
''mama, kami pulang'' ucap mereka serempak
''iya sayang yang'' teriak Zahra dari dalam sana
deg deg deg
jantung Simon berdetak dengan kencang, mendengar suara orang yang selama ini ia rindukan.
Zahra menggerakkan ban kursi rodanya
mata Zahra melebar.
deg deg deg
''Simon?'' beo Zahra
''Zahra'' panggil Simon juga, lalu simpan mendekati Zahra
belum sempat ia mendekati Zahra untuk melepas rindu Zahra sudah lebih dulu mengangkat tangan
''berhenti'' perintah Zahra
''Azka bawa masuk adik-adikmu'' perintah Zahra pada anak pertamanya
''ayo masuk'' ajak Azka
''tapi kak, aku masih mau sama papa'' ujar Aida
''sudah ayo'' perintah Azka tidak mau dibantah, Azka langsung menarik tangan mereka walaupun mereka sedikit memberontak namun masih menuruti perintah kakaknya.
suasan hening ruangan itu kini tinggal ada Simon dan Zahra yang sama-sama terdiam.
''untuk apa kau kemari? ha?'' tanya Zahra marah
''zahra say....'' belum sempat Simon meneruskan ucapannya Zahra sudah memotong
__ADS_1
''jangan pernah memanggilku sayang dengan mulut kotormu itu'' teriak Zahra
''menjijikan, semua wanita kau panggil sayang ha?'' ucap Zahra menggebu-gebu
''tidak ada yang ku panggil sayang selain dirimu Zahra'' bantah simon
''hah, kau pikir aku percaya?'' tanya Zahra sinis
''zahra'' panggil Simon memelas
''Zahra, mereka anak-anak kita kan?'' tanya Simon memastikan
''tidak, mereka bukan anakmu, mereka anakku'' bantah Zahra
''kau tidak bisa berbohong Zahra'' ucap Simon
''mereka bukan anakmu, aku yang melahirkan mereka'' ucap Zahra
''namun pada kenyataannya mereka anak kita'' ucap simon
''Zahra kenapa kau meninggalkanku sendiri, kau tahu aku mencarimu seperti orang gila, 7 tahun mencari kesana kemari, tanpa petunjuk apapun''
Simon menekuk lutut, menghadap Zahra kedua tangannya membelai wajah Zahra.
tidak dapat dipungkiri Zahra juga merindukan belaian ini.
''Zahra aku merindukanmu'' ucap Simon dengan mata yang sudah memanas
''aku ingin kembali bersama seperti dahulu, dan bersama anak-anak kitab sekarang'' ungkap Simon
''aku tidak bisa kembali denganmu, pergilah'' ucap Zahra mendorong Simon
''kenapa sayang?''
''kita masih bisa mempertahankan hubungan kita!'' seru Simon
__ADS_1
''sudah ku katakan sebuah hubungan bisa dipertahankan apapun masalahnya, namun tidak dengan perselingkuhan, sekali selingkuh akan terus seperti itu'' tutur Zahra
''sayang kamu salah pah......''belum selesai Simon berkata
''salah paham? salah paham seperti apa yang kau maksud, semua sudah jelas jika kau selingkuh.'' teriak Zahra sambil menunjuk wajah Simon
''sayang dengarkan penjelasanku dulu'' bujuk
''pergi'' ucap zahra dengan menutup kedua telinganya, dia tidak ingin mendengarkan apapun penjelasan dari simom, baginya Simon tengah membual.
''aku tidak mau mendengarkan semua alasanmu, aku muak, pergi kau dari hadapanku'' teriak Zahra
''Zahra sayang, aku tidak pernah menghianatimu, sayang percayalah!'' bujuk Simon meyakinkan Zahra
''PERGI!!!!!!!!'' kali ini suara Zahra diiringi getaran tangis
''baiklah aku akan pergi, tapi aku akan kembali, pikirkan semuanya dengan kepala dingin anak-anak butuh kita berdua Zahra'' ucap Simon mengalah
aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi Zahra sudah cukup 7 tahun kita berpisah batin Simon
saat Simon hendak pergi anak-anak berbondong-bondong keluar menemui Simon
"papa mau ke mana lagi?'' banyak iden lalu Simon mendekati anak-anaknya
''papa harus pulang sayang'' jawab Simon
''aku mau ikut papa, aku tidak mau ditinggal papa lagi'' ujar Aida lalu Simon tersenyum
''anak-anak kalian tidak boleh ikut dia'' ucap Zahra
''tapi kenapa ma?'' tanya Aiden dan Arga secara bersamaan
''kalian semua harus ikut mama'' tintah Zahra
''tidak, kami mau sama papa, selama ini kami selalu merindukan papa, dan mengharap papa pulang''ucap arga
__ADS_1
air mata Zahra tumpah, dia sangat terpukul mendengar penuturan anak-anaknya yang lebih memilih bersama Simon daripada dirinya.