
Pagi hari yang indah, serbak bau rerumputan hijau nan wangi yang sedang dipotong oleh petugas kebersihan. Ku kuatkan mata yang terpejam bagai lem yang merekat pekat. Aku juga harus bersiap lagi untuk menghadapai tantang hari ini layaknya siklus api abadi yang berlangsung.
Ku langkahkan kaki menuju jalan keluar kamar dan berangkat kakampus. Ku perhatikan kiri dan kanan melihat kondisi sekitar. Perasaan ku masih belum aman karena cemas akan pengguntit yang mengikuti ku.
Tarik nafas terus keluarkan, tenangkan pikiran dan terus melangkah. Semua akan baik-baik saja selama aku tetap tenang dan terus memperhatikan. Terlihat seorang nenek ingin kesebrang jalan, aku dengan suka hati membantunya untuk melawati jalanan. Senyum manis rasa terima kasihnya membuat ku sesaat lupa dengan perasaan ku tadi.
Teet! Teet! Teet!
Suara mobil keras mengejutkan ku. Ku lihat kebelakang dan terlihat mobil putih bagus. Seorang keluar dari dalamnya dengan tampilan keren dan modis.
"Senior Park kamu keterlaluan, kamu bisa membuat ku serangan jantung." keluh dengan wajah yang mengerutu.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat mu terkejut walaupun sedikit" katanya dengan nada jahil yang mengganggu.
"Bruh, senior jangan menyebalkan begitu dong, aku ini lagi cemas tahu !"
"Benarkah ? tapi yang ku lihat hanyalah senyuman manis mu yang mengemaskan tadi." kedua tangannya meremas kedua pipi ku dengan kuat.
"Sakit, hentikan senior." Dia melepaskan kedua tanganya dari pipi ku yang sudah dibuat merah.
"Sekarang cepat masuk, kita tidak ingin kamu sampai ketahuan dari Bright."
"Ngomong-ngomong soal Bright, akhir-akhir ini kita tidak pernah bertemunya lagi." Sejak suasana terasa hening dan diam.
"Hmm... aku rasa juga begitu."
"Apakah terjadi sesuatu pada dia ?"
"Kalau begitu sebaiknya kamu hubungi dia sekarang. "
"Kurasa tidak perlu setidaknya aku sekarang bisa merasa aman." Aku mengatakan hal yang bertentangan dengan hati ku.
"Ah... sebaiknya kita segera pergi, kamu tidak ingin terlambat bukan."
__ADS_1
"Oh iya aku hampir, ayo senior. " Kami pun berangkat menuju kampus.
Di dalam kelas, isi kepala ku penuh dengan rumus rumit yang memikirkan keberadaan dari Bright. Aku merasakan hal ganjal, aku yakin pasti terjadi sesuatu padanya atau ada yang dia rencanakan sehingga membuat belenggu hati ku terasa sesak. Aku harus bertanya kepada orang yang disambung ku tentang orang itu. Tapi aku ragu untuk menanyakan padanya.
"Kamu mencari Bright ?"
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Gadis satu ini benar-benar seorang cenayang yang tahu apa yang ku pikirkan. Aku merasa malu dan canggung harus bertindak apa. Karena aku tahu jika berurusan dengnya dapat menambah masa perpanjangan masalah ku seperti masa perpanjangan paket.
"Tidak, tidak juga." Ucap ku sambil memalingkan wajah ku dari dirinya.
"Benarkah ? Homo sapiens seperti kalian ini selalu saja membuat orang sekitar kehilangan alogaritmanya."
Aku masih memalingkan wajah ku dan berpura-pura memperhatikan profesor Annis menjelaskan didepan kelas. Tapi aku tetap mencuri dengar karena biasanya dia selalu cepu kalau berbicara.
"Aku heran sama kalian berdua selalu saja bertengkar tidak jelas." Tetap tenang biarkan dia terus bicara.
"Aku tadi lihat.... " Ayo cepat katakan saja, aku benar-benar penasaran.
"Bagian komponen untuk alat kita nanti jadi aku ingin kamu membelinya nanti."
"Kamu dengar tidak !" bentak gadis itu dengan lantang kepada ku.
"Eh i-iya Horou."
Siang itu di ruangan klub hanya ada aku dan wanita maniac selfie, Elanda disini. Aku sedikit lega karena tidak ada tanda-tanda bahaya dari manapun karena Senior Park Kitty dan Win sedang ada kegiatan kuliah hari ini sehingga tidak bisa bersama ku. Setidaknya saat ini aku harus meneruskan proyek ku dan Horou saat.
Periksa sana, periksa sini aku memperhatikan alat yang aku buat. Oh tidak aku kepikiran lagi tentang dia lagi. Pandangan ku tertuju pada Elanda yang tiba-tiba tertawa keras seperti speaker rusak. Konsentrasi terganggu ku terganggu, segera aku mendekatinya dan menegurnya.
"Hey Elanda, kamu berisik sekali !"
"Ups, maaf Aon." sambil membentuk pose maaf yang manja terhadap ku.
"Memangnya kamu tertawa karena apa sih ?"
__ADS_1
Gadis itu kemudian menunjukkan sesuatu dari ponsel dan terlihat foto kami bersama. Foto itu di edit oleh dia dan terlihat sangat aneh. Tapi sepertinya ada satu yang terlihat mengeletik perut ku dan membuat ku tertawa.
"Kamu tertawakan... hehehe."
"Cukup jangan tunjukkan pada ku foto itu lagi."
Gadis itu mengajukan jempol dan kembali melihat ponselnya lagi. Huuh... itu sedikit membuat ku tenang tapi kembali kambuh lagi karena menggingat orang itu didalam foto. Aku kemudian mencoba untuk fokus kembali untuk menyelesaikan alat ini. Hmm... sepertinya ada yang kurang, Ah itu dia!
"Opa Bright kemana ya sudah lama tidak lihat kesini"
Konsentrasi ku kembali buyar dan campur. Aku juga lupa dengan apa yang kupikirkan tadi. Gadis ini benar-benar mudah mengacaukan pikiran ku seperti benang kusut yang susah digulung kembali. Memancing kembali pikiran ku pada orang itu lagi.
"Neh Aon, Kamu selalu bersama Bright kira-kira dia tahu kemana dia ?"
Tahan Aon, kamu harus bisa menahan ini. Jangan kepancing dengan wajah tanpa dosa dari gadis. Mungkin dia lupa atau bagaiamana dengan kondisi hubungan ku saat ini bersama Bright. Ku balas dengan wajah senyum palsu yang penuh emosi pada dengan bilang kata.
"Tidak !"
"Itu aneh bukanya kalian selalu bersama baik itu pergi, pulang, bermain, bernyanyi, mandi, ...."
Stop, stop, Stooooop !!!
Aku tidak tahan lagi, aku langsung berdiri dan pergi dari sana sambil bilang "Aku mau pergi dulu untuk beli perlengkapan penelitianku !". Gadis itu hanya pelangga plonggo melihat ku pergi dan lalu kembali melihat ponselnya lagi.
Ah aku kesal sekali harus di ikuti bayang-bayang darinya. Pikiran ku sangat kacau sampai tidak rumus formula dibenak ku. Tanpa ku sadari menabrak seseorang sampai membuat ku.
Ketika aku melihat orang itu, aku sangat terkejut dengan sosok orang itu. Di-dia Bright, keringat dingin bercucuran dari badan ku. Aku tak berani menatapnya dan mengalihkan pandangan ku. Dia mengulurkan tangan pada ku dan itu membuat ku sedikit canggung dan takut.
"Maaf, Kak saya tidak sengaja."
Suara yang terdengar asing sekali, tidak sama dengan dirinya yang sombong. Aku kemudian melihat kearahnya dan tidak mengedipkan mata ku beberapa kali.Ternyata itu bukan dia, aku benar-benar sudah dibutakan oleh rasa takut ku sendiri. Fokus, aku harus segera pergi membeli perlengkapan untuk alat penelitian ku !
Di tempat toko yang ditunjukkan oleh Horou, aku berkeliling dan melihat perlengkapan yang ada disana. Benar-benar bagus dan berkualitas, kadang gadis itu menemukan sesuatu yang bermanfaat seperti ini. Aku pun kembali menggecek kebutuhan alat yang kurang dari alat kami.
__ADS_1
Ketika melihat kearah lain, aku kembali melihat dia kembali. Aku segera bersembunyi di balik rak. Sambil menarik nafas aku kembali mengedipkan mata ku dan melihat kembali. Orang itu sama sekali tidak berubah, aku kembali mencubit dan menampar diri agar bisa menyadarkan ku di ilusi ini. Ku tatap kembali hasilnya tetap sama.
Ti-tidak salah lagi, dia yang asli bukan kw an atau bayangangan. Degupan jantung ku semankin cepat, ketika orang itu melihat dan berjalan kearah ku. Tapi mengapa dia bisa sampai disaat seperti ini !