Five Baby Twins

Five Baby Twins
bab 16


__ADS_3

''apakah kau masih mencintai dia?'' tanya Android pada Zahra


''bagaimana mungkin seorang istri tidak mencintai suaminya'' jawab Zahra sambil meneteskan air mata lagi.


''ku mohon jangan menangis lagi'' cegah Andre, Zahra mendongak menatap wajah Andre


''jika kau menangis hatiku yang terasa sakit'' ucap Andre jujur


''aku lebih suka melihat kegalakan mu dari pada rasa sedihmu'' lanjut Andre, Zahra hanya menunduk tanpa membalas ucapan Andre.


''jika kau butuh teman curhat, aku siap menjadi bahu untukmu'' tawar Andre, lagi lagi Zahra tidak merespon, iya lebih memilih diam tak ingin berbagi masalah kepada orang


''baiklah jika kamu tidak ingin bercerita padaku, tapi kapanpun kalau kamu mau cerita, aku siap menjadi pendengar setiamu'' ucap Andre meninggalkan Zahra.


setelah kepergian Andre, Zahra langsung mengeluarkan unek-uneknya


''kenapa rasanya ini sangat sakit" ucap Zahra sambil memukul dadanya


''hiks....hiks...'' Zahra terus memukul dadanya


.


.


.


"bagaimana hasil penyelidikanmu?'' tanya Simon pada laki-laki yang serba hitam dihadapannya


''jadi yang nyonya besar katakan tidaklah benar, nona Zahra sampai sekarang belum menikah, dan yang kini tengah dekat dengan zahra adalah saudara sepupu anda sendiri'' ucap laki-laki itu

__ADS_1


''ceritakan mengapa Zahra meninggalkanku'' perintah Simon penasaran


''nona zahra meninggalkan anda karena kesalahpaham nona Zahra pada anda yang di duga masih memiliki hubungan dengan nona shiren....... ............" panjang lebar pria itu menjelaskan tentang terjadinya kesalahpahaman waktu di restoran.


Simon menautkan alisnya, iya tampak berfikir keras, ia mencoba mengingat-ingat kejadian itu, sekilas bayangan muncul, Zuhra tengah menampar pipi Sherin.


hingga bayangan tentang dia mengejar Zahra.


''huhhhh....'' keringat Simon bercucuran


''tuan baik-baik saja?" tanya pria misterius itu


Simon mengangkat tangan sambil mengangguk, seolah mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.


''keluarlah'' perintah Simon, tanpa banyak tanya pria misterius itu langsung keluar.


''Zahra sayang maafkan aku'' guman Simon sambil memejamkan mata


Simon mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang


''cari keberadaan istriku, aku tahu dia berada di sekitaran sini'' perintah Simon pada seseorang di seberang sana.


.


.


.


hari ini Azka memimpin adik-adiknya untuk berjalan dengan teratur memasuki restoran untuk makan siang, seperti biasa habis pulang sekolah mereka mampir makan siang terlebih dahulu, bukan karena Zahra tidak bisa memasak, namun ini inisiatif dari anak-anak agar tidak merepotkan mamanya.

__ADS_1


''Arga, Aira, Aida, Aiden kalian duduk dengan tenang lah di sini kakak mau pesan makan nanti dulu'' perintah Azka pada adik-adiknya, seluruhnya menuruti perkataan kakak mereka.


''iya kakak'' jawab mereka serempak


setelah Aska pergi mata Aiden manajam melihat sosok yang sangat ia kenali, iden berdiri dan menghampiri laki-laki dewasa itu tanpa memperdulikan pertanyaan dari saudara-saudaranya.


''aiden kau mau kemana?" tanya Aira


''Aiden nanti kak marah jika kau pergi'' peringatan arga


Aiden lari kearah laki-laki dewasa yang sedang berjalan ke arah ruangan lain, yang mana saudara-saudara Aiden tidak melihat.


''papa..... kita bertemu lagi'' panggil Aiden pada laki-laki itu


dia adalah Simon, Simon menatap anak kecil yang baru saja memanggilnya dengan sebutan papa.


Simon menghela nafas.


''kamu lagi, sudah berapa kali aku katakan aku bukan papamu'' jelas simon


aiden seolah-olah tuli


''papa aiden rindu, ayo pulang'' ajak Aiden merengek


''hemmmm.... anak kecil kau tidak bisa terus-terusan memanggil orang lain papa'' tutur Simon


''papa ayo pulang, Aiden rindu papa, mama juga rindu papa, ayo pulang, Aiden tidak butuh mainan banyak....hiks...hiks... Aiden kasihan Mama, Mama setiap hari menangis karena merindukan papa'' ucap Aiden panjang lebar dengan mata yang mulai mengembun


Simon menatap wajah anak kecil di hadapannya ini, ada rasa tidak tega di hati Simon, entah kenapa tiba-tiba dia ingin menggendong anak kecil di hadapannya ini.

__ADS_1


entah secara sadar atau tidak Simon mulai mengangkat tubuh anak kecil itu.


''aiden'' panggil bocah seumuran dengannya


__ADS_2