Five Baby Twins

Five Baby Twins
bab 4


__ADS_3

kemarahan terberat adalah berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.


.


.


.


perasaan Simon semakin tidak tenang, Zahra benar-benar mengacuhkan dirinya.


Zahra melangkahkan kaki keluar kamar berjalan dengan tenang namun tidak ada yang tahu isi otaknya saat ini, jiwanya tengah bertaruh hebat rasa sedih sakit kecewa marah bercampur aduk.


jika Zahra tidak mengingat sosok mungil yang tengah bersemayang di dalam perutnya Zahra akan melakukan hal yang nekat.


sampai di dapur Zahran atap setiap sudut dapur entahlah dia sendiri tengah bingung harus apa.....


"sayang.."panggil Siman tiba-tiba berada di belakangnya


"iya" jawab Zahra sambil menghadap suaminya


"kamu marah? maaf ya'' bujuk Simon


"iya'' laki-laki Zahra hanya menjawab dengan singkat


Simon menatap istrinya dengan wajah mengiba


"sayangggg" renggek simon namun Zahra tidak menjawab


"sebagai permintaan maafku bagaimana kalau 2 hari lagi kita dinner, aku yang siapkan ya?" bujuk Simon


"terserah" laki-laki jawaban Zahra membuat perasaan Simon semakin tidak tenang.


Simon menghela nafas.


.


.


.


keesokan harinya setelah Simon berangkat ke kantor Zahra merebahkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


"kenapa rasanya sesakit ini, seharusnya dari awal aku harus kuat membentengi hatiku jika, sudah seperti ini aku sendiri yang merasa sakit" tetesan demi tetesan membasahi pipi Zahra


"sesakit inikah mencintaimu mas?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.


Zahra yang merasa bosan, berdiri menuju balkon kamarnya sambil membawa gitar.


dengan perlahan jari indah itu memainkan setiap senar.


_sebuah rasa_


Aku dihadapkan pilihan


Antara benar dan salah


Aku mencintai kamu


Sangat mencintai


Kamu berjalan bersamanya


Selama kamu denganku


Begitu rumitnya dunia


Hanya karena sebuah rasa cinta


Jadilah aku, kamu, dan dirinya


Berada di dalam dusta yang tercipta


Sepenting itukah cintamu


Kita berawal karena cinta


Biarlah cinta yang mengakhiri


Jadilah aku, kamu, dan dirinya


Berada di dalam dusta yang tercipta


Sepenting itukah cintamu

__ADS_1


Kita berawal karena cinta


Biarlah cinta yang mengakhiri


Mengapakah harus kurasa


Sepenting itukah egomu


Kita berawal karena cinta


Biarlah cinta yang mengakhiri


usai menyanyikan lagu, Zahra duduk terdiam, dengan pandangan kosong, air matanya berhenti untuk mengalir.


hingga suara deringan ponsel terdengar, dengan malas Zahra mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan itu.


"hemm" suara Zahra malas


"ada map yang ketinggalan di ruang kerja ku, bisakah kau mengantarnya kemari, aku sedang sibuk saat ini jadi aku menelpon mu" ujar Simon d sebrang sana


tanpa menjawab Zahra mematikan panggilan itu dan pergi ke ruang kerja suaminya.


matanya tertuju pada map yang ada di lantai


"mungkin ini yang di maksud" monolog nya sambil memegang map warna biru itu.


tiga puluh menit kemudian


sampai di perusahaan banyak sapaan dari karyawan-karyawan karena tahu bahwa Zahra adalah istri dari pemimpin perusahaan ini, maka mereka harus menghormati, walaupun tidak sedikit yang membicarakan soal istri bos mereka yang tidak pantas bersanding dengan pemimpin mereka.


sampai di depan ruangan CEO Zahra tak langsung masuk karena mendengar suara wanita.


"sayang, kenapa sekarang kamu berubah sih nggak kayak biasanya" tanya wanita itu dengan nada manja


deg


"kau menyuruhku datang ke sini untuk menunjukkan ini? kau bilang sibuk, apa ini kesibukanmu mas, bermesraan'' monolog Zahra sembari tersenyum kecut


Zahra menertawakan dirinya sendiri


Zahra lebih memilih pergi dari sana ia menuju ruangan asisten Simon.

__ADS_1


''pagi nyonya'' siapa fajar melihat kedatangan Zahra


"pagi'' balas Zahra


__ADS_2