Five Baby Twins

Five Baby Twins
bab 28


__ADS_3

tidak ada yang lebih menyenangkan lagi ketika di hari Minggu berkumpul bersama keluarga dan pergi berlibur.


seperti yang dilakukan oleh Simon, Simon mengajak istri dan anak-anaknya untuk pergi ke ke mall kota, menyenangkan hati mereka sambil bermain-main.


Simon mengajak anak-anaknya untuk bermain di mall, berbagai permainan dan di mainkan anak-anaknya, tanpa memperdulikan pengeluaran.


bagi simon kebahagiaan keluarganya sangatlah penting, seharian penuh mereka bermain, hingga sore tiba, lalu mereka lanjutkan ke taman kota


duduk di atas tikar sambil menikmati senja di sore hari dengan minuman dan cemilan yang berada di tengah-tengah mereka.


''mama, aku ingin makan es krim itu'' minta Aiden sambil menunjuk pedagang yang ada di seberang jalan sana.


''biar papa yang belikan'' tawar Simon


''tidak perlu biar aku saja, kamu jaga anak-anak dengan baik ya'' cegah Zahra


Zahra berdiri


''aku pergi sayang, jangan lupa jaga anak-anak'' pamit Zahra


''ya sayang, hati-hati ya sayang..'' ucap simon perhatian


Zahra tersenyum lalu mengangguk


sekitar 10 menit Zahra tidak kunjung kembali, karena es krimnya cukup ramai terlihat dari tempat duduk mereka.


''papa susul Mama dulu ya'' pamit Simon


''aku ikut'' ucap Azka.


''aku juga'' sahut Aiden


Simon tersenyum untuk pertama kalinya azka berbicara dengan nada santai pada dirinya.


''kalian bertiga tunggu disini ya'' peringatan Simon.


''iya pah'' ucap ketiganya persamaan


Simon menggandeng Aska dan Aiden sementara anak-anak yang lain masih tetap duduk menikmati cemilan.


simon dan kedua anaknya berdiri di pinggir jalan hendak menyebrang, dan di seberang sana Zahra melambaikan tangan pada ketiga orang itu.


''haiiiii'' teriak Zahra antusias sambil melambaikan tangan.


jalanan sedikit lenggang.


Zahra menyeberang jalan, dengan senyuman yang tidak lentur, tanpa mereka sadari sebuah mobil melaju dengan kencang.


brakkkkkk


Simon dan kedua putranya, menyaksikan sebuah tragedi yang baru saja terjadi dengan tatapan kosong.


kesadaran hilang di diri mereka bertiga, ketika semua orang panik ketiga laki-laki itu mematung dengan pikiran melayang menatap tubuh Zahra yang penuh dengan darah.


.


.


.


''lakukan apapun, yang penting istri ku selamat'' teriak Simon pada dokter laki-laki itu

__ADS_1


''tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir berkehendak lain, istri anda tidak dapat di selamatkan'' jelas dokter itu dengan perasaan bersalah.


buggg


tubuh Simon merosot ke bawah


''tidakkkkk'' tolak Simon sambil menggeleng kepala tidak terima.


''katakan semua ini hanyalah mimpi'' ucap simon menolak kenyataan.


tetesan Air mata tidak dapat dicegah, tak perduli orang memandang dia seperti apa, saat ini Dunia Simon benar-benar hancur.


saat jenazah Zahra di bawa keluar dari ruang operasi, Simon langsung berdiri menghampiri keranjang.


''sayang....''panggil simon dengan derai air mata


''sayang bangun''


''jangan bercanda, ayo bangun''


''kamu pasti sedang bercanda kan?''


orang yang melihat adegan ini ikut berduka, para pengunjung rumah sakit ikut meneteskan air mata, tak kuasa melihat reaksi simon.


''sayang...ayo bangun...hiks...kita rawat anak-anak kita bersama''


''ZAHRA SAYANG.... KENAPA KAU MENINGGALKANKU SENDIRI'' teriak simon


lalu seseorang memeluk Simon, dia adalah tuan derandra.


''simon'' panggil tuan derandra sembari melenggangkan pelukan


Simon menghadap ke arah tuan derandra


bagai anak kecil yang mengadu pada orang tuanya karena kehilangan sesuatu, namun ini jauh lebih menyakitkan.


seseorang yang akan menemaninya seumur hidup kini telah meninggalkan dia.


tak ada yang lebih menyedihkan di banding kehilangan pasangan yang sangat kita cintai.


.


.


.


di pemakaman umum


''zahra... kenapa kau meninggalkanku, kita baru saja bertemu sayang'' ucap Simon saat pemakaman telah selesai


semua orang telah pergi, tinggal tuan dan nyonya derandra yang masih menunggu putranya.


''takdir seperti apa ini Tuhan, tidak cukupkah kau telah memisahkan ku dan dia, sekarang kau ambil dia?''


tiba-tiba seorang pria paruh baya datang menghampiri makam Zahra dengan derai air mata.


kakinya melemah seolah tidak memiliki daya, dunianya berputar-putar melihat dengan mata kepalanya sendiri batu nisan itu bertulis nama Putrinya.


laki-laki itu merosot dan langsung memeluk batu nisan.


''khaaaa......''tangisnya pecah

__ADS_1


''putriku.....'' teriaknya


''kenapa kau meninggalkanku secepat ini, bahkan ayah belum sempat memberikanmu kebahagiaan''


''Tuhan.... kembalikan putriku haaaaaa''


''kembalikan putriku'' teriaknya diiringi tangis yang begitu memilukan


''kembalikan''


''bahkan aku belum sempat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi''


''putriku bangunlah aku akan menjelaskan pada mereka, agar mereka tidak terus menghindar kita'' ucap laki-laki baru pakai itu seakan sedang membujuk putrinya agar bangun


laki-laki itu berdiri menghadap ke arah tuan dan nyonya derandra.


''tuan nyonya, akan aku jelaskan semuanya, dia Putriku yang sah di mata agama, dia Putriku dari istri pertama ku yang kau anggap sebagai pelakor''


''ya mungkin aku tidak memiliki bukti karena semua bukti telah dilenyapkan oleh adikmu, tapi akan jelaskan kembali, bawa seluruh kejadian di masa lalu adalah rencana licik adikmu''


''nyonya, andai saat itu kau tidak percaya dengan permainan licik adikmu، semua ini tidak akan pernah terjadi, andai kau mempercayai penjelasan ku saat itu, aku tidak akan pernah menikahi adik mu'' jelas laki-laki itu


dia adalah tuan Juan, laki-laki yang di jebak oleh adik perempuan nyonya derandra atas nama Cinta, di saat dia telah memiliki istri dan anak perempuan.


.


.


.


di sisi lain.


seorang anak kecil dengan tatapan lurus ke depan, melihat satu objek foto yang tepat berada di hadapannya.


flashback sebelum pemakaman


''hiks...mama, bangun''


tangis anak-anak bersautan.


tangisan anak-anak terdengar memilukan, menyayat hati setiap orang yang mendengar, kelima saudara kembar itu tak henti-hentinya menangis, ketika mendengar ibunya telah tiada.


Aska berdiri, ia hendak pergi ke suatu tempat, entah mengapa kakinya ingin melangkah ke suatu tempat.


lalu sedikit terdengar samar suara wanita sedang teleponan.


''kerja bagus'' wanita itu pada sosok di seberang sana


''akhirnya wanita licik itu mati juga'' ucap wanita itu senang


''baiklah aku akan mentransfer uangnya, tenang saja'' ucapnya lalu mematikan telepon


dia adalah nyonya derandra.


sambil tersenyum ia berkata


''zahra Carlos, akhirnya kau bisa ku singkirkan, setelah sekian lama'' ucapnya tanpa sadari ada seseorang yang mendengarkannya.


flashback end


Azka, dengan tatapan tajam mengarah pada gambar nyonya derandra, dengan tangan yang mengepal sebuah tekad yang sudah ia siapkan.

__ADS_1


''aku Azka putra sulung dari Zahra, akan ku pastikan pembalasan ini sangatlah menyakitkan'' sumpahnya pada dirinya sendiri


-------------------TAMAT----------------------


__ADS_2