
kemarahan terberat adalah berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
.
.
.
perasaan Simon semakin tidak tenang, Zahra benar-benar mengacuhkan dirinya.
Zahra melangkahkan kaki keluar kamar berjalan dengan tenang namun tidak ada yang tahu isi otaknya saat ini, jiwanya tengah bertaruh hebat rasa sedih sakit kecewa marah bercampur aduk.
jika Zahra tidak mengingat sosok mungil yang tengah bersemayang di dalam perutnya Zahra akan melakukan hal yang nekat.
sampai di dapur Zahran atap setiap sudut dapur entahlah dia sendiri tengah bingung harus apa.....
"sayang.."panggil Siman tiba-tiba berada di belakangnya
"iya" jawab Zahra sambil menghadap suaminya
"kamu marah? maaf ya'' bujuk Simon
"iya'' laki-laki Zahra hanya menjawab dengan singkat
Simon menatap istrinya dengan wajah mengiba
"sayangggg" renggek simon namun Zahra tidak menjawab
"sebagai permintaan maafku bagaimana kalau 2 hari lagi kita dinner, aku yang siapkan ya?" bujuk Simon
"terserah" laki-laki jawaban Zahra membuat perasaan Simon semakin tidak tenang.
Simon menghela nafas.
.
.
.
keesokan harinya setelah Simon berangkat ke kantor Zahra merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"kenapa rasanya sesakit ini, seharusnya dari awal aku harus kuat membentengi hatiku jika, sudah seperti ini aku sendiri yang merasa sakit" tetesan demi tetesan membasahi pipi Zahra
"sesakit inikah mencintaimu mas?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.
Zahra yang merasa bosan, berdiri menuju balkon kamarnya sambil membawa gitar.
dengan perlahan jari indah itu memainkan setiap senar.
_sebuah rasa_
Aku dihadapkan pilihan
Antara benar dan salah
Aku mencintai kamu
Sangat mencintai
Kamu berjalan bersamanya
Selama kamu denganku
Begitu rumitnya dunia
Hanya karena sebuah rasa cinta
Jadilah aku, kamu, dan dirinya
Berada di dalam dusta yang tercipta
Sepenting itukah cintamu
Kita berawal karena cinta
Biarlah cinta yang mengakhiri
Jadilah aku, kamu, dan dirinya
Berada di dalam dusta yang tercipta
Sepenting itukah cintamu
__ADS_1
Kita berawal karena cinta
Biarlah cinta yang mengakhiri
Mengapakah harus kurasa
Sepenting itukah egomu
Kita berawal karena cinta
Biarlah cinta yang mengakhiri
usai menyanyikan lagu, Zahra duduk terdiam, dengan pandangan kosong, air matanya berhenti untuk mengalir.
hingga suara deringan ponsel terdengar, dengan malas Zahra mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan itu.
"hemm" suara Zahra malas
"ada map yang ketinggalan di ruang kerja ku, bisakah kau mengantarnya kemari, aku sedang sibuk saat ini jadi aku menelpon mu" ujar Simon d sebrang sana
tanpa menjawab Zahra mematikan panggilan itu dan pergi ke ruang kerja suaminya.
matanya tertuju pada map yang ada di lantai
"mungkin ini yang di maksud" monolog nya sambil memegang map warna biru itu.
tiga puluh menit kemudian
sampai di perusahaan banyak sapaan dari karyawan-karyawan karena tahu bahwa Zahra adalah istri dari pemimpin perusahaan ini, maka mereka harus menghormati, walaupun tidak sedikit yang membicarakan soal istri bos mereka yang tidak pantas bersanding dengan pemimpin mereka.
sampai di depan ruangan CEO Zahra tak langsung masuk karena mendengar suara wanita.
"sayang, kenapa sekarang kamu berubah sih nggak kayak biasanya" tanya wanita itu dengan nada manja
deg
"kau menyuruhku datang ke sini untuk menunjukkan ini? kau bilang sibuk, apa ini kesibukanmu mas, bermesraan'' monolog Zahra sembari tersenyum kecut
Zahra menertawakan dirinya sendiri
Zahra lebih memilih pergi dari sana ia menuju ruangan asisten Simon.
__ADS_1
''pagi nyonya'' siapa fajar melihat kedatangan Zahra
"pagi'' balas Zahra