FORMUISIKA

FORMUISIKA
20-Heee!


__ADS_3

Hmmm...


Hmmm...


Ada yang aneh, kenapa sepertinya ada yang kurang ?


Tapi apa ya ?


Satu, dua, tiga...


Ah, aku ingat sekarang !


Anak itu sudah lama tidak menampak dirinya. Di kelas, di ruang klub, lapangan bola, bahkan di sepanjang jalan aku tak menemukan sehelai rambutpun darinya.


Siapa lagi kalau bukan si jenis Aon.


Sudah lama aku tak melihatnya akhir-akhir ini.


Tugas proyek kami pun masih belum selesai.


Sudah beribu kali menghubunginya, tidak ada satu balasan pun yang aku terima.


"Hey para Homo sapiens, apakah kau melihat rabbit albino selama seminggu ini ?"


"Sorry Honey, Aku tidak ada bertemu dengannya." jawab Frans sambil memberikan hidangan ala jepang kepada ku.


"Hmmm... mungkin dia lagi sakit kut." ujar Elanda sambil berselfi.


Itu aneh.


Jika dia benar-benar sakit, dia pasti akan mengabariku tentang tindak lanjut pengerjaan proyek kami ini.


Tak lama masuk seseorang dari pintu.


Dia adalah di ahli fitness yaitu Win.


Terpancar senyuman cerah dari wajahnya itu.


Bagaikan seseorang yang baru mengeluarkan feses.


"Wow Brother, you come back !" sapa Frans.


"Ah iya, Frans."


"Wajah atletis " sahut Elanda sambil berselfie dengan Win.


Aku pun datang menghampirinya.


Ku amati dirinya dari ujung frontal sampai ujung metatarsalnya.


Benar-benar mencurigakan sekali.


"A... kenapa kamu menatapmu seperti itu Horou ?" tanya Win sedikit canggung.


"Tolong jelaskan, kenapa tulang maximus mu terlihat begitu berbeda hari ini ?"


"Anu... itu rahasia." jawabnya dengan senyum yang bahagia.


"Kau tau Oryctolagus cuniculus sudah seminggu tidak terlihat."


"Hmm... maksudmu ?"


"Ha... Aon, dia sudah lama tidak terlihat. Apa kau sesuatu ?"


Tiba-tiba dia terdiam.


Ekspresi yang mulanya cerah, kini menjadi mendung.


Dia mengalihkan pandangan dari ku.


Seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan dari ku.


"Kenapa ? Apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian ?"


"Anu..."

__ADS_1


Dia terlihat gelisah.


Gerak-geriknya sangat mencurigakan.


Seperti rubah yang bersembunyi dibalik jubah


"Kenapa Win ?" aku terus mendesaknya dengan pertanyaan sama berulang kali.


"Aku... aku..."


Ya...


Ya...


"Aku mau ke kamar mandi dulu Horou, nanti aku jelaskan !" jawabnya sambil berlari terbirit-birit.


Dari arah kamar mandi dia berada.Terdengar suara bom meledak disertai bau yang menyengat.


Euuu... itu menjijikkan sekali.


Beberapa saat kemudian muncul seseorang dari pintu.


Dia tidak lain adalah orang yang eksis dan dipuja pada waktu dilapangan bola itu.


Park Kitti.


"Oy, oy, kenapa kau berada disini ?" tanya Frans.


"Yee... Senior Park sudah disini." sambut Elanda dengan bahagia.


"Apa maksudnya ini Elanda ?"


"Mulai sekarang Pak Kitti adalah bagian dari Formuisika."


"Hee....! "


Semua terkejut, bahkan suara dari Win dari kamar terdengar hingga ke ruangan klub.


Oh my god.


Aku terbaring diatas meja ku yang berantakan.


Semua hampa, kosong dan gelap.


Air mataku masih terus keluar.


Tak terbendung rasa sedih yang menyayat hati dari apa yang terjadi sewaktu itu.


Ku pandang-pandang jendela.


Terlihat burung berterbangan diatas langit.


Pergi menjauh seperti diriku yang dijauhi oleh dirinya.


Tak rumus yang bagus untuk memecahkanya.


Pikiran ku buntu seperti usus buntu yang masih belum diketahui fungsinya sampai saat ini.


Aku hanya bisa menatap serpihan kertas itu.


Dengan perasaan yang marah bercampur sedih, aku mengambil sepihan itu dan membuangnya ke luar jendela kos.


Aku pun terbaring diatas kasur sambil berusaha memejamkan mataku.


Tok, tok, tok.


Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarku.


Aku berusaha untuk menghiraukanya dan terus berusaha tidur.


Tapi...suara ketukan itu semakin keras dan membuatku sangat kesal. Akupun bangun dari tempat tidurku dan beranjak ke pintu itu sambil membuatnya dengan emosi.


"Siapa sih ! mengganggu saja !" teriak ku dengan nada marah.


Oh tidak...

__ADS_1


Seketika nyaliku ciut melihat sosok yang ada dihadapkan ku sekarang.


Siapa lagi kalau bukan bu Te si ratu emak-emak garang pemilik kos ini.


"Oh sudah mulai melawan kamu ya !" bentak bu Te dengan marah.


"A-anu, ma-maaf bu Te. Saya tidak ka-kalau itu bu Te"


"Sebagai permintaan maaf, kamu ikut saya !" tegas bu Te sambil menarik telinga ku kebawah.


Hedeh...


Aku terpaksa harus membersihkan halaman kos ini.


Harusnya aku tak bersikap seperti itu tadi.


Tapi siapa sangka kalau itu ternyata bu Te.


"Sedang apa kamu ?" tanya bu Te tiba-tiba muncul.


"A-anu... ini lagi nyampu-nyapu bu Te" jawabku dengan panik.


Wanita itu berjalan kearah sebuah kursi dan duduk siarannya. Kemudian dia mengambil koran dan mulai membacanya seperti bapak-bapak.


"Kenapa kamu tidak kuliah ?"


Aku terdiam dan kaget dengan pertanyaan dari bu Te.


Aku pun mengambil nafas dan menjawabnya dengan tenang.


"Anu.. Aon hanya ingin beristirahat saja bu Te hehehe."


"Kamu serius ?"


Tatapan bu Te semakin tajam seolah dia menunjukkan rasa ketidak percayaan kepada diriku ini.


"I-iya bu Te"


"Hmm...pantas saja sikap tadi seperti itu. Pasti karena terlalu stres dalam belajar."


"Ha-haha, i-iya bu Te."


"Nak Aon, bu Te pesan jangan sering-sering libur kuliah kasihan orang tua mi nak yang sudah bersusah payah untuk mu."


Sejenak aku berhenti menyapu dan memandang ke arah bu Te.


"Jika kamu ada masalah, jangan biarkan masalah itu menghalangimu. Kamu punya hak untuk memperjuangkan apa yang ingin kamu lakukan dan apa yang kamu."


"Bu Te... "


"Jadi bu Te mau besok nak Aon pergi kuliah lagi ya."


"Ba-baik bu Te."


Mata ku berkaca-kaca mendengar perkataan bu Te.


Tidak seharusnya aku melakukan hal seperti.


Harusnya aku tegar dan kuat dalam mengatasi masalah yang kuhadapi sekarang.


Tiba-tiba rambut ku naik. Ini artinya...


"Aku menemukan formula yang tepat !"


Aku pun mau menyapu kembali, tapi tiba-tiba sapu itu hilang dari genggaman tanganku.


"Nak Aon !"


Aku pun membalikkan badan sambil menelan air ludah dan melihat kebelakang. Ternyata oh ternyata...sapu yang ku pegang tadi terlempar ke arah bu Te saat mengucapkan kata-kata tadi.


"Kesini kau !"


"Ampun bu Te !"


Aku pun berlari secepat mungkin untuk melarikan diri dari amukan bu Te yang ganas.

__ADS_1


__ADS_2