambur memeluk simon.
Simon menatap haru anak-anaknya.
''pa ayo pulang, Mama pasti senang papa sudah pulang'' celetuk Aira gembira.
tadi setelah Aiden dan Azka pergi, seseorang menghubungi Simon, mengatakan kabar yang tidak pernah Simon ketahui, bahkan orang lain ketahui.
kini kelima anak itu berada di mobil Simon, Simon duduk di kursi penumpang dihimpit keempat anak-anaknya, sebelah kiri kedua putrinya sebelah kanan dua putranya dan Azka duduk di kursi depan samping sopir.
mereka bercanda ria, keempat anaknya begitu antusias pada Simon, bertanya tentang ke mana saja, Simon apa saja yang dilakukan Simon, kenapa sih man tidak pulang-pulang.
berbagai pertanyaan keluar dari mulut anak-anak, dengan sabar Simon menjawab pertanyaan mereka.
tidak lupa mereka juga mengenalkan diri mereka kepada Simon.
sampai di rumah, rumah yang berukuran 5×10 m tempat tinggal anak-anaknya.
Simon menatap sedih, rumah ini tak begitu mewah ini adalah rumah yang sangat sederhana.
putra-putrinya tinggal di sini, kata-kata sesak di dadanya, dia tinggal di tempat yang begitu nyaman, sedangkan putra-putrinya terlantar.
__ADS_1